Alanaka

Alanaka
Perintah Nexlon



...HAPPY READING...


...:...


...----------------...


Flashback


"Argh..... " teriakan itu! sangat menggema diseluruh rumah.


Belinda dengan tampang frustasi terduduk disofa ruang tamu rumahnya, ditangannya terdapat sebuah bingkai foto yang berisikan sebuah foto seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan,tersenyum dengan sangat manis. Kejadian ini tidak hanya terjadi satu kali atau dua kali, akan tetapi ini terjadi berulang-ulang kali.


"Hiks... hiks... hiks.. " tiba-tiba saja Belinda menangis, tanpa sebab dan alasan.


"Milka.... Mama merindukanmu! " ucapan lirih ini adalah ungkapan seorang ibu yang betul-betul sangat merindukan anaknya.


"Milka... kamu dimana nak? kenapa belum kembali juga?! "


"H-Hikss Mama merindukanmu nak. Bahkan Mama sangat merindukanmu! "


"Ini sudah dua tahun kamu pergi. Pasti sekarang kamu sudah berumur tujuh tahun, maafkan Mama nak karena tidak bisa merayakan ulang tahun mu pada hari ini dan maafkan Mama juga nak, karena belum bisa menemukan keberadaan mu"


"A-Andaikan... " Belinda menjeda ucapannya, dia merasakan rasa sesak di dadanya semakin menyerang dikala dia mengingat tentang suatu hal yang menjadi penyebab utama anaknya hilang "


"Andaikan waktu itu Mama tidak membiarkan mu dan anak sialan itu! Bermain sepeda diluar, mungkin kamu tidak akan diculik dan Mama tidak akan kehilanganmu. Atau bahkan saat ini kita bisa merayakan ulang tahun mu degan meriah"


"Pokoknya ini semua salah anak sialan itu! Mau apapun yang terjadi INI SEMUA SALAHNYA!! " mata yang masih berlinang air mata, memandang dingin serta penuh dendam.


Disudut ruangan. Dengan memanfaatkan sebuah dinding sebagai tempat bersembunyi. Seorang anak kecil yang memiliki jenis kelamin perempuan, dari tadi menyaksikan ke frustasian Belinda serta mendengar apa saja yang diucapkannya.


Setetes air mata jatuh membasahi pipi kecil milik anak perempuan itu.


📝📝📝


"Untuk yang semalam! Aku menyesal mengetahui kau tidak mendapatkan hukuman... "


"... Padahal aku sudah sangat capek berakting! " tidak cukup sekali saja mencari masalah dengan Alanaka, kali ini dia juga mencari masalah dengan Alanaka. Tapi kaki ini Sinta lah yang menghampiri Alanaka bukan Sinta yang memanggil Alanaka untuk menghampirinya.


"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Jadi sekarang pergilah! " ucap Alanaka memberi perintah untuk Sinta segera pergi.


"Sombong sekali kau! Aku tidak ingin mencari masalah dengan mu dan aku juga tidak ingin berdebat denganmu. Keberadaan ku disini hanya ingin membahas sebuah fakta, tidak ada salahnya bukan?!" ucap Sinta, mengungkapkan kedatangannya menemui Alanaka. Tapi tidak tau lah apa yang di katakan Sinta itu benar?.


"Kau tidak bisa membohongiku! " Alanaka sudah hapal dengan pikiran akal busuk dari orang didepannya.


"Yah sudah kalau tidak percaya" ucap Sinta.


"Tidak ada hal bermutu yang ingin kau sampaikan, kalau begitu aku pergi" setelah mengatakan itu Alanaka segera berlalu pergi. Huntung percakapan atau bisa dikatakan perdebatan kecil itu tidak diketahui satupun orang.


"Cih... Songong sekali orang ini! "


📝📝📝


"Hai Bibi! Bibi sedang apa? " tanya Alanaka saat melihat Bibi Leni sedikit sibuk, namun Alanaka sendiri tidak tau apa itu kesibukan Bibi Leni.


Bibi Leni hanya diam, lalu tanpa berkata apapun Bibi Leni berlalu dari sana, meninggalkan Alanaka yang seketika merasa kecewa.


"Bibi Leni ada apa? Apakah Bibi marah pada ku, karena kejadian semalam? " pertanyaan ini sungguh sangat rumit untuk Alanaka dapatkan jawabnnya.


"Pasti Bibi Leni kecewa padaku karena kejadian semalam. Meskipun itu bukan salah ku, tapi... Bibi Leni mengira aku yang salah! Jadi wajar jika Bibi Leni marah"


"Tapi... sekarang apa yang harus ku lakukan agar Bibi Leni tidak marah lagi? "


📝📝📝


Menjeda pekerjaannya dalam menyiram bunganya. Alanaka membalikan tubuhnya menghadap sumber suara Bibi Leni yang memanggilnya.


"Ya. Ada apa Bibi? " tanya Alanaka. Kedua sudut bibirnya tersenyum manis.


"Tuan Muda memberi perintah untukmu! Kau harus mengantikan semua pekerjaan para pelayan pada hari ini!! " ucap Bibi Leni yang membuat Alanaka terkejut bahkan sangat terkejut.


Meskipun saat ini Bibi Leni sedang berbicara dengan Alanaka, akan tetapi tatapan Bibi Leni pada Alanaka sangat datar. Tidak ada lagi tatapan hangat serta lembut dari mata Bibi Leni.


"Maksud Bibi? " tanya Alanaka pura-pura tidak mengerti.


"Maksudnya. Semua pekerjaan yang dimiliki semua para pelayan hari ini kau lah yang harus melaksanakannya" meskipun sudah memahaminya, tapi Alanaka tetap terkejut mendengar fakta ini untuk kedua kalinya.


"Bagaimana bisa Bibi? "


"Naka harus mengerjakannya sendiri! Ayolah Bibi mansion ini sangat besar dan tentu saja Naka tidak akan sanggup melakukannya! "


"Bibi apakah Tuan Muda tidak salah berkata? "


"Oh ya. Tuan Muda juga mengatakan semua pekerjaan pelayan itu harus kau yang mengerjakan tidak boleh meminta bantuan atau ada yang membantu mu. Dan juga semua pekerjaan itu harus selesai pada hari! Jika tidak kau harus siapa-siap mendapatkan hukuman " tidak mengurangi atau melebih-lebihkan itulah yang saat ibu Bibi Leni katakan.


"Bibi... Kenapa Tuan sangat kejam pada ku? Sebelum memberi perintah ini seharusnya dia sudah tau aku tidak akan bisa melakukannya. Atau jangan-jangan Tuan sengaja memberi perintah itu Bibi? " tanya Alanaka dengan secercah harapan bahwa Nexlon bukan sengaja memberikan perintah itu untuknya.


"Kerjakanlah atau kau akan mendapatkan hukuman karena tidak melaksanakan perintah Tuan Muda! "


Setelah mengatakan itu Bibi Leni oergi dari sana, meninggalkan Alanaka lagi dan lagi.


Alanaka menatap sedih punggung Bibi Leni yang perlahan-lahan menghilang. Saat ini benaknya sedang pusing dan sedih secara bersamaan. Sepertinya Bibi Leni menjauhi ku? Perintah Nexlon sungguh sulit ku cerna. Kira-kira itulah yang saat ini sedang dia pikirkan.


"Nexlon apakah kau sengaja melakukan hal ini padaku? Salahku apa padamu, jika itu benar kau sengaja melakukannya?! "


"Perintah itu! Aku sedih! Aku tidak bisa!... " Alanaka sedih namun dia juga frustasi.


"... Aku yakin aku tidak bisa menyiapkan semua pekerjaan dalam satu hari ini! "


"T-Tapii aku harus mencobanya juga. Jika tidak aku akan mendapatkan hukuman, apalagi aku yakin hukuman yang kudapat lebih kejam daripada perintah yang tidak ku laksanakan"


Alanaka berlalu dari sana, saat memasuki mansion dia menatap seluruh ruangan yang dapat matanya jangkau.


"Hah... " menghela napas sejenak dan Alanaka muali melaksanakan perintah itu secepat yang dia bisa.


Para pelayan yang biasanya sedang melakukan tugasnya pada jam segini, sama selain tidak ada Alanaka lihat. Sepertinya para pelayan itu sedang berada di kediaman khusus para pelayan yang telah disediakan Nexlon.


'Semoga aku bisa. Amin'


...:...


...TO BE CONTINUE...


...----------------...


Meskipun author belum mendapatkan satu pun spam rindu kalian. Author tetap memilih untuk double up pada hari ini.


Semoga kalian suka dan puas🙏.


See You Next Time Chapter