Alanaka

Alanaka
Tamu?



...HAPPY READING...


...:...


...----------------...


...Lelah pada hidup itu wajar, yang tak wajar jika harus menyerah....


...Alanaka...


Hidup memang penuh tuntutan, tapi bukan berarti kita sebagai manusia harus menyerah. Sebenarnya lelah pada keadaan yang banyak tuntutan itu boleh, tapi kembali lagi tidak boleh menyerah.


Contohnya Alanaka, semalam dia di sakiti. Namun sekarang dia tetap memilih berjuang, mungkin sekilas dia terlihat naif. Pemikiran itu tidak salah, karena kenyataannya dia memang lah naif.


Saat ini Alanaka telah siap dengan seragam pelayannya, namun kali ini ada yang aneh dari dirinya. Apakah itu? Yah wajahnya. Wajah itu yang dulu terlihat manis di saat dia tersenyum ataupun tidak tersenyum sekarang wajah itu telah cacat, karena wajah itu kini telah melepuh bekas air panas yang tersiram ke wajahnya.


Wajah adalah suatu hal yang berharga bagi seorang wanita. Jika wajahnya rusak hinaan serta cacian akan di dapatkan wanita itu. Menyedihkan bukan? Tapi itulah manusia hanya menilai satu sisi tanpa mau tau apa dan kenapa itu bisa terjadi dan penyebabnya.


Kini wajah manis Alanaka telah rusak. Ingin mengobati? Dia tak punya obatnya bahkan untuk membeli obat dia tak punya uang. Dia sama-sama miskin entah itu di rumah orang tuanya atau bahkan di rumah suaminya sendiri, padahal sama-sama orang kaya. Yah begitulah nasib anak terbuang dan istri terbuang.


Jika kalian para wanita memiliki wajah melepuh atau cacat seperti Alanaka, apa yang akan kalian lakukan?


Saat memasuki mansion megah itu Alanaka bertemu dengan Bibi Leni yang sepertinya sangat repot saat ini.


"Hai Bibi" Sapaan itu canggung dan terdengar aneh di telinga Bibi Leni, karena yang dia tahu Alanaka adalah gadis ceria yang dapat menghilangkan suasana tegang atau tidak mengenakkan.


"Astaga.... Naka. Wajahmu?! " Bibi Leni terkejut. Awalnya dia tak pernah kepikiran akibat dari siraman air panas semalam pada wajah Alanaka. Tapi ketika mengetahuinya dia sangat terkejut.


"Wajahmu?! Kenapa bisa semakin parah, apa kau tak mengoleskan obat? " pertanyaan Bibi Leni sungguh tepat dan berhasil membuat Alanaka binggung ingin menjawab apa.


"Ehm.. It-itu Bi. Hehehe Naka tidak punya obat untuk kulit yang melepuh, j-jadi gini deh" ucap Naka dengan gugup.


"Alasan,tapi benarkah kau tak punya obatnya?" tanya Bibi Leni yang di jawab Alanaka hanya mengangguk.


"Maafkan Bibi Naka, seharusnya Bibi semalam membantumu mengobati luka mu, sehingga luka ini tidak akan semakin parah" merasa ini semua adalah kesalahannya Bibi Leni meminta maaf.


"Ini tidak salah Bibi"


Sebenarnya Bibi Leni ingin menemui Alanaka semalam, tapi setelah kejadian itu entah darimana seorang pengawal selalu mengawasi gerak-geriknya. Dan Bibi Leni sudah dapat menembak pengawal itu merupakan suruhan Nexlon.


Jika ingin melanggarnya? Tentu saja Bibi Leni tidak berani. Di mansion ini sudah berpuluh-puluh tahun dia bekerja sehingga dia tau konsekuensi apa yang dia dapat ketika melanggar perintah, apalagi sebelum pergi Nexlon langsung memberi perintah kepadanya.


Awalnya Bibi Leni ingin memberitahu Alanaka atas ketidakhadirannya, tapi saat di pikir-pikirnya lagi itu adalah hal menyakitkan untuk Alanaka. Sehingga Bibi Leni memilih untuk diam saja.


"Oh iya. Bibi terlihat sangat sibuk memangnya ada apa Bi? Tidak biasanya Bibi sibuk sekali" tanya Alanaka dengan penasaran.


"Ouh begitu Bi. Em... tapi siapa yang ingin datang Bi? "


"Kalau itu Bibi tidak tau Naka. Lagian Bibi tidak berani bertanya siapa yang akan datang, meskipun Bibi juga sama penasarannya dengan mu, apalagi ini untuk pertama kalinya Tuan Muda menerima tamu di mansion langsung"


"Wah... Berarti tamunya orang penting dong Bi? "


"Yah mungkin saja"


'Entah kenapa tiba-tiba perasan ku tidak enak' batin Alanaka yang merasa aneh pada perasaannya yang tiba-tiba tidak enak. Semoga itu bukan lah pertanda buruk.


"Alanaka menganggu yah Bi?! " tanya Alanaka dengan rasa bersalah.


"Sedikit. Hahaha" ucap Bibi Leni dan setelah itu dia tertawa.


"Hahahaha" sebenarnya Alanaka tidak tau apa yang lucu dari situ. Tapi yah udah lah dia tertawa saja meskipun itu rasanya garing.


Kedua wanita berbeda umur itu tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan, tapi intinya itu terasa garing.


"Maafkan Naka yah Bi, karena menghambat waktu Bibi " ucap Alanaka meminta maaf, karena menurutnya itu adalah salahnya. Entah itu Bibi Leni ataupun Alanaka bukankah kedua orang itu ada mengatakan maaf?.


"Yah tidak papa, tadi Bibi hanya sedikit bercanda. Tapi jika kau menganggapnya serius itu tidak lah masalah"


"Kalau begitu Alanaka kerja juga yah Bi"


"Baiklah. Sampai jumpa lagi" ucap Bibi Leni dengan sedikit kata dramatis yang terselip. Padahal jarak mereka dua hanya terpisah beberapa kilometer, namun lebaynya sungguh amat banget.


Kedua wanita berbeda umur itu melanjutkan tugasnya masing-masing. Dan untuk Alanaka dia sudahlah menyusun rencana. Rencananya adalah setelah selesai semua tugasnya dia berencana ingin menghampiri Nexlon, memulai obrolan dan meminta maaf padanya.


Alanaka tidaklah menyerah atas semua yang telah di lakukan Nexlon padanya. Menurutnya semalam itu adalah kesalahannya dan Nexlon hanya sedikit berlebihan dalam menghukumnya. Jadi dengan begitu tidak ada dendam di hatinya.


...:...


...TO BE CONTINUE...


...----------------...


Maaf banget yah, untuk author yang udah jarak update, soalnya author kehabisan ide.


Author mohon bantu doanya dari readers yah 🙏, agar author tidak kehabisan ide dan bisa rajin update, lalu alur ceritanya tidaklah memuakkan.


OH YAH. Jika alurnya membosankan beritahu yah, agar author dapat bertindak.


BAY... BAY Kita berpisah dulu