Alanaka

Alanaka
Hanya Karena Kopi Tumpah



...HAPPY READING...


...:...


...----------------...


"KU MOHON TOLONG AKU INI SANGAT PANAS HIKS... "


📝📝📝


"Rasanya panas bukan? "


"I-ini panas" ucap Alanaka mengeluarkan keluh kesahnya, setelah mengatakan itu Alanaka beranjak pergi dari sana menuju wastafel dapur.


"Mau pergi!? Tentu tidak boleh! " ucap Nelpon yang tentu saja tidak membiarkan Alanaka pergi begitu saja. Mencengkram tangan Alanaka tidak membiarkannya pergi dari sana.


Lagian enak saja si Alanaka, sudah merusakan berkas-berkas yang seharga miliaran terus ingin lari dari tangung jawab. He! Setidaknya jika tidak bisa mengganti rugi atas kesalahannya, dia harus mau menerima hukuman.


"Kau tidak boleh pergi begitu saja! Enak sekali hidupmu ingin lari dari tanggung jawab"


"Kumohon biarkan aku membasuh wajah ku terlebih dahulu, setelah rasa panasnya hilang dari wajah ku aku janji akan bertanggung jawab setelah"


"Stttts ini sangat panas" Sangking panasnya Alanaka rasanya ingin menangis saja.


"Tidak boleh kau harus tetap di sini! " perkataan itu bak bagaikan sebuah perintah yang tak bisa di langgar sehingga pendengar hanya dapat patuh.


"KAMU JAHAT! " bentak Alanaka yang sudah tidak dapat menahan rasa panas dari wajahnya, belum lagi kekejaman Nexlon semakin membuat kesabarannya habis.


"YAH AKU MEMANG JAHAT. DAN ITU SEMUA KARENA KAU YANG MEMANCINGNYA" Marah karena di bentak oleh manusia sampah di depannya ini, Nexlon memilih membalas daripada harus diam bagaikan orang bodoh.


Cengkraman yang berada ditangansekarang beranjak di dagu Alanaka. "HEI MANUSIA SAMPAH!! Kau pikir kau siapa? Berani sekali membentak ku! "


"Hahaha kau! tidak lebih hanya sampah yang di campakkan keluarga mu. Lantas kenapa mulut ini berani memaki seorang Nexlon, kau tak tahu bukan aku siapa? Dalam sekali perintah saja aku dapat menghancurkan hidupmu! "


"Sekali lagi hati-hati dengan mulut ini saat berbicara, karena bisa aja dari mulut ini nyawa mu melayang" memukul mulut Alanaka sebanyak tiga kali dengan pelan, lalu pergi dari sana.


Namun di setengah jalan kakinya berhenti melangkah, masih dengan posisi sama yaitu membelakangi mulutnya berkata. "Tunggu saja hukuman mu yang selanjutnya, karena aku tidak akan bermurah hati memberikan hukuman sedikit untuk seorang sampah seperti mu apalagi seorang sampah itu telah membuat ku rugi banyak"


"Dan untuk kalian semua jangan biarkan dia membasuh wajahnya sama sekali, jika aku menemukan kalian membantunya kalian sudah tau bukan hukuman apa yang akan menanti!? Apalagi untuk mu Leni!! " setelah memberikan perintah mutlak Nexlon berlalu dari sana.


"Hei sampah, jangan sekalipun kau beranjak dari sana, satu langkah kau beranjak dari sana kau tak akan bisa lagi melihat hari esok!"


'Aku tau aku salah. Tapi tidak bisakah kamu menghukum ku tanpa kekejaman. Kamu tak tahu bahwa ini sangat sakit, aku rasa setelah ini aku akan menjadi orang cacat dan hidupku akan semakin hina. Kamu betul Nexlon bahwa aku adalah seorang sampah! dan mungkin aku akan semakin sampah karena kecacatan ini. Kamu jahat Nexlon '


"Baik Tuan" ucap mereka setelah mengingat seorang pelayan hanya di tugaskan untuk menuruti perintah.


Pelayan-pelayan yang menyaksikan kejadian itu satu persatu bubar dari sana, hingga menyisakan Bibi Leni dan Alanaka.


"Naka maafkan Bibi, karena Bibi tidak membantu mu tadi"


"Untuk menebus kesalahan Bibi ayo Bibi bantu untuk membasuh wajahmu. Bibi tahu itu rasanya sangat panas dan perih


"Tidak Bibi. Bibi tidak salah dan tak perlu menebus kesalahan, ini salah Naka. Bibi tak perlu membantu Naka..."


"Tidak ini salah Bibi" ucap Bibi Leni yang memang merasa bahwa ini adalah salahnya.


"Seandainya saja Bibi tidak membiarkan mu mengantarkan kopi itu mungkin ini semua tak akan terjadi, maafkan Bibi yah Naka. Bibi tahu Bibi salah"


"Is Bibi Naka kan sudah bilang ini tidak salah Bibi, ini itu salah Naka lagian yah kalau seandainya Bibi tidak mengijinkan Naka untuk mengantarkan kopi. Naka akan tetap memaksa Bibi sampai Bibi mengijinkannya" sungguh betapa kuatnya Alanaka saat ini, dia tak peduli seberapa sakit dan perihnya wajahnya saat ini atau bahkan sekarang wajahnya sudah melepuh . Satu yang penting baginya saat ini yaitu menjelaskan kepada Bibi Leni ini semua tidak lah salahnya.


"Sudahlah. Ayo kita basuh wajahmu, lihat sekarang wajah mu itu sudah melepuh, semoga wajahmu itu dapat di sembuhkan. Bibi tak akan bisa melihat jika kau harus menjadi cacat dengan wajah melepuh itu"


"Naka tidak mau. Biarkan seperti ini saja Bibi"


"N-Nak.... " ucap Bibi Leni terhenti dikala Alanaka memotongnya.


"Bibi Naka mohon dengarkan Naka ini untuk kebaikan kita Bibi" tidak ada cara lain untuk meluluhkan keras kepala Bibi Leni selain memasang wajah memelas.


"Baiklah. Maafkan Bibi karena tidak bisa membantu mu"


"Bibi tidak kerja? "


"Tidak Bibi akan menemani mu di sini. Bibi tak ingin kau sendirian di sini" ucap Bibi Leni yang merasakan tidak ada yang salah dari ucapannya, lagian Tuan Mudanya hanya mengatakan tidak membantu Alanaka dan niatnya itu hanya ingin menemani. Tapi jika di pikir-pikirnya dia tak akan peduli harus di hukum karena menolong Alanaka si perempuan yang malang.


"Bibi....Ha ayolah Bibi di sini banyak pelayanan yang akan berlalu lalang melakukan pekerjaan dan jelas-jelas Naka tidak sendiri. Bibi selesaikan saja pekerjaan Bibi. Naka tau pasti Bibi belum menyelesaikan pekerjaan" sesama pelayan di rumah ini Alanaka dapat tau apa saja pekerjaan-pekerjaan yang harus di selesaikan.


"Bibi pamit yah ingin menyelesaikan pekerjaan Bibi, Bibi janji setelah selesai semua pekerjaan Bibi akan menemani mu di sini" ucap Bibi Leni yang baru ingat ada pekerjaan menunggu untuk di selesaikan, apalagi saat mengingat konsekuensi apa yang di dapat jika lalai dalam pekerjaan sebagai pelayan.


"Fighting Bibi" ucap Alanaka menyemangati Bibi Leni.


"Yayaya. Dadada" sungguh lebay sekali, padahal hanya beberapa langkah menjadi pemisah.


Entah secara kebetulan setelah kepergian Bibi Leni, seorang pengawal laki-laki datang menghampiri Alanaka.


"Tuan Muda memerintahkan saya untuk membawa anda ke halaman belakang mansion dan mengawasi anda di sana. Jadi mari ikuti saya" ucap pengawal itu yang ternyata adalah orang suruhan Nexlon.


"Baiklah" tanpa curiga sama sekali Alanaka mengikuti langkah pengawal itu.


"Berdiri lah di sini, ini adalah hukuman yang di berikan Tuan Muda. Hukuman akan selesai jika ada perintah selanjutnya dari Tuan Muda. Dan di sudut sana saya akan mengawasi anda" Seperti perkataan pengawal itu dia pergi dari sana dan mengawasi Alanaka dari sudut sana yang terlampau dingin berbanding terbalik dengan Alanaka yang merasakan panasnya Matahari.


'Sepertinya panas matahari ini mendukung wajah ku semakin cacat. Hahaha Alanaka hidup mu sungguh miris!! "


...:...


... TO BE CONTINUE...


...----------------...


Maaf banget yah guys, karena udh lama banget author gak up soalnya lagi liburan. Maaf yah😥.


Jangan lupa VotKoSh nya yah readers


(Vote, Komen, Share)


SEE YOU NEXT TIME CHAPTER*** :)