Aisa & Aira

Aisa & Aira
Eps 49. Kepulangan Aisa



Satu bulan kemudian, Aisa sudah dapat berjalan kembali dan keadaan sudah seperti sedia kala. Hari ini Aisa sudah diperbolehkan pulang dan Pak Ghibran sudah berada di sana untuk mengantarkannya.


Ceklek!


"Ngagetin aja, Kak." Aisa memegang jantungnya.


"Maaf, sudah siap semua nih?"


"Sudah kak," sambil berdiri dari sofa nya, "yang lain mana, kak?"


"Papa sama Mama kamu ada urusan, Aira juga katanya nemanin Reno ke kantornya." Ujar Pak Ghibran yang sudah memegang tas Aisa, sedangkan Adik lucunya itu sedang menunjukkan wajah kekecewaannya.


"Jangan sedih dong." Sambung Pak Ghibran sambil merangkul Aisa.


Aisa mengangguk pasrah, walaupun ada sedikit kekecewaan di hatinya. Pak Ghibran dengan berhati-hati menuntun Aisa berjalan walaupun tangan sebelahnya sudah dipenuhi dengan barang-barang milik Aisa.


"Hati-hati jalannya, Sayang."


"Aku bisa sendiri, Kak. Lagian kakak pasti susah 'kan? barang aku saja sudah sebanyak itu." Lirih Aisa.


"Ya sudah, tapi pelan-pelan ya?"


"Iya Pak Dosen."


Jalanan ibu kota saat ini sedang ramai sekali membuat Aisa sampai ketiduran karena terlalu lama di jalan. Sesekali, Pak Ghibran menatap Aisa yang terlelap itu. Senyuman pun terlukis disana.


"Kamu adalah yang aku semoga kan sejak kecil Sa, aku janji akan memperjuangkan mu." gumam Pak Ghibran.


Dua jam sudah mereka di jalan, kini keduanya sudah berada di depan rumah Aisa.


"Sayang, bangun." Pak Ghibran terlihat sedang membangunkan Aisa sambil mengguncang tubuhnya.


"Aisa, bangun sayang." Ucap nya lagi sambil mengelus rambut Aisa.


Aisa tersentak saat merasakan tangan yang begitu hangat mendarat di kepalanya. "Hm?" sambil menggeliatkan badannya.


"Aku dimana?" Pertanyaan Sasa yang masih belum sepenuhnya sadar itu membuat Pak Ghibran menahan tawanya.


"Kamu di hatiku, Sayang." Ucap Pak Ghibran membuatnya berdengus kesal.


Aisa akhirnya turun dari mobil, di lihatnya rumah itu begitu sepi dari luar. Bahkan Mang Dadang pun tidak juga kelihatan sekarang.


"Tumben Sepi ya, Kak? Mang Dadang kemana ya?" tanya Aisa sambil celingukan.


"Kita masuk saja dulu ..."


Ceklek!


Begitu membuka pintu, semua lampu terlihat gelap seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di sana.


Namun tiba-tiba ...


"Surprise!!!!!!!"


Aisa terkesiap melihatnya, lampu yang tiba-tiba menyala itu membuatnya terkejut, apalagi matanya tersorot dengan berkumpulnya orang-orang terkasih.


"Kalian di sini?" pekik Aisa.


"Aaaa, makasih banyak." Aisa memeluk Aira dengan erat. Semua merasa bahagia melihatnya.


Namun tiba-tiba ...


"Kau gak rindu samaku?" Suara bariton itu mengagetkan Aisa.


Aisa terkesiap melihat seorang wanita berjalan ke arahnya dari arah belakang, "Rere!" pekiknya.


"Kemana aja kamu?" tanya Aisa lagi.


"Aku ngurusin perusahaan Ayah. Maaf ya gak bisa nemanin kau selama ini."


"Iya gak apa-apa kok."


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Hari ini Pak Ghibran berencana untuk mengajak kedua orang tuanya datang ke rumah Aisa. Pak Ghibran juga sudah membawakan satu buah cincin emas untuk diberikan nya kepada sang kekasih.


"Bagaimana? apa sudah selesai semua?" tanya Ayah Daniswara.


"Sudah ayah, Ghibran sudah membeli cincin kemarin."


"Apa kamu yakin Aisa mau sama kamu?" Kali ini yang bertanya adalah Bunda.


"Yakin Bun, Ghibran yakin." Jawabnya lantang.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita berangkat!" sahut Ayah Daniswara.


Mereka pun pergi di antarkan oleh Supir pribadi Pak Daniswara. Hanya memakan waktu setengah jam, kini mereka sudah berada di halamam rumah Pak Baskoro.


"Jangan tegang banget Bran,". Ledek Pak Daniswara.


"Ayah, jangan di ledekin gitu anaknya. Tuh lihat wajahnya kaya pakai blush on aja." Sahut Bunda.


"Ayah ... Bunda ..." ucap Pak Ghibran kesal, sementara Orang tuanya terkekeh geli melihat tingkah anaknya.


Sementara di dalam rumah, Keluarga Baskoro tidak mengetahui keluarga Daniswara akan datang malam ini. Mereka pun menjalani aktivitasnya seperti biasa.


Aira dan Pak Reno sebenarnya mengetahui semuanya, hanya saja mereka sengaja merahasiakan ini pada orang rumah dan mendukung rencana dari Pak Ghibran.


Pak Reno sudah memberitahu Pak Ghibran bahwa Papa Baskoro dan Mama Risa sedang berada di ruang tv sementara Aisa saat ini sedang berada di taman rumahnya.


Tok! Tok! Tok!


Aisa membuka pintu rumahnya dan dikagetkan dengan pandangan di depan matanya.


"Ka ... kalian?"


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


**Jangan lupa dukung othor ya, mohon maaf semalam gak bisa up, kepala othor pusing. Othor usahain double up yaaaaa...


Love sekebon untuk kalian๐Ÿฅฐ**