Alanaka

Alanaka
Ada Apa Dengan Bibi Leni?



Udah lama gak up maaf banget yah readers 🙏, ada banyak halangan yang menjadi faktor author tidak bisa up.


Semoga para readers masih setia membaca cerita Alanaka.


Author sangat berharga banyak, pada kalian.


...HAPPY READING...


...:...


...----------------...


...Satu persatu semuanya mulai menjauh dari ku, apa salah ku sehingga itu terjadi?. ...


...Alanaka...


"BIBI LENI " sapaan itu terdengar sangat ceria, membuat siapa saja yang mendengar dapat tertular ke cerian itu.


Alanaka berdiri dengan tegak di depan Bibi Leni, tersenyum manis. Walaupun sebenernya senyum manis itu tidak terlihat manis namun sebaliknya terlihat buruk.


Mendengar sapaan itu Bibi Leni yang awalnya sedang fokus menyapu halaman luas mansion, di buat terdiam.


"Bibi Naka bantu yah, menyapu halamannya?!" tanya Alanaka pada Bibi Leni, namun Bibi Leli hanya terdiam dengan segala perkataan-perkataan seseorang yang menghantui pikirannya.


Tidak menunggu respon dari Bibi Leni. Alanaka mulai menyapu halaman, dia tidak melihat keterdiaman Bibi Leni.


"Apakah Bibi sudah sarapan? " tanya Alanaka dengan sedikit melirik kearah Bibi Leni. Tapi, dia menemukan Bibi Leni hanya diam seperti sedang melamun.


"Bibi? Bibi Leni kenapa? " ucap Alanaka dengan sedikit memberi sentakan pada bahu Bibi Leni.


"Ah. Bibi tidak Papa"


"Ouh, syukur lah Bi" meskipun Alanaka berkata syukur, Alanaka juga dapat menilai Bibi Leni banyak diam hari ini. Namun Alanaka berusaha berfikir positif, karena bisa saja bukan saat ini Bibi Leni sedang mendapatkan masalah? Dan dia tidak punya hak untuk mengetahuinya.


Jika pun Bibi Leni ingin curhat dengannya. Alanaka akan menerima dengan senang hati, namun jika sebaliknya Alanaka akan menghormati keputusan Bibi Leni. Lagian mereka saja baru kenal, masak sudah curhat. Walupun itu bisa jadi.


"Oh ya. Tadi Naka bertanya, namun karena Bibi melamun Bibi tidak bisa menjawab. Kalau begitu Alanaka akan mengulangi pertanyaannya, Apakah Bibi sudah sarapan? " tanya Alanaka dengan mengulangi pertanyaannya.


"Sudah" Singkat, padat, dan tepat.


📝📝📝


"Wah masakan Bibi sangat wangi. Bahkan perut Alanaka sampai keroncongan mencium wanginya" puji Alanaka sesuai fakta. Memang masakan Bibi Leni wangi, hal ini sebenarnya bukan lah pertama kali baginya mencium wangi masakan Bibi Leni, lalu perutnya akan keroncongan. Tapi ini adalah pertama kalinya dia memuji dan membahas hal ini.


"Terimakasih"


"Tidak perlu berterimakasih Bibi. Apa yang Naka katakan adalah fakta"


Tidak ada lagi respon dari Bibi Leni, dan topik itu pun harus berhenti untuk di bahas.


📝📝📝


"Apakah Bibi sudah selesai? "


"Kalau Naka sudah selesai, jika Bibi belum selesai dan membutuhkan bantuan. Bibi boleh meminta bantuan Naka"


"Tidak perlu"


"Baiklah kalau begitu Bibi"


📝📝📝


"Bibi. Apakah Naka memiliki salah pada Bibi? " tanya Alanaka yang sebenarnya sudah tidak tahan dengan perkataan singkat yang Bibi Leni berikan saat dia mengajak ngobrol.


"Tidak! "


" Naka bahagia mendengarnya Bibi " tidak ingin membahas hal ini lebih jauh, Alanaka tidak ingin Bibi Leni teman pertamanya membencinya. Apalagi karena hal sepele ini.


📝📝📝


"HEI. Alanaka kemari lah " teriakan ini berasal dari seorang pelayan yang sebelumnya pernah menceritai Alanaka dari belakang. Yang waktu itu segala perkataan buruknya serta ekspresinya di dengar dan di saksikan oleh Alanaka.


Merasa dirinya di panggil Alanaka mencari sumber suara itu, dari situ dia mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah seorang pelayan munafik.


Alanaka mendekati pelayan itu, Lalu berkata. "Ada apa? " tanya Alanaka, sebetulnya Alanaka bingung untuk apa dia di panggil oleh pelayan ini. Apakah dia telah memiliki kesalahan pada pelayan itu, sehingga pelayan itu memanggilnya?. Namun apapun itu , semoga jawabannya bukan lah hal buruk.


"Aku ingin bertanya pada mu! kenapa wajah mu sangat jelek sekali?! Hahaha aku cuma bercanda jangan di angga serius"


"Eh.Tapi kau menggunakan krim apa sehingga wajah mu seperti itu? Kirim mu sangat buruk!" tanya pelayan itu dengan berpura-pura tidak tau, dia kira Alanaka tidak tau akal busuknya?! Saat Alanaka sedang di marahi dan di siram oleh Nexlon. Tentu saja Alanaka melihat kehadiran pelayan itu dengan sangat jelas dan ingat, bahwa pelayan ini juga berada di tempat kejadian menyaksikan itu semua.


Lalu, apa katanya? CUMA BERCANDA JANGAN DI AMBIL SERIUS. Hei kawan aku ingin bertanya, apakah hal itu adalah bercanda? Tentu jawabannya tidak bukan!.


Lagian hal bercanda mana? Ketika dia berkata bercanda, tapi dia tetap memberi pertanyaan yang bersangkutan dengan wajah buruk Alanaka. Apakah itu adalah definisi bercanda?.


"Ayo kasih tau aku krim apa yang kamu gunakan! , agar kelak aku tidak membeli krim itu. Aku tidak ingin wajah cantik ku ini harus rusak seperti wajah jelek mu sekarang" perkataan ini! Sungguh sangat menghina.


"Apakah kau sedang mengejek ku?! " akhirnya Alanaka angkat mulut untuk bertanya, walupun dia sudah tau jawabannya.


"Tidak! Kau saja yang bawak perasaan. Tapi tidak apalah...jika kau menganggap iya, karena itu bukan hal yang harus ku urusin"


"Sebagai sesama wanita aku ingin memberitahu mu, bahwa wajah mu yang sekarang ini sungguh sangat menganggu untuk dilihat orang!... "


"... Apakah kau tidak malu?! " tanya pelayan itu pada Alanaka.


Pertanyaan ini! Sungguh sangat sulit untuk di jawab Alanaka, apalagi pikirannya saat ini sangat buntuh.


"Kenapa diam?! AH. Aku tau jawabannya, kau pasti malu bukan?! "


"Itu bukan urusanmu! "


"Itu urusan ku! Kau harus tahu, wajah buruk rupa mu itu sungguh sangat menganggu!! "


"Apakah kau tidak bisa diam! Mulut mu itu sangat bau busuk!!" kali ini. Alanaka membalas ucapan pelayan yang bernama Sinta itu tidak kalah hina.


"APA KAU BILANG! " bentak Sinta dengan sangat marah. Wanita ini! Meskipun dia adalah istri dari Tuan Muda nya, namun ayolah! Dia itu tidak dianggap dan lihatlah betapa besar kali nyali wanita buruk rupa itu menghinanya.


"Kau berani padaku? Nyali mu sungguh besar" ekspresi Sinta kali ini seperti psikopat yang membutuhkan mangsa.


"Ah... " ucapan ini sungguh spontan, di kala tangan Sinta menarik rambut Alanaka dengan sangat kuat.


"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menarik rambutku " tanya Alanaka dengan perasaan dongkol tidak lupa juga tangannya menepis tangan Sinta yang berada di rambutnya.


"Menghinamu! Aku memang melakukannya tapi itu semua kau dulu yang memulai" bantah Alanaka dia mana terima di tuduh seperti itu seolah dia yang memulai terlebih dahulu. Padahal kan Sinta duluan yang memulai.


"Aku tidak peduli siapa duluan yang memulai, tapi satu yang pasti. Aku tidak suka kau menghinaku! "


"Kau sungguh jahat! Mana boleh begitu kau bisa menghinaku sedangkan, aku? Masa tidak boleh! Pikiranmu itu sangat picik"


"Stttsss" rintihan Alanaka di kala rambutnya semakin sakit karena di tarik begitu kuat.


Berusaha mengumpulkan tenaga agar bisa menepis tarikan pada rambutnya, dengan amarah yang juga telah menguasainya Alanaka akhirnya berhasil menepis kuat tangan Sinta yang menarik rambutnya.


"Tangan ini tidak pantas menarik rambutku! Tangan ini memiliki banyak sekali bakteri yang bisa merusak rambutku. Jadi sebelum aku meremukan tangan ini sampai hancur, jagalah tangan ini agar tidak berbuat lancang!" untuk membalas rasa sakit dari rambutnya Alanaka mencengkram tangan Sinta dengan sangat kuat bahkan lebih kuat daripada Sinta menarik rambutnya.


"Auh... Ini sangat sakit" bahkan tangan Sinta sampai membiru akibat dari cengkraman Alanaka.


"Aku! Tidak mudah kau tindas" Inilah satu fakta yang tidak kalian ketahui! Alanaka jika bersama keluarganya sangat mudah di tindas, namun sama orang lain yang ingin menindasnya dia akan terlihat kuat dan sulit untuk diruntuhkan.


"Kau! Lepaskan tangan ku!! " sudah kalah, namun tetap merasa tinggi dengan memberi perintah dalam ucapannya. Yah itulah Sinta! Dia sangat angkuh!.


"Kau siapa bisa memberiku perintah?! Ternyata selain bermulut tajam kau juga sangat angkuh, ah... Hai kawan kau sudah kalah! Jadi mari turunkan ego mu dan memohon lah agar aku bisa melepaskan mu dari rasa sakit" sekarang Alanaka lah yang berekspresi seperti psikopat yang membutuhkan mangsa.


Melihat ekspresi menyakitkan dari Sinta, Alanaka menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum puas.


"Kau! AKU MEMBENCIMU" saat ini Sinta merasa hina. Dia kira Alanaka sangat mudah ditindas, namun ini?! Tidak sesuai ekspetasinya, bahkan fakta ini berhasil membuatnya marah pada dirinya sendiri.


'Aku sangat bodoh! Kenapa aku sempat salah menilainya ' batin Sinta mencemoh dirinya sendiri.


"Wajahku sekarang memang sudah buruk rupa, namun itu semua tidak akan bisa membuatku hina! " di saat Alanaka mengatakan ini sekilas di matanya terlintas tatapan menyedihkan.


"Kau tau?! Sebenarnya aku tidak ingin memiliki wajah buruk rupa ini! Nam.. " ucapan Alanaka terjeda.


Di benaknya Alanaka saat ini, Sinta tidak pantas untuk mengetahui rasa sakitnya ini.


"HAHAHA anggap apa yang ku katakan tadi adalah omong kosong! Tenang saja untuk ini aku tidak akan mempermasalahkannya"


"Kau kira aku akan mengasihani mu? Ayolah! Aku tidak melakukan hal bodoh seperti itu"


"Lebih baik sekarang kau lepaskan saja tangan kotor mu ini dari tangan ku!" bahkan di saat kesakitan seperti ini Sinta tetap saja menjunjung tinggi egonya.


"Sudah ku bilang. Kau siapa bisa memberi ku perintah?! Kita berdua sama-sama seorang pelayan di mansion ini, jadi tidak ada gunanya kau bersikap angkuh dan menjunjung tinggi ego mu itu!! " ucap Alanaka, sebetulnya kali ini Alanaka sudah jengah melihat keangkuhan serta ego orang di depannya ini. Bahkan sudah dua kali dia berkata pada orang di depannya ini untuk menurunkan keangkuhan serta egonya. Tapi itu semua hanya sia-sia, orang yang di depannya ini sungguh sangat batu!.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN" suara Bibi Leni berteriak terdengar di gendang telinga kedua orang itu. Mereka berdua dengan serentak menoleh ke sumber suara.


"Alanaka! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau mencengangkan tangan Sinta?! Bahkan tangannya sampai biru! "


"Bibi" ucap lirih Alanaka.


Melihat kesempatan emas ada di depannya, Sinta pun memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan itu. "Bibi tolong Sinta. Tangan Sinta sangat sakit karena di cengkram Alanaka dari tadi, Sinta dari tadi sudah memohon pada Alanaka untuk melepaskannya. T-Tapi dia malah tidak mau dan dia malah menghina Sinta" ucap Sinta dengan semua yang dia katakan penuh kebohongan. Bahkan ekspresi menyedihkannya saat ini mendukung kebohongannya.


"Apa yang kau katakan Sinta! Kau jelas-jelas berbohong!! Bibi percayalah pada Naka bahwa semua yang di katakan Sinta adalah kebohongan" Alanaka berusaha memberitahu Bibi Leni bahwa Sinta sedang berbohong.


"Jika Sinta berbohong mana mungkin saat ini tangan mu mencengkram tangannya dengan kuat! " ucap Bibi Leni tidak percaya pada apa yang di katakan Alanaka. Bibi Leni lebih memercayai perkataan Sinta.


Sebenarnya Bibi Leni tidak ingin mempercayai apa yang di katakan mereka berdua dan tidak ingin membela salah satu dari mereka. Namun saat bukti sudah terpampang di depannya, tidak mungkin kan jika dia harus diam saja? .


"Bibi percayalah pada Naka! "


"Bibi Sinta tidak berbohong, buktinya Bibi bisa melihat saat ini tangan Alanaka masih saja mencengkram tangan Sinta dengan kuat" dengan ekspresi menyedihkannya Sinta melirik tangannya yang memang masih di cengkram Alanaka dengan kuat. Saat melihat lirikan mata Sinta, dengan spontan Alanaka melepaskan cengkramannya pada Sinta.


Saat tangan Alanaka melepaskan cengkraman itu, di hatinya ada setitik perasaan tidak rela melepaskan cengkraman itu. Namun dia tidak ingin Bibi Leni salah paham padanya, mau tak mau dia harus ikhlas.


"Stttttsss.. Ini sangat sakit" rintihan Sinta dengan sengaja.


Tangannya yang di cengkram Alanaka memiliki bekas kebiruan, sehingga hal itu semakin mendukung kebohongannya.


"Bibi kecewa padamu Naka! " ucap Bibi Leni penuh kekecewaan. Dan yah... Bibi Leni lebih mempercayai Sinta daripada dirinya.


"Bibi... " Alanaka menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah apa yang dia katakan bukanlah kebohongan.


"Sinta ayo Bibi bantu obat tin tangan mu" Bibi Leni menarik tangan Sinta yang tidak di cengkram dengan lembut. Kedua wanita yang memiliki perbedaan umur itu berlalu dari sana meninggalkan Alanaka sendiri.


Sebelum benar-benar pergi Sinta membalikkan kepalanya menatap Alanaka dari jauh, sudut bibirnya tersenyum miring. Seolah mengatakan 'aku menang dan kau kalah'.


Dengan perasaan sakit Alanaka menundukkan kepalanya. Dalam batinnya dia berkata. 'Aku tidak bersalah! '.


...TO BE CONTINUE...


...:...


...----------------...


Hai readers 🖖


Untuk kali ini Author sengaja ngasih part banyak untuk kalian, ini hampir 1500 lebih loh!.


Ada yang senang gak?!


Ini author sengaja kasih untuk kalian bisa melepas rindu pada cerita Alanaka ini loh!.


Ada yang bangga gak?


EH. Btw kalian gak marah kan sama Author, karena udah jarang up?


Yok khusus part ini kita adain spam rindu!


Jadi caranya tuh, kalian ungkapin kata-kata rindu kalian atau emoji yang mewakili rasa rindu kalian. Ungkapinnya disini: 👇.


Rindu readers?


Kalau banyak spamnya Author bakalan usahain untuk double up hari ini. Tapi kalau gak banyak maaf nih ye*... 🙏.


Makanya, ayo tunjukan antusias kalian oada cerita ini!


Yah udah sampai sini dulu sapa-sapanya. Bay... Bay.. Semoga hari kalian pada hari ini menyenangkan, membahagiakan, tidak mengecewakan, dan yang.... paling pasti kalian harus menikmatinya.


Untuk menutup sapa-sapanya author punya quotes untuk kalian.


...Hari yang menyenangkan, ketika kamu menjalaninya dengan tidak ada kepalsuan yang tersembunyi! Jadi bongkar lah topeng mu itu, dan tunjukan pada dunia bahwa kamu bisa menikmati hari yang menyenangkan!....