
Selamat malam readers 🌌.
Author ingin memberitahukan kalian bahwa author akan up setiap hari, namun pada waktu malam. Kenapa malam thor? Jawabannya... Author memiliki waktu untuk update hanya bisa malam, karena author juga punya kesibukan. Dan yang paling valid author mendapatkan ide untuk alur cerita ini pada saat malam. Aneh banget kan? Jawabannya dalam hati yah 😬.
*Oh iya. Sejauh ini tidak ada komentar buruk kalian tentang cerita ini, dan itu sudah cukup banget buat author. Cerita ini juga belum rame banget, seperti cerita-cerita yang lainnya. Tapi tetap sama ! author bersyukur.
Sebetulnya yah readers author gak nyaman tau nyebut diri sendiri itu....Author padahal mah memang author. Tapi entah kenapa rasanya itu lebih kek tua aja gitu... Padahal author masih muda banget* 😓. Gak usah heran yah... soalnya ingin berkarir sebagai penulis sejak dini. Kalau kalian juga ada yang seperti itu atau ingin seperti itu? Ayo! Tunjukkan pada diri kalian dan orang lain bahwa kalian itu bisa!!.
Gak usah takut kalau cerita kalian tidak rame. Karena namanya memulai! Tidak bisa langsung indahhh pasti ada pahitnyaa dulu!.
Btw kalian ada rekomendasi gak untuk buat panggil untuk author?!. Kan author lagi...huh 😥.
... HAPPY READING...
... :...
...----------------...
Pagi menjelang. Udara pun masih segar, embun pagi bertebaran didahan, dan semua manusia memulai aktivitasnya entah itu bekerja, dirumah bersantai, atau berangkat sekolah.
Yah itu lah indahnya rutinitas manusia. Tapi masih banyak saja mengeluh dan tidak bersyukur. Memang sangat tidak menghargai jerih payah Sang Pencipta untuk setiap kehidupan umatnya.
Alanaka sudah rapi dengan pakaian pelayannya, dia sudah siap untuk melakukan segala rutinitasnya setiap hari dan satu minggu lewat satu harinya. Yah... menjadi seorang pelayan tanpa digaji dan menggantikan semua pekerjaan para pelayan.
Dan ingat! Tidak ada sarapan atau makanan untuknya sebelum menyelesaikan semua tugasnya. Karena hal ini juga, bisa diperkirakan Alanaka tidak terlalu merepotkan Nexlon. Sudah menjadi pembantu gratis plus hanya memberikannya makan sekali sehari. Kenapa sekali sehari? Yah... Karena Alanaka baru bisa menyelesaikan semua tugasnya saat malam.
Alanaka mengawali paginya dengan senyuman manis, walaupun itu adalah topeng untuk menutupi segala lukanya. Luka dalam artian tak kasat mata!.
Saat kakinya memasuki mansion mewah itu tidak ada kebahagiaan yang bisa dia dapatkan, yang ada tempat itu menjadi sumber dari segala luka yang diterimanya.
Jika kalian menjadi Alanaka. Apa yang akan kalian lakukan? Apa kalian akan menyerah? Atau bertahan?.
Katakanlah Alanaka itu bodoh dan naif, karena itu memanglah kenyataannya. Tidak dirumah keluarganya atau bahkan dirumah suaminya sendiri dia tetap sama, bodoh dan naif!.
Tapi satu hal yang kalian harus tau! Bodoh dan naif bukanlah jati diri Alanaka sendiri. Itu semua hanya kepalsuan yang terbentuk dari semua penderitaan yang dia terima.
"Alanaka fighting! " Tidak ada yang akan menyemangatinya, dirinya pun jadi. Bibi Leni sudah menjauh darinya, melihatnya tapi seolah tidak mengenalnya. Tidak tau kenapa yang jelas hanya Bibi Leni lah yang mengetahui jawabannya. Walaupun Bibi Leni adalah teman pertama Alanaka dan sekarang dia harus kehilangan teman pertamanya.
Tidak ingin membuang-buang waktu Alanaka pun mulai mengerjakan satu persatu semua pekerjaannya.
📝📝📝
Saat ingin keluar dari mansion menuju halaman untuk mengerjakan salah satu tugasnya, Alanaka berpapasan dengan Nexlon. Seperti biasa Nexlon hanya berjalan melewatinya tanpa meliriknya sedikit pun.
"Nexlon" sapa Alanaka yang spontan memberhentikan langkah kaki Nexlon. Sehingga Nexlon membelakangi Alanaka dan Alanaka berhadapan dengan punggung Nexlon. Posisi yang klasik.
"Apakah tidur nyenyak? " itu hanya perkataan basa-basi saja. Ingatkan kalian pada keputusan Alanaka ingin membuat Nexlon jatuh cinta padanya?! Dan inilah salah satu trik Alanaka untuk meluluhkan hati beku Nexlon, memulai pembicaraan entah yang masuk akal atau tidak yang penting mereka memiliki interaksi.
Meskipun Nexlon sudah memiliki kekasih, namun itu tak urung membuat Alanaka menjadikannya alasan untuk menyerah. Bagaimana pun baginya pernikahan harus sekali seumur hidup, entah itu cinta ataupun tidak! Dia tidak ingin menjadi umat yang jahat pada Sang Pencipta, karena telah melanggar janji suci pernikahan. Yang salah satunya tidak boleh bercerai!.
"Apakah pagi mu juga menyenangkan? "
Nexlon membalikkan tubuhnya agar bersitatap dengan Alanaka. Lalu dirinya berkata. "Tidak! Dan itu semua karena mu!! " ucap Nexlon dengan datar, yang sekali berkata berhasil merusak mental orang yang mendengarnya. Namun ini adalah suatu hal yang langka, karena jarang-jarang cobak Nexlon merespon ucapan Alanaka.
"Kau menyindir ku? " pura-pura tidak tau dan pura-pura tidak peka. Sepertinya membuat Nexlon marah adalah kesenangan Alanaka.
"Cih... " hanya decakan sinis yang diberikan Nexlon sebelum berlalu pergi dari sana. Dia sudah muak melihat orang yang didepannya itu.
"HEI! Tampan Jangan sinis, ini masih pagi" menurut Alanaka sedikit agresif mungkin tidak apa. Bagaimana pun ini semua dia lakukan untuk Nexlon luluh padanya.
Namun jika sedikit dipikirkan, apa yang dilakukan Alanaka tidak lah agresif. Mungkin itu terjadi karena pikiran Alanaka sedang koslet akibat sedikit bahagia.
"Tersenyumlah Nexlon! Karena dengan tersenyum kau terlihat semakin tampan! " perkataan penuh pujian itu sedikit Nexlon dengarkan sebelum lift tertutup dan membawanya ke lantai atas.
Jauh dari posisi Alanaka dan Nexlon tadi. Ternyata Bibi Leni dari jauh memperhatikan interaksi suami dan istri itu. Dan Bibi Leni dapat menilai ada banyaknya keberanian dalam diri Alanaka untuk mendekati Tuan Mudanya yang memiliki hati beku itu.
Meskipun menyaksikan semua hal itu, ekspresi wajah Bibi Leni hanya datar dan anehnya kedua tangan Bibi Leni mengepal kuat.
Entah apa yang ada dipikirkan Bibi Leni hanya dia dan Sang Pencipta lah yang tau!.
"Ah... Entah kenapa mengingat perkataanku tadi pada Nexlon sedikit memalukan. Yah... sedikit memalukan" Alanaka berbicara pada dirinya sendiri , karena memang tidak ada orang selain dirinya.
"Astaga... Alanaka apa yang kau katakan itu sedikit memalukan! " walaupun bibirnya mengatakan sedikit itu semua tidak bisa dipastikan benar, karena pipinya sendiri tiba-tiba merona.
Merasakan pipinya sepertinya merona, Alanaka memegangi kedua pipinya dengan kedua tangannya, bibirnya tersenyum manis. Dan kakinya di hentak-hentakan dengan gemas. Segala ekspresi yang dikeluarkan Alanaka sangat lebay. Padahal hanya berbincang sebentar dengan Alanaka yang menjadi dominan dalam berkata.
Tapi kenapa? Hal itu menjadikan Alanaka sangat lebay.
"Ayo Naka. Untuk apa kau malu! Hehehe iya untuk aku malu?! "
"Malu! ya.... Aku tidak Malu" Kepala Alanaka menggeleng-geleng. Dia sedang menahan malu!.
"Naka! Ingat dirimu masih memiliki banyak pekerjaan..!! " meskipun ada sedikit malu tersisa dalam dirinya Alanaka mulai melanjutkan tugasnya.
Sepertinya pekerjaan Alanaka akan bisa selesai dengan cepat, dilihat dari suasana hatinya yang sedang berbahagia.
... :...
... TO BE CONTINUE...
...----------------...
Tetap happy! walaupun ceritanya belum rame!!.
Btw, gak ada yang namanya happy kan?.