Alanaka

Alanaka
Berusaha Terlihat Baik-Baik Saja



...HAPPY READING...


...:...


...----------------...


Setelah puas melampiaskan betapa rapuhnya dirinya melalui tangisan. Kini Alanaka memutuskan untuk memenangkan dirinya dengan berjalan-jalan di sekitar mansion.


Udara malam yang dingin menembus kulitnya, walaupun dia memakai baju yang panjang serta rok yang panjang tetap saja udara dingin itu menembus kulitnya.


Mengelilingi halaman mansion yang luas itu. Hingga dari kejauhan dia melihat keberadaan Nexlon di sebuah bangku. Bisa di sebut bangku taman, tapi entah lah Alanaka juga tidak tau karena dia baru melewati bagian halaman ini.


"Malam Tuan"ucap Alanaka yang telah sampai di sisi Nexlon. Dia memilih duduk dan memandang ke samping tepat kearah satu sisi wajah Nexlon. Rahang yang tegas, hidung yang mancung, pipi yang tirus dan bibir tipis yang seksi menghisap sebatang rokok.


"Kamu sungguh tampan! " ucap Alanaka tanpa sadar dan tanpa tau malu.


"Maaf aku hanya mengaguminya Tuan" Alanaka memilih mengucapkan maaf di kala tatapan elang milik Nexlon melihat kearahnya.


"Bagaimana hari mu saat ini Tuan? "


"Kalau hari ku saat ini tidak lah baik"


"Apakah kamu sudah makan Tuan? "berusaha membuka perbincangan, tapi harus berhenti di satu topik dan berganti topik lagi di kala Nexlon memilih diam dengan pandangan ke depan dengan datar.


Keadaan sunyi sejenak dengan kedua manusia sibuk dengan dunia dan pemikirannya. Sampai lagi-lagi Alanaka lah yang membuka perbincangan " Tuan. Apakah berbicara dengan mu adalah suatu kesalahan?... " raut wajah Alanaka saat mengatakan ini sungguh susah di tebak.


Hah, menghela napas sejenak sebelum berkata "... Jika iya maaf kan aku. Karena aku akan terus mengulanginya, tidak peduli seberapa keras kamu ingin terus menghukum ku"


"Aku tidak bercanda. Dan itu sudah terbukti ketika dari tadi aku mengajak mu berbicara"


"Waktu semakin malam aku ijin pamit terlebih dahulu Tuan" Apa yang Alanaka katakan tidak berbohong. Waktu dari tadi terus berlalu, meskipun perbincangan yang mereka lakukan ah atau hanya Alanaka yang melakukan sangat singkat. Tapi tetap saja detik demi detik dengan cepat berlalu.


Senyuman yang teduh Alanaka sampaikan di bibir tebalnya sebelum berbalik pergi. Dia tidak peduli jika Nexlon tidak menanggapinya, tapi lagi dan lagi dia hanya ingin lebih dekat dengan Nexlon dan dapat menerima semuanya.


📝📝📝


Pagi menyapa dengan cepat. Alanka yang sudah siap dengan ritual mandinya bahkan sudah berpakaian. Sekarang dia menunggu kedatangan Bibi Leni membawa seragam pelayannya, semalam seragam pelayannya itu sudah robek di beberapa bagian akibat dari kerasnya dan tajamnya cambukan itu.


Tok


Tok


"Ah.Akhirnya Bibi Leni datang" sambutan pertama Alanaka untuk pagi yang cerah ini kepada Bibi Leni, tidak lupa seulas senyum lebar terlampir di bibir tebalnya.


"Bibi tau? Naka dari tadi menunggu kedatangan Bibi. Hari Naka sudah tidak sabar ingin bekerja" Bibi Leni hanya dapat mengeleng-gelengkan kepalanya melihat gaya bicara Alanaka yang mengebu-gebu.


"He. Kau sungguh tidak sabar rupanya"


"Yah tentu saja Bibi"


"Berpakaian lah Bibi akan menunggu mu, kita berdua akan masuk bersama-sama" arti kata masuk yang dimaksud Bibi Leni adalah masuk ke dalam mansion untuk melakukan berbagai pekerjaan pembantu.


"Bibi tunggu dulu yah. Naka hanya akan sebentar, maaf kan Naka harus embutuo pintunya terlebih dahulu Bibi"


"Tidak apa-apa tutup lah pintunya"


Sebenarnya saat ini Bibi Leni cukup heran melihat tingkah Alanaka, sebab semalam dia hanya diam saja sesaat setelah selesai di cambuk. Namun sekarang dengan cepat dia sudah kembali ceria. Tapi di satu sisi Bibi Leni bersyukur Alanaka telah kembali dan poin plusnya dia semakin bertambah ceria.


"Naka telah siap Bibi. Ayo kita pergi"


"Baiklah ayo kita pergi"


Tidak lupa mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu Alanaka dan Bibi Leni pergi daris aja menuju mansion. Alanaka bersyukur walaupun kamarnya kecil, tapi ada sebuah kunci yang di tinggalkan untuknya, karena kunci itu dia menjadi merasa aman setiap


berada di kamarnya terlebih saat malam.


"Naka belum makan kan. Maka terlebih dahulu makan lah di dapur, para pelayan yang lain sudah makan tinggal kamu yang belum makan. Jadi makan lah terlebih dahulu" ucap Bibi Leni yang tau Alanaka belum makan. Memang Alanaka hanya dapat makan dengan makanan yang sama seperti pelayan di mansion itu.


"Tidak Bibi. Naka tidak ingin makan, Naka hanya ingin berkerja terlebih dahulu"


"Kamu harus makan Naka. Jika tidak kamu akan sakit " Bibi Leni mencoba untuk menjelaskan pentingnya Alanaka makan saat ini.


"Tidak Bibi. Naka sudah tidak sabar untuk bekerja"


"Tidak mau makan yah? Baiklah kalau begitu Bibi akan marah dan tidak mau berbicara dengan mu" ucap Bibi Leni mengancam Alanaka, dia sungguh semoga cara ini mempan untuk Alanaka.


"Bibi. Alanaka ingin segera bekerja. Naka janji setelah selesai Naka akan makan"


"Baik lah jika tidak mau" Setelah mengatakan itu Bibi Leni mengambil ancang-ancang untuk berlalu dari sana.


"Bibi jangan pergi. Baik lah Naka akan makan dulu baru bekerja" Baiklah saat ini Alanaka memilih mengalah. Dia takut Bibi Leni yang merupakan orang baik satu-satunya di mansion ini akan mendiamkannya. Sungguh saat membayangkan nya saja Alanaka ingin menangis.


Bibi Leni tersenyum penuh kemenangan.


"Gitu dong dari tadi" perkataan Bibi Leni tidak taunya telah membuat Alanaka kesal. Menghentakkan kakinya di lantai sambil berjalan ke dapur, dia ingin Bibi Leni mengetahui dia sedang kesal saat ini


...:...


...TO BE CONTINUE...


...----------------...


⚠Typo bertebaran, akan di revisi jika cerita sudah tamat.


Jangan lupa :


LIKE


KOMEN


SHARE


MASUKIN CERITA INI KE PERPUS KALIAN


SETIA NUNGGUIN AUTHOR UP


JADIKAN CERITA INI FAVORIT KALIAN


OH YA. Jangan lupa follow akun author yah.


SEE YOU NEXT TIME :)