Alanaka

Alanaka
Kebencian Belinda



Readers entah kenapa Senja rindu kaliannnn....


Kalian rindu Senja gak? Atau kalian cuma rindu sama Alanaka. Hiks... hiks... (Senja nangis nih..ðŸ˜Ŧ).


{Tapi boooong weks ðŸĪŠ)


Eh btw. Selamat Malam Readers 🌌


Di rumah Senja cuaca mendukung untuk hujan. Apalagi sudah beberapa hari berturut-turut hujan, jadi rasanya agak gimana gitu... Sebenarnya hujan itu enak, tapi lebih enaknya lagi kalau hujan tengah malam. Suasana tidur jadi di dukung. Ada yang satu pemikiran sama Senja?.


Kalau cuaca dirumah kalian gimana? Kasih tau dong! Masa senja aja yang ngasih tau kalian. Kans kurang seruuuu gituuuu!.


Readers Senja pengen dapat rekomendasi kalian dong tentang alur menarik untuk mendukung cerita Alanaka ini. Bebas mau rekomendasi alurnya gimana, asalkan jangan berbaur dewasa. Hm... kalian Pasti tau maksud Senja.


Okey. Sebelum mengakhiri sapa-sapa kita diawal Senja bakalan ngasih quotes buat kaliannnn. Hm...


...Bahagia, sedih, marah, benci, duka. Mereka adalah macam-macam yang bergabung dalam kata perasaan dan mungkin banyak lagi. Kita! Sebagai manusia merasakan hal itu dalam hidup. So ketika kamu merasakan salah satu diatas jangan pernah merasa lain dari lain. Tapi merasa bangga lah karena kamu adalah manusia beruntung bisa merasakannya....


Gak jelas yah quotesnya? Iya Senja tau koks jawabannya...


...HAPPY READING***...


...:...


...----------------...


Flashback


"MAMA... MAMA... Hiks... hiks M-Mmama " seorang anak perempuan berpakaian seragam merah putih dengan rambut kucir dua menangis memanggil Mamanya saat langkah kakinya memasuki rumahnya. Anak perempuan sepertinya memiliki umur kisaran sepuluh tahun.


"Mama... hiks. Mama dimana? " anak perempuan itu terus menangis sambil memanggil Mamanya dan dengan sesekali dia akan mengucek matanya yang basah, karena air mata.


"Hei. Anak Mama kenapa menangis? " seorang wanita keluar dari dapur lalu menghampiri anaknya yang sedang menangis. Dia heran kenapa anaknya yang paling imut pulang-pulang dari sekolah datang ke rumah dengan keadaan menangis.


"T-Ttadi.... T-Ttadi disekolah Milka dikunci di kamar mandi. Hiks... " dan yaps... Anak perempuan itu bernama Milka. Iya... adiknya Alanaka.


"Astaga! SIAPA YANG MELAKUKANNYA? " tanpa sadar nada suara wanita itu yang kiannya lembut, naik satu oktaf.


"Y-Yyyang hiks... melakukannya kak Naka M-Mmama... " air mata Milka semakin deras.


"Anak sialan itu. Berani sekali dia! " ucap Wanita itu atau bisa kita sebut Belinda.


"Dimana dia berada?! " Wajah Belinda sudah memerah menahan emosi.


"M-Milka tidak tau Ma hiks... " ucap Belinda sambil menggeleng-geleng kan kepalanya.


"Sepertinya Mama harus memberikan anak sialan itu pelajaran! " setelah berkata seperti itu Belinda berjalan menaiki tangga, tujuannya adalah untuk memberikan anak sialannya pelajaran. Namun langkah kakinya saat ingin menaiki tangga terhenti dikala suara imut khas anak perempuan terdengar memasuki rumah.


"Mama dan Papa Naka pulang" suara ini, tidak lain suara milik Alanaka.


"Kebetulan sekali kita bertemu disini sialan! " Belinda berucap dengan nada suara geram.


"Hiks... Mama" tangisan Milka kembali terdengar. Ternyata Milka mengikuti kemana langkah Belinda pergi.


"Milka kenapa menangis? " dengan kepolosannya Alanak bertanya. Dia tidak tau akibat dari pertanyaan polosnya ada amarah seseorang yang semakin naik ke ubun-ubun kepala.


Belanda berjalan menghampiri Alanaka. Matanya memandang penuh amarah tepat pada mata Alanaka. " TIDAK USAH PURA-PURA TIDAK TAU KAMU ANAK SIALAN!! " Belinda berteriak dengan penuh amarah, membuat kedua anak perempuan itu terkejut sekaligus takut.


"Mama... hiks... hiks... " tangisan Milka semakin pecah. Membuat keadaan semakin keruh.


Plak


Plak


Kemarahan yang semakin membuncah membuat Belinda dengan tak berperasaan menampar Alanaka dengan sangat kuat sebanyak dua kali. Hingga sudut kecil dari bibirnya mengeluarkan darah serta pipinya ikut memerah.


"Mama" Alanaka berucap dengan lirih. Setetes air mata tiba-tiba hadir membasahi pipi tirusnya.


"APA! INGIN PROTES?!... "


Plak


" M-Mmmama..." Alanaka menggeleng-geleng kan kepalanya spontan. Seakan menyangkal tuduhan yang dilayangkan Mamanya untuknya tidak lah benar.


"Ingin berbohong? " suara nada Belinda tidak lah berteriak melainkan merendah. Dan justru bagi Alanaka itu sangat menyeramkan.


"Naka tidak melakukannya Ma " ucap Alanaka membela dirinya.


"Berani sekali mulut busuk mu itu berbohong!" Belinda sungguh-sungguh muak pada anak yang ada didepannya ini. Dia sangat membenci anak itu! , tapi sialnya anak yang dia benci itu adalah anak yang sempat lahir dari rahimnya. Fakta ini membuat kemarahan Belinda semakin membuncah, membuat tangan kejamnya kembali menampar Alanaka.


Plak


"DASAR ANAK SIALAN! AKU... AKU MEMBENCIMU SIALAN!! AH.... "


... KAU! KAU HARUS MENDAPATKAN HUKUMAN" setelah menyelesaikan teriakannya. Belinda menyeret tubuh kurus Alanaka kedalam kamar mandi yang berada di dapur. Dengan tak berperasaannya dia mendorong tubuh Alanaka, lalu menguyur tubuh Alana dengan air hingga seragam sekolah, merah putih milik Alanaka basah dan tubuhnya sedikit kedinginan.


Brakk


Ceklek


Dengan sedikit bantingan Belinda menutup pintu kamar mandi, dan lalu menguncinya.


"Mama hiks..."


"Jangan kunci Naka "


"Mama disini dingin"


📝📝📝


"Mama! " Alanaka terbangun dari tidurnya. Tubuhnya terduduk dan bersandar di dinding dingin ruangan terkutuk. Yah... Alanaka masih diruangan yang sama, Nexlon belum mengeluarkan perintah pada anak buahnya untuk membiarkan Alanaka bisa keluar dari ruangan yang sangat Alanaka benci.


"M-Mmama hiks disini dingin. Naka gak suka!" Alanaka terisak sedih. Dia baru bangun dari pingsannya, namun dia harus kembali mengeluarkan air mata. Hanya karena kejadian masa lalu singgah dalam mimpinya.


"Mama Naka gak suka berada disini! Disini gelap, disini bau darah, dan ruangan ini sangat menyeramkan. P-Ppasti sudah banyak orang yang disiksa diruangan ini Ma" masih degan terisak Alanaka berbicara pada dirinya. Tapi dalam perkataannya dia seolah sedang mengadu pada Mamanya yang sangat dia sayangi, tapi sebaliknya Mamanya itu membencinya. Sungguh miris ck.


"Mimpi sialan! Kenapa kau harus hadir? "


"Gara-gara mu mimpi aku harus merindukan Mama. Yang jelas-jelas Mama tidak merindukan aku hiks.. KENAPA? KENAPA?! Aku yang selalu merindukan Mama sedangkan Mama tidak pernah merindukanku! " Alanaka marah pada kenyataan yang sudah lama dia ketahui. Tapi yang selalu dia tutupi dengan pemikiran berusaha positif.


Berfikir positif tidak lah salah justru itu adalah hal yang benar dan patut dilakukan. Akan tetapi adakalanya juga kita harus berfikir negatif, tapi dengan satu syarat berfikir negatif di waktu yang tepat dan dimasalah yang tepat.


"Hiks... hiks.. Aku lelah menangis! Tapi kenapa air mata kau selalu saja hadir?! " jujur sebenernya Alanaka itu sudah lelah menangis. Tapi tetap saja! Air matanya selalu hadir meskipun sudah disuruh untuk berhenti.


*Tes


Tes


Tes*


Di sela-sela tangisannya tiga tetes darah keluar dari hidung Alanaka. Tidak hanya punggung yang berdarah, jidat pun ia karena ke frustasiannya, dan kini juga tiba-tiba hidungnya ikut berdarah!. Kondisinya seakan mendukung situasi menyedihkan yang diciptakan oleh tangisannya.


"Kenapa harus berdarah lagi?! "


...:...


...TO BE CONTINUE...


...----------------...


OH IYA. Readers pasti sedikit heran, kenapa ceritanya ada masa lalu gitu.


Jadi gini, sebelum cerita ke masa lalu Senja ada buat kata Flashback. Bukan? Maksudnya itu flashback menandakan kalau ceritanya sedang berpindah pada alur masa lalu bukan alur masa sekarang. Udah ngerti readers? Senja sedikit susah jelasinnya yah? Maaf kalau readers tidak paham ...


Tapi semoga readers paham!


Hehehehe. Senja aneh yah? Iya kok Senja tau jawabannya. Bay... bau readers..


See You Next Time Chapter