
...HAPPY READING...
...:...
...----------------...
Tubuh ringkih Alanaka terbaring dikasur kecil miliknya, tubuhnya masih berlumuran darah bahkan darahnya sudah kering. Berjam-jam Alanaka tubuh ringkih Alanaka hanya berbaring tanpa ada bergerak, bahkan matanya masih saja tertutup tidak ingin terbuka.
Wajah kurus milik Alanaka terlihat seputih kapas, tidak terlihat seperti wajah pada umumnya yang masih dialiri darah. Kali ini wajah Alanaka bisa disandingkan dengan mayat.
Tidak ada lagi orang yang mengunjungi kamar Alanaka, setelah Nexlon menjadi pengunjung terakhir. Entahlah itu terjadi karena apa, sepertinya tidak ada orang yang kasihan pada keadaan Alanaka.
Tanpa ada sebab dan penyebab. Tiba-tiba tubuh Alanaka terkejang-kejang.
Duar
Duar
Dan tiba-tiba juga petir menggetarkan bumi, di iringi hujan lebat membasahi bumi. Mungkin alam sedang merasa kasihan pada keadaan Alanaka, hingga alam menurunkan petir dan hujan untuk menghilangkan kesunyian dalam tidur nyenyak Alanaka.
Brak
"ALANAKA." Bibi Leni datang dengan di iringi teriakan panik. Kepanikan dalam diri Bibi Leni semakin menjadi-jadi saat matanya menangkap pemandangan tubuh Alanaka yang sedang kejang-kejang.
"HEI NAKA AYO BANGUN. "Bibi Leni mengambil inisiatif memukul-mukul pipi Alanaka. Tapi tetap saja, tubuh Alanaka tidak merespon justru malah tetap kejang-kejang.
"Naka ini Bibi ayo bangun... " Bibi Leni mengubah cara bicaranya dengan selembut mungkin. Bibi Leni ingin suara lembutnya ini menembus alam bawah sadar Alanaka.
"Naka ayo bangun. "
"Naka... "
"NAKA AYO BANGUN! INI PERINTAH NAKA!!!"
Bibi Leni yang merasa keadaan Alanaka sudah tidak beres. Dia bergegas keluar dari ruangan, berlari dengan menembus hujan lebat dan gelapnya malam hanya ingin menghampiri pengawal-pengawal yang sedang berjaga dipintu masuk mansion.
"PENGAWAL-PENGAWAL." dalam larinya
menghampiri para pengawal Bibi Leni berteriak.
"Ada apa Bibi? Kenapa berteriak? " tanya seorang pengawasan yang emang seseorang yang ramah.
"Alanaka! Kalian tau dia bukan?! Saat ini tubuhnya kejang-kejang. " Bibi Leni berbicara dengan nada panik.
"Bagaimana bisa Bibi? " tanya pengawal itu dengan sedikit terkejut.
" Tadi sore tubuh Alanaka terjatuh dari lantai dua ke lantai satu. Saat aku ingin membawanya ke rumah sakit Tuan Muda melarang ku! Dan menyuruhku untuk membawanya ke kamarnya saja dan memberikan pengobatan seadanya, saat aku menyarankan kepada Tuan Muda untuk memanggil dokter Tuan Muda tidak merespon ucapan ku. Bahkan memerintahkan seseorang pengawal untuk mengusir ku yang pada saat itu berada dikamar Alanaka... "
"... Tidak cukup sampai disitu Tuan Muda memberikan perintah kepadaku untuk tidak menjenguk keadaan Alanaka bahkan jika itu sekalipun. Awalnya aku tidak berani membantah perintah Tuan Muda, akan tetapi mengingat keadaan Alanaka sedang kritis dan petir serta hujan datang secara tiba-tiba. Aku memberanikan diri untuk menjenguk keadaan Alanaka, namun saat membuka pintu aku menemukan tubuh Alanaka tiba-tiba kejang. "
"Astaga" mendengar penjelasan Bibi Leni pengawal tersebut beserta pengawal-pengawal lain terkejut dan merasa kasihan. Apalagi Alanaka merupakan istri sang Tuan. Dan bukankah jika seorang istri sedang mengalami masa kritis, sang suami akan berusaha memberikan semua hal terbaik agar bisa sang istri sembuh?!
"Bagaimana bisa wanita itu terjatuh dari lantai dua ke lantai satu Bibi? " pengawal tersebut bertanya dengan rasa penasaran tinggi.
"Aku kurang tau. Tapi sepertinya Tuan Muda mendorongnya. "
"Ayo cepat bantu aku untuk membawa Alanaka ke rumah sakit! . Saat ini bukan waktunya membahas kajadian" akhirnya Bibi Leni teringat dengan tujuan sebenarnya.
"T-tapi Bibi" pengawal tersebut berkata dengan nada takut serta kasihan. Begitu juga pengawal-pengawal yang lainnya. Di satu sisi pengawal-pengawal tersebut takut pada hukuman yang diberikan sang Tuan Muda, apalagi Bibi Leni sempat bercerita bahwa Nexlon melarang keras sang istri dibawa ke rumah sakit. Dan disatu sisi mereka adalah manusia biasa yang wajar memiliki rasa kasihan.
"TUNGGU APALAGI AYO SEKARANG! " Bibi Leni berteriak dengan memaksa.
"APAKAH KALIAN TIDAK PUNYA RASA KASIHAN?? ALANAKA SEDANG KRITIS SEKARANG. JIKA TIDAK DI BAWA KERUMAH SAKIT, DIA BISA MATI! " Bibi Leni berteriak dengan marah dan matanya ikut berkaca-kaca.
Mendengar perkataan Bibi Leni, mereka akhirnya sadar. Bahwa, nyawa seorang manusia saat ini sangat membutuhkan pertolongan mereka. "Baik Bibi. Kami akan membantu! " seorang pengawal berkata dengan tegas mewakili teman-temannya, yang disetujui teman-temannya dengan anggukan kepala. Salah satu dari mereka mengambil inisiatif untuk mengambil mobil.
Bibi Leni berlari memimpin jalan paling depan, saat sampai dikamar Alanaka mereka semua dapat melihat Alanaka masih saja kejang-kejang. Padahal Alanaka sudah termasuk lama ditinggalkan Bibi Leni.
Detik hingga menit berlalu selama tiga puluh menit. Akhirnya mereka sampai dirumah sakit. "SUSTER! SUSTER! SUSTER! " Bibi Leni berteriak memanggil perawat dengan panik, di ikuti salah satu pengawal yang sedang menggendong tubuh Alanaka.
Beberapa suster menghampiri Bibi Leni yang sedang berteriak panik dengan sebuah brankar "Silahkan Tuan pindahkan tubuh nona tersebut dibrankar ini. " ucap perawat itu mempersilahkan.
"Suster tolong selamatkan Alanaka. Saya mohon suster. " ucap Bibi Leni dengan penuh permohonan kepada suster yang ada disana.
"Apa yang terjadi pada nono ini buk? " tanya suster itu. Meskipun mereka terlibat percakapan, brankar yang ditempati tubuh Alanaka tetap didorong menuju sebuah ruangan.
"D-dia terjatuh dari lantai dua ke lantai satu. Terlebih lantai dua dan lantai satu memiliki perbedaan tinggi sangat jauh. "
"AYO LEBIH CEPAT LAGI. KITA PERGI KERUANGAN ICU"
"Ada apa ini suster? " seorang dokter wanita menghentikan langkah mereka semua di sela-sela mendorong brankar
"Nona ini harus dibawa keruangan ICU dok."
"Apa yang terjadi padanya? "
"Nona ini terjatuh dari ketinggian dok"
"Baiklah. Kalian harus lebih cepat lagi! " Dokter wanita itu ikut serta mendorong brankar tersebut.
Brankar terus didorong hingga mereka sampai kesebuah ruangan yang dikenal bernama operasi. "Anda tidak boleh masuk. Silahkan tunggu diluar" seorang suster tidak mengijinkan Bibi Leni untuk masuk. Suster itu langsung menutup pintu ruangan ICU. Sebuah lampu pun dihidupkan.
'Tuhan selamatkan Naka... '
📝📝📝
Nexlon keluar dari mobilnya sesaat sang supir sudah membukakan pintu mobil untuknya. Hari ini Nexlon lembur dikantor, sehingga dia harus pulang larut malam seperti sekarang.
Tidak ada para pelayan yang menyambutnya pulang. Mau dia lembur atau sedang perjalanan keluar kota dan jam pulangnya malam atau tengah malam. Semua pelayan akan tetap berjejer rapi menyambut kepulangannya. Akan tetapi untuk saat ini tidak! Karena ini semua adalah perintahnya Nexlon, dia memberi perintah kepada seluruh pelayan untuk libur kecuali Bibi Leni. Dan semua pekerjaan para pelayan itu akan digantikan Alanaka.
Nexlon berjalan masuk kedalam mansionnya. Saat melewati lantai satu atau lebih tepatnya, tempat dimana tubuh Alanaka terbaring berdarah-darah karena didorongnya dari lantai dua. Nexlon berhenti sebentar! Dan dia kembali melanjutkan langkahnya setelah beberapa detik berhenti.
Kini Nexlon sedang berada diruangan kerjannya. Duduk sambil mengerjakan beberapa lembar yang berserak dimeja kerjanya. Sepertinya kali ini Nexlon akan kembali lembur, setelah lembur dikantornya.
Tok
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan dari luar ruangan kerjanya, membuka konsetrasinya buyar. "Masuk" dengan suara dinginnya Nexlon mengijinkan orang tersebut masuk.
Ceklek
"Maaf menggangu waktu anda Tuan Muda" seorang pria berpakaian seperti pengawal membungkukkan tubuhnya memberikan penghormatan kepada Nexlon. Tidak ada tanggapan dari Nexlon, dia tetap sama dengan wajahnya datarnya.
"Lapor Tuan Muda, kedatangan saya saat ini ingin memberikan laporan. Bahwa, Wanita tersebut dibawa ke rumah sakit oleh Bibi Leni Tuan Muda" ucap pria itu menjelaskan tujuan dari kedatangannya.
Nexlon yang mendengarkan laporan dari anak buahnya ini hanya tersenyum miring dan matanya memandang semakin tajam.
...:...
...TO BE CONTINUE...
...----------------...
Segini dulu yh readers...
Semoga kalian suka....
Dadadah... jangan lupa (Vote and Komen)