Alanaka

Alanaka
Hukuman



...HAPPY READING...


... :...


...----------------...


"Apakah kau sudah menemukannya? " suara dingin seorang pria memecahkan suasana sunyi antara dirinya dan satu orang pria lagi.


"Belum Tuan" ucap seorang pria yang lain. Menundukan kepalanya seakan tunduk pada aura menakutkan si pria satu lagi. Sepertinya mereka adalah Bos dan anak buah, yang pertama bicara sepertinya juga merupakan sang bos sedangkan yang menundukkan kepalanya adalah anak buah.


"KENAPA KAU BELUM MENEMUKANNYA? " bentakan itu terlontar dari mulut sang bos, membuat anak buahnya terkejut bukan main.


"maaf kan saya Tuan"


"Maaf? apakah kau pikir saya adalah seseorang yang MURAH HATI? tentu TIDAK bukan" menekan perkataannya di berbagai kata, membuat auranya semakin menakutkan.


"Sudah tiga tahun berjalan tapi kau sama sekali belum menemukannya!!!. Satu bulan! saya hanya memberikan waktu segitu. Tapi kenapa? sudah tiga tahun selalu saja nihil!!" sungguh anak buahnya ini selalu saja menguji kesabarannya.


"Maaf kan saya Tuan"


"Saya tidak butuh maaf mu. Yang saya butuhkan temukan dia"


"Kau tau bukan? JIKA BERSANGKUTAN DENGANNYA SAYA ADALAH SOSOK YANG BERBEDA" Di luaran sana dia terkenal dengan ke kejamannya. Tapi percaya jika sudah di sandingkan dengan bos nya ini ke kejamannya tidak ada apa-apa nya dengan bosnya yang mengerikan ini.


"Pergi keruangan penyiksaan, katakan pada Mark untuk mencambuk dirimu sebanyak dua ratus kali" sepertinya memberikan hukuman sedikit tidak akan apa-apa bagi bos yang tak di tau namanya ini.


"Baik Tuan" Memberikan penghormatan pada pria di depannya ini. Lalu pria yang bisa di katakan menyedihkan ini pergi dari ruangan yang di penuhi hawa menyeramkan. Dia pergi meninggalkan bosnya sendiri.


Raut amarah yang di keluarkan si bos pria menyedihkan itu berubah menjadi raut datar dan dingin. Dan tiba-tiba bibirnya menyeringai.


📝📝📝


Ting


Suara lift terbuka mengalihkan atensi Alanaka pada lantai yang sedang dia pel.


Saat melihat ke depan berapa terkejutnya Alanaka, karena yang keluar dari lift itu adalah suami satu harinya. Bukannya dia pergi ke kampus? pulangnya kapan? kenapa dia tidak melihatnya?, pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya. Tapi tidak lama kemudian dia tepis, karena dia tau jika pertanyaan itu di kembangkan tidak akan ada kepuasan yang dia dapatkan dari jawaban yang dia pertanyakan.


"Hai Tuan" Menyapa suaminya sedikit tidak akan salah, mungkin ini adalah garibyang menyenangkan untuk memulai percakapan pertama mereka.


"Kapan anda pulang? " pertanyaan yang dia lontarkan tidak lah salah. Tapi kenapa yah suaminya itu tidak ada bereaksi sama sekali?,hanya raut datar yang dia tunjukan. Mungkin ini adalah pertanda pertanyaan tidak akan di jawab.


"Apakah hari ini hari yang menyenangkan bagi Tuan? "


"Kalau menurutku hari ini adalah hari yang menyenangkan! " katakanlah saat ini dia sedang caper, karena kenyataannya memang seperti itu.


"Ah.Apalagi mataharinya tadi diluar sangat terik. Sangat terlihat bahwa matahari pun merasa hari ini adalah hari yang menyenangkan" karena pertanyaannya yang tidak di jawab, semakin lama pertanyaannya ini semakin melantur saja sampai-sampai matahari yang gak tau apa-apa di bawak ke topik pembicaraan.


Mencoba untuk tidak sakit hati, karena merasa dirinya saat ini terlihat memalukan. Alanaka tetap berkata "Apakah Tuan seriawan?, makanya pertanyaannya ku dari tadi tidak di jawab" Tanpa Alanaka sadari perkataannya satu itu akan membawanya ke malapetaka yang dia ciptakan sendiri.


"BIBI LENI" teriakan itu sungguh sangat menggema membuat hampir seperempat tempat di mansion dapat mendengarkan teriakan itu.


Alanaka memandang binggung ke pria yang ada di depannya. Kenapa dia tiba-tiba berteriak? tidak bisa kan dia berbicara lembut daripada harus berteriak. Sampai Bibi Leni beserta pelayan-pelayan lain yang berada jauh dibelakang bibi Leni yang sedang berlari, membuat Alanaka semakin di landa binggung.


"Baik Tuan" daripada dia yang dihukum nanti, lebih baik dia. Bibi Leni memberikan jawabannya dengan tegas tanpa mau membantah.


Melihat Nexlon berlalu dari sana, tanpa basa-basih Bibi Leni menarik tangan Alanaka dengan kasar, menariknya entah kemana yang Alanaka sendiri tidak tau bahkan dia saja tidak mengerti akan ada masalah yang menantinya.


Melewati koridor-koridor mewah, hingga mereka sampai di sebuah koridor yang sangat-sangat sunyi bahkan auranya terlihat jarang di lewati. Dan bahkan juga para pelayan tidak ada lagi terlihat berlalu-lalang.


"Masuklah Naka. Maaf kan Bibi Naka tidak bisa membantumu" Bibi Leni berkata dengan nada menyesal.


"Wah Bibi selalu saja meminta maaf padaku, ayolah bibi. Bibi itu tidak ada salah apa-apa"meskipun dia tidak tau apa yang terjadi, Bibi Leni tidak pernah berbuat salah padanya,sehingga menurutnya untuk apa meminta maaf jika tidak ada salah?.


" Kau di luan masuk Naka. Bibi sebentar akan disini"


"Baiklah Bibi. Naka masuk dulu" perkataan sungguh polos itu sungguh menyayat hati Bibi Leni pada rasa bersalahnya pada Alanaka.


Melihat Alanaka sudah masuk keruangan itu. Setetes air mata Bibi Leni terjatuh di pipinya. Ruangan ini adalah hal yang sangat dia takutkan, mengantarkan banyak orang ke dalamnya membuat dia merasa adalah orang yang tak berguna. Selalu setiap malam dia panjatkan lewat doa-doa nya pada sang Pencipta agar ruangan ini kelak akan di musnahkan atau di singkirkan


Menghela napas sejenak, merasa dirinya sudah mampu untuk masuk. Bibi Leni masuk kedalam ruangan itu "Tuan dia adalah pelayanan yang melakukan kesalahan. Hukum lah dia seperti hukuman pelayan yang melakukan kesalahan. Ini adalah perintah langsung dari Tuan muda" saat masuk lebih dalam pada ruangan gelap nan menyeramkan itu, Bibi Leni terpaku pada sosok Alanaka yang terdiam dengan raut ketakutan saat memandang seorang pria yang sedang mengasah pisau yang sangat besar, mengingat tujuan awal dia masuk keruangan itu. Mau tak mau Bibi Leni mengatakan perkataan itu. Membuat badan Alanaka gemetar seketika, sungguh Alanaka sangat-sangat takut saat ini,belum tadi dia dihadapkan dengan seorang pria sedang mengasah pisau yang sangat besar sekarang dia mendapatkan fakta yang mengejutkan dari tujuan dia datang kesini.


"Saya ijin pamit Tuan" Setelah mengatakan itu Bibi Leni berlalu pergi dari ruangan itu, tanpa memandang atau melirik Alanaka sana sekali.


"B-Bibi" Alanaka berkata dengan suara bergetar, membuat pertahanan Bibi Leni ingin hancur.


'Maaf kan Bibi Naka'


... :...


...TO BE CONTINUE...


...----------------...


⚠typo bertebaran akan di revisi jika cerita sudah tamat.


Hai guys apa kabar?


Hari ini Author update dua episode loh!


semoga kalian sukak yah ;)


Oh yah Ramein dong cerita ini sama komentar kalian. Biar main seru hehehe


Eh kalian hari ini apa kabar?


awal kalian kenal cerita ini darimana?


Hayo..... jawab yah...


Dadah, hari ini sapa-sapa nya cuma ini doang hehehe.


SEE YOU NEXT TIME :)