Alanaka

Alanaka
Rumah Sakit



Semalam asli gak up...


Pasti para readers ke carian yah? Gak papa kalau para raeaders ke carian Senja malah seneng.


Hari Senja juga sengaja updatenya cepat biar rindu para readers terobati, hehehe. Senja tau kok kalau Senja itu......


Apa yah?


Readers bilek: nih author gak jeles banget deh 😤.


...HAPPY READING...


...:...


...----------------...


Pintu ruangan operasi terbuka, diiringi seorang pelayan keluar dari dalam ruangan tersebut. Bibi Leni yang awalnya terduduk dibangku nunggu, spontan berdiri menghampiri suster yang sedang buru-buru itu.


"Suter-suster.... Apa yang luka yang diderita Naka sangat para suster? Suster mengapa dia lama sekali keluar dari ruangan itu? Naka tidak apa-apakan suster? " Bibi Leni mencerca suster tersebut dengan banyak sekali pertanyaan. Suster itu yang sedang kalang kabut tidak memperdulikan Bibi Leni. Bahkan semua pertanyaan yang diberikan Bibi Leni suster itu tidak menjawab, justru suster tersebut berjalan cepat bahkan sesekali berlari tidak tau mau pergi kemana.


Bibi Leni menunduk dengan dalam, dalam hatinya ada ketidakpuasan. Karena dia bumi mendapatkan kabar yang puas dari keadaan Alanaka.


"Semoga Naka baik-baik saja" Bibi Leni mengungkap harapannya. Saat itu mengungkapkan harapannya mata Bibi Leni berkaca-kaca.


Tidak lama kemudian suara langkah kaki terburu terdengar. Bibi Leni mengangkat kepalanya yang sedang menunduk dalam, saat Bibi Leni mengangkat kepalanya Bibi Leni dapat melihat kehadiran suster tersebut bersama seorang pria berjas dokter.


Kali ini Bibi Leni sangat membutuhkan keadaan pasti Alanaka, dengan segala keberaniannya Bibi Leni menahan tangan pelayan itu yang ingin masuk keruangan operasi. "Suster kenapa Naka sangat lama keluar dari ruangan itu? Keadaannya baik-baik saja kan?! Dia akan keluar dengan keadaan baik kan suster?! " Bibi Leni kembali mencerca pelayan itu dengan berbagai pertanyaan.


"Saya mohon jawab pertanyaan saya suster. Saya sangat membutuhkan keadaan pasti Naka... " Bibi Leni memohon dengan mata yang berkaca-kaca.


Suster itupun yang melihat raut wajahnya mengibah Bibi Leni, mau tak mau pun menjawab. "Keadaan pasien sangat kritis. Apalagi pasien mengalami geger otak akibat benturan yang sangat hebat, sehingga kami tim medis harus melakukan operasi. " suster itu menjelaskan keadaan Naka dengan sesingkat-singkat mungkin.


"Saya mohon lakukan yang terbaik untuk Naka suster... " mohon Bibi Leni.


Bibi Leni membuka mulutnya dengan gemetar, tidak tau apalagi yang ingin dia katakan. Spontan tangan Bibi Leni terlepas dari tangan suster itu, suster itupun tidak ingin membuang kesempatan. Dia menyusul pria berjas dokter atau lebih tepatnya dokter pria yang dia panggil masuk kedalam ruangan operasi.


Bibi Leni berfokus pada tangisannya, dengan lemas dia kembali duduk dibangku nunggu yang disediakan rumah sakit. "Hiks... Maafkan Bibi Naka"


"A-andaikan.... andaikan Bibi membawa mu lebih cepat ke rumah sakit. Mungkin kau tidak akan seperti ini, hiks... " Bibi Leni berucap dengan segala penyesalan dalam dirinya.


Dua pengawal yang pergi bersama Bibi Leni. Sudah pulang dengan terburu-buru, tidak tau apa sebabnya. Mungkin mereka mendapatkan perintah dari langsung dari Nexlon, yang kita harapkan... semoga mereka bisa melihat dunia lagi.


"Hiks.... Bibi menyesal. Bibi menyesal Naka. "


"A-andaikan-andaikan saja. Bibi mempunyai keberanian untuk membawa mu, m-mungkin kau tak akan seperti ini...hiks."


📝📝📝


Berjam-jam sudah berlalu, hingga kini sudah subuh. Tapi para tim medis belum keluar dari ruangan operasi. Bibi Leni sendiri tidak henti-hentinya menangis serta berdoa kepada sang Pencipta. Agar Alanaka bisa melewati masa kritisnya dengan masih bisa melihat dunia.


Lama menunggu, akhirnya seorang dokter pria keluar dari ruangan operasi. Bibi Leni langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri dokter pria itu. "Dokter bagaimana keadaan Naka? Dia baik-baik saja kan dokter?! "


"Keadaan pasien saat ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja sepenuhnya, karena mungkin pasien akan mendapatkan efek samping dari operasi. Apalagi pihak anda membawa pasien ke rumah sakit bisa terbilang cukup terlambat . Karena asal anda tau, jika satu jam saja pihak anda tidak membawa pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut. Bisa dipastikan pasien akan meninggal saat itu juga. " mendengar penjelasan panjang kali lebar dari dokter tersebut, Bibi Leni menutup mulutnya dengan syok. Dan yah... rasa penyesalan semakin menggerogoti hati Bibi Leni.


Pintu ruangan operasi kembali dibuka, diiringi suara brankar berjalan. Bibi Leni memusatkan perhatiannya pada asal tersebut, dari pandangannya dia dapat melihat seorang dokter wanita yang sempat dia lihat pergi entah kemana disusul beberapa suster dibelakangnya dan serta beberapa suster juga mendorong brankar yang berisi tubuh Alanaka. Bibi Leni tidak tau brankar itu ingin dibawa kemana, dalam pikirannya mungkin saja Alanaka akan dibawa keruangan rawat.


Dan seperti dugaan Bibi Leni Alanaka dibawa keruangan rawat.


"Saat ini pasien dalam keadaan bius atau justru sebaliknya pasien bisa saja koma. Karena koma merupakan efek samping melakukan operasi, apalagi pasien sempat terlambat untuk ditanganni. Anda hanya cukup menunggu pasien sadar dalam beberapa jam lagi, namun jika tidak ada tanda-tanda pasien sadar. Seperti yang saya katakan tadi pasien mengalami koma, dan anda bisa langsung memanggil dokter atau suster yang sedang berjaga. Untuk memberikan keterangan yang lebih lanjut, tentang keadaan pasien. " salah satu suster menjelaskan tentang keadaan Alanaka. Penjelasan suster itu tidak jauh berbeda dengan penjelasan sangat dokter tadi.


"Oh iya. Anda sudah bisa pergi ke pihak administrasi, untuk membayar semua biaya-biaya pasien. Anda harus segera membayarnya dan harus membayarnya. Karena jika tidak, kamu harus terpaksa melakukan kebijakan. " ucap dokter itu yang dianggukki Bibi Leni.


"Kami ijin pamit" para suster-suster itupun pergi dari ruangan Naka, meninggalkan Bibi Leni dan Alanaka yang terbaring lemah dengan mata tertutup.


"Naka maafkan Bibi.... m-maafkan Bibi" Bibi Leni meminta maaf kepada Alanaka yang tubuh terbaring lemah dibrankar dan matanya yang masih tertunda. Dengan penuh kelembutan Bibi Leni mengelus-ngelus rambut Alanaka dengan lembut.


"Bibi pamit pergi dulu. Maafkan Bibi meninggalkan mu sendirian disini, tapi ketahuilah Bibi melakukan ini karena untukmu"


📝📝📝


Disini lah Bibi Leni sekarang. Didepan pintu hitam yang tertutup, didepan pintu hitam yang didalamnya merupakan ruangan kerja Nexlon.


Tok


Tok


"Masuk"


Mendapatkan respon dari dalam setelah mengetuk pintu sebanyak dua kali. Bibi Leni membuka pintu tersebut dan masuk kedalam ruangan. Nexlon yang sedang sibuk dengan berkas-berkas dimeja kerjaannya, menjadi pemandangan pertama yang Bibi Leni lihat saat masuk.


"T-tuan... " Bibi Leni berkata dengan lirih serta gugup.


Saat mengetahui siapa yang datang. Nexlon tetap sama, dia masih saja sibuk dengan berkas-berkas dimeja kerjanya.


"Tuan Muda kedatangan saya disini ingin memberitahu Anda. Bahwa Alanaka sedang berada di r-rumah sakit. Tubuhnya tiba-tiba mengalami kejang-kejang semalam, sehingga saya mengambil inisiatif untuk membawanya ke rumah sakit. Maafkan saya Tuan, karena telah melanggar perintah Anda. "


Tidak ada respon dari Nexlon, Bibi Leni dengan segala keberaniannya berbicara kembali. "Dokter melakukan operasi kepada Alanaka, karena Alanaka mengalami geger otak. Akibat benturan keras yang dia dapatkan. Pihak rumah sakit mewajibkan untuk membayar semua biaya-biaya Alanaka.... Saya m-mohon Tuan bantu Alanaka dengan membayar biaya rumah sakitnya. " meskipun Nexlon diam terlihat tidak merespon ucapan Bibi Leni. Karena sebenarnya Nexlon mengetahui apa sebab, penyebab serta niat Bibi Leni datang keruangannya.


"Saya tidak mau! "


"Tuan saya mohon bantu Alanaka. Jika biaya-biaya rumah sakitnya tidak dibayar, pihak rumah sakit akan melakukan kebijakan. Yang kemungkinan Alanaka akan diusir sebelum keadaannya benar-benar pulih. " dalam satu hari ini entah sudah ke berapa kalinya Bibi Leni memohon seperti ini.


"Kenapa tidak kau saja yang melakukannya?"


...:...


...TO BE CONTINUE...


...----------------...


Udah sampai disini dulu yah reader...


Oh iya Senja mau bilang kalah seandainya, dialog tentang medis-medis yang Senja buat dicerita ini kurang tepat. Senja mengucapkan maaf yah 😞. Karena Senja sendiri kurang mengetahui tentang-tentang medis.


Dadada.... semoga kalian suka pada episode kali ini. Hehehe.....