
...HAPPY READING...
...:...
...----------------...
Flashback
"KENAPA KAU HANYA TAU TIDURAN SAJA!"
"PEKERJAAN MASIH BANYAK YANG MENUMPUK! " Belinda berteriak keras didepan Alanaka kecil yang masih mengenakan seragam putih biru.
Saat pulang sekolah Alanaka tertidur dikamarnya, itu bukan semata-mata dia lakukan karena malas. Akan tetapi Alanaka sedang merasa hangat diseluruh tubuhnya, bisa dibilang Alanaka sedang demam.
"KAU INGIN MENJADI NYONYA DI RUMAH INI! " Tapi Belinda tetap sama! Menjadi seorang ibu yang egois yang tidak ingin tau keadaan Alanaka seperti apa.
"Mama Naka sakit, semua tubuh Naka terasa hangat. Sepertinya Naka sedang demam Ma." Alanaka kecil berucap dengan lirih.
"Cih... kau berbohong! " jika seorang ibu yang sebenarnya, ketika anaknya berkata seperti ini, dia akan dengan panik nenggecek kening anaknya atau leher anaknya berusaha untuk memastikan apakah anaknya ini benar-benar demam atau tidak. Tapi definisi ibu dajjal seperti Belinda, pasti akan merasa itu hanya alasan anaknya untuk berbohong.
"Naka tidak berbohong Mama. " Alanaka memberikan pembelaan pada dirinya, biasanya jika orang sakit wajahnya akan pucat dan salah satunya adalah Alanaka. Saat ini wajah Alanaka terlihat pucat, namun Belinda yang sedang dikuasai amarah tidak mengetahui keganjalan itu. Lagian jika tidak dikuasai amarah, sepertinya sangat mustahil Belinda akan peduli.
Srek
Belinda menjambak rambut tipis Alanaka dengan kuat.
"Sttttsss." Alanaka tentu saja mengeluarkan ringgisan kesakitan akibat jambakan di rambutnya yang dia dapat.
"Sakit Ma... " Alanaka mengeluh kesakitan pada Belinda, yang ditanggapi Belinda dengan semakin menarik tangannya untuk mengencangkan jambakan pada rambut Alanaka.
"Anak kecil sepertimu sudah tau bohong ternyata yah. " tanpa mencari tahu terlebih dahulu, dengan seenak hatinya Belinda menuduh Alanaka berbohong. Adakah ibu yang kejam seperti Belinda ini?
"Naka jujur Ma. Naka tidak berbohong Ma. "
"SUDAH BERAPA KALI KUKATAKAN PADAMU SIALAN UNTUK TIDAK PERNAH BERBOHONG! " urat-urat pada wajah Belinda terlihat menonjol, akibat segala amarah yang sedang menguasainya dirinya.
"LIHAT! SEKARANG KAU SEDANG MEMAKAI SERAGAM SEKOLAH. DISEKOLAH GURU-GURU MENDIDIK MU UNTUK TIDAK PERNAH BERBOHONG, APALAGI KEPADA ORANG TUA! TAPI KENAPA SEKARANG KAU BERANI BERBOHONG PADAKU?! " Belinda berteriak dengan hebat, tidak mempedulikan jika suaranya bisa saja sampai ke rumah tetangga.
"Apakah aku harus membuat mu berhenti sekolah?! Karena menurutku percuma saja kau sekolah. Jika kau saja tidak mematuhi semua didikan yang diberikan oleh guru-guru mu. Bukankah guru-guru itu akan capek mendidik murid tidak tau bersyukur sepertimu?! " perkataan Belinda barusan membuat Alanaka seketika panik dan takut. Alanaka tidak ingin dia berhenti sekolah. Apa yang harus dia lakukan jika berhenti sekolah? Bukankah dia akan menjadi anak yang bodoh tanpa ada pendidikan!
"Naka tidak mau berhenti sekolah. Naka tidak berbohong Ma, Naka benar-benar sedang sakit. " memikirkan pendidikannya akan putus, jika sang Mama tetap berpikir dia sedang berbohong dan tidak ingin mengakui. Alanaka kembali berusaha menjelaskan tentang semua kebenaran.
"DIAM! AKU SUDAH MUAK MENDENGAR MULUT SIALAN MU ITU TIDAK MAU MENGAKU. "
Plak
"LEBIH BAIK KAU MATI SAJA SIALAN! "
"TIDAK ADA GUNANYA KAU HIDUP. JIKA HANYA TAU UNTUK BERBOHONG. "
Plak
"UANG SUAMI KU HABIS HANYA DENGAN MEMBIAYAI SEMUA KEBUTUHAN MU!! "
Deg
Dari semua perkataan Belinda yang kejam. Perkataan Belinda barusan berhasil menembus tembok kokoh dilubuk hati terdalam Alanaka.
"NAKA TIDAK SIALAN MAMA! NAKA INI ANAK MAMA SAMA PAPA. JADI NAKA TIDAKLAH BEBAN! SEMUA KEBUTUHAN HIDUP NAKA PAPA HARUS BERTANGGUNG JAWAB. " segala rasa sakit yang diderita Alanaka, mampu membuat dirinya berteriak membalas perkataan sang Mama. Memang membalas perkataan orang tua dengan teriakan, itu adalah dosa. Apalagi Alanaka melakukan hal itu karena membantah ucapan sang Mama. Namun, rasa sakit yang teramat malam membuat Alanaka kecil tidak memikirkan dosa.
"BERANI AKU BERTERIAK PADAKU SIALAN! "
Plak
Plak
Tamparan Belinda layangkan untuk Alanaka kecil. Tamparan yang berkali-kali lipat lebih kuat, membuat tubuh kecil Alanaka terhempas ke lantai.
Buk
Buk
Buk
Buk
Buk
Tidak cukup hanya tamparan, Belinda menambahkan tendangan pada tubuh kecil Alanaka, sambil mulutnya berkata. "MATI SAJA KAU ANAK SIALAN! "
📝📝📝
"Tuan bukankah kita harus membawa Alanaka ke rumah sakit? " Bibi Leni bertanya pada Nexlon. Dengan mengandung nada kekhawatiran.
"Tidak! " ucap Nexlon penuh perintah mutlak tanpa bisa ditolak.
Mendorong tubuh Alanaka dengan sengaja hingga terjun bebas ke lantai satu, bukanlah kekejaman Nexlon yang sebenarnya. Akan tetapi, kekejaman Nexlon yang sebenarnya adalah membiarkan tubuh kritis Alanaka menerima obat seadanya tanpa perlu membawa ke rumah sakit atau menghubungi dokter!
"Dokter Tuan? " kali ini Bibi Leni berkata dengan pelan. Butuh keberanian yang sangat banyak bisa bertanya seperti ini.
"PENGAWAL! " Nexlon berteriak. Hingga seseorang pria berpakaian hitam mendekati Nexlon, sepertinya pria itu adalah seorang pengawal.
"Ya Tuan Muda. " setelah membungkukkan tubuhnya penuh hormat, pengawal itu kemudian berkata dengan nada tegas.
Nexlon melirik Bibi Leni dengan sudut pandangnya, lalu kemudian menatap pengawal itu dengan tajam. Pengawal itu yang seolah mengerti arti tatapan Nexlon, pengawal itu menghampirimu Bibi Leni.
"Permisi, anda diminta Tuan Muda untuk segera pergi dari ruangan ini. " ternyata ini lah arti dari tatapan Nexlon.
"Hahhh, saya pamit Tuan." Bibi Leni tau bahkan sangat tau tabiat dari seorang Nexlon. Sehingga wanita tua itu memilih untuk menuruti permintaan sang majikan. Lagian itu lebih baik dia lakukan, daripada harus membantah yang berujung dirinya mendapat konsekuensi.
Bibi Leni melangkah pergi meninggalkan kamar kecil milik Alanaka, di ikuti pengawal tersebut dari belakang.
Saat tubuh Alanaka terjatuh dari lantai satu, yang menyebabkan tubuhnya mengeluarkan banyaknya darah serta akibat fatalnya menarik kesadaran Alanaka. Nexlon tidak memiliki niat atau tidak memberikan perintah kepada anak buahnya untuk membawa Alanaka ke rumah sakit atau hanya sekedar memanggil dokter.
Nexlon hanya menyuruh anak buahnya membawa tubuh berdarah-darah Alanaka ke kamar kecilnya. Dan Nexlon memberikan perintah pada Bibi Leni untuk memberikan obat seadanya pada tubuh Alanaka.
Darah memang sudah berhenti dari tubuh Alanaka, akan tetapi mata Alanaka tetap saja tertutup rapat. Mungkin itu adalah konsekuensi dari tidak adanya tindakan lanjut yang diberikan dengan serius pada tubuh kritis Alanaka.
Sepertinya hanya Tuhan yang tau. Apakah Alanaka akan bisa membuka matanya atau justru sebaliknya mata Alanaka akan tertutup selamanya!
"Mati mu adalah bahagia ku! Jadi... Matilah. "
📝📝📝
"Hiks... hiks... NAKA " dapur! Menjadi tempat teraman untuk Bibi Leni menumpahkan tangisannya.
"NAKA hiks.... hiks.. Maafkan Bibi. " tidak kuat menahan goncangan hebat akibat tangisan yang tak tertahan. Bibi Leni menyandarkan tubuh rapuhnya pada dinding. Di duduknya Bibi Leni menekuk kedua lututnya, mengangkat kedua tangganya untuk menutupi wajahnya yang berderai air mata.
"Wanita malang. Hiks... maafkan Bibi. " saat ini Bibi Leni sangat rapuh. Karena bagaimanapun juga Alanaka sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Bagaimana dia bisa menahan tangis, jika didepan mata kepalanya sendiri dia melihat sang wanita yang dia anggap tubuhnya terbujur kaku di tengah-tengah genangan darah? Belum lagi suaminya yang tidak ingin memberikan tindakan lanjut pada tubuh kritisnya yang sangat-sangat membutuhkan pertolongan medis!
"Maafkan Bibi Naka... Maafkan Bibi." dalam detik-detik dan menit-menit. Bibi Leni tak henti-hentinya mengucapkannya maaf dengan menyebutkan nama Alanaka. Sat ini Bibi Leni benar-benar dihantui rasa bersalah.
"Andaikan Bibi berani melawan Tuan Muda dan membawamu sekarang ke rumah sakit, untuk mendapatkan tindakan lanjut dari tim medis. Mungkin saat ini kau tidak akan berbaring di kasur kecilmu Naka... "
"... Maafkan Bibi Naka...Maafkan Bibi. "
"Hiks maafkan Bibi. "
"Hiks maafkan Bibi. "
"AH MAAFKAN BIBI NAKA HIKS... "
📝📝📝
"Mama." panggil Milka dengan suara lembut miliknya kepada sang Mama.
"Iya sayang. " jawab Belinda tak kalah lembut dari panggilan sang anak. Bibirnya tersenyum manis sambil menatap sang anak.
Saat ini kedua wanita yang berbeda umur itu sedang berada dimobil, dengan sopir yang duduk didepan sambil menyetir mobil.
"Kenapa Mama membenci Naka? " pertanyaan sederhana Milka lontarkan kepada sang Mama. Hingga senyum manis dari Mamanya musnah.
"Mama Milka bertanya loh... "
"....Mama masa Milka dicuekin sih." bibir Milka cemberut manja, Belinda yang melihat dait gemas dari sang anak sangat tidak tahan untuk terus diam saja.
"Jangan cemberut dong. Nanti bibirnya ilang dicuri, hehehe. "
"Is Mama. Gak dicuri juga kali, lagian siapa coba yang mau nyurik bibir manusia? . Tapi kalau uang jangan tanya! pasti ada yang mau mencurinya. "
"Ayo dong Ma jawab pertanyaan Milka. "
"Ingin tau jawabannya? "
"Sangat ingin tau! " Milka mengangguk-angguk kan kepalanya dengan antusias, membuat Belinda rasanya ingin sekali mencubit pipi anaknya ini.
"Mama membencinya, karena dia menjadi penyebab. Kamu dan Mama berpisah selama dua tahun dan karena dia juga penyebab aku harus merasakan beberapa bulan dirawat di rumah sakit serta psikolog! "
...:...
...TO BE CONTINUE...
...----------------...
Udah dulu yah readers
Dadaah.... JANGAN LUPA (VOTE AND KOMEN!)