
Ceklek!
"Kamu?" ucap mereka serempak.
"Hai...," terlihat orang tersebut salah tingkah.
"Ada apa Aira?" tanya Aisa tak ingin basa-basi.
"Malam ini gue tidur bareng loe ya Sa?"
Aisa tercengang melihatnya, Seumur hidup baru kali ini Aira ingin tidur bersamanya namun anehnya di dalam kamar Aisa juga ada Pak Reno disana.
Pak Reno dan Aisa saling pandang, namun saat Aisa ingin bicara, Reno menahan tangannya menandakan jika yang berbicara biarkanlah dirinya.
"Maaf, Aira. Tapi apa kamu lupa kalau sekarang kakak kamu sudah menikah?" ucap pak Reno dengan sopan.
"Ya, tapi kan dia menikah dengan Kak Nando. Berarti gak apa-apa dong!" jawab nya santai.
"Pergi sajalah, kamu mengganggu malam pertamaku." Kali ini yang menjawab adalah Aisa, Aira tercengang melihatnya.
Bruk!
Pintu ditutup rapat oleh Aisa membuat Aira menjadi geram sekarang.
Sedangkan di dalam kamar, Aisa dan Pak Reno menahan tawa nya. Kemudian Pak Reno mengajak Aisa ke balkon kamar Aisa untuk membicarakan sesuatu.
"Ada apa Pak?"
"Aku tidak menyangka kamu berani kaya tadi."
"Aku hanya geram saja Pak, entah mau sampai kapan dia mengusik hidupku."
"Oh iya, bos mengajak ku kesini hanya untuk mengatakan ini?" sambung nya lagi.
Pak Reno mengangguk "Aku hanya gak ingin Aira mendengarnya, aku bisa menjamin kalau sekarang dia masih berada di depan kamar kamu. Oh iya, aku punya rencana, sini mendekat!"
Aisa mengangguk patuh dan Pak Reno pun membisikkan sesuatu padanya.
Keduanya kembali masuk ke dalam kamar, dan menjalankan rencana tersebut.
"Tahan ya..."
"Iya mas, pelan-pelan ya..."
"Iya sayang..."
"Aw! sakit mas."
Ya begitulah kira-kira suara yang mereka keluarkan hanya untuk mengelabuhi Aira. Benar saja, setelah beberapa menit mereka langsung mendengar suara umpatan dari luar kamar. Keduanya meletakkan telinga di balik pintu, namun saat Aisa ingin berbalik badan, tiba-tiba saja...
Bruk!
Ia menabrak Pak Reno sampai membuat sang empunya kehilangan keseimbangan dan keduanya jatuh ke lantai dengan posisi Aisa menindih nya.
"Aaaaaaaaa!" teriak Aisa
Kali ini, teriakannya memang nyata sampai seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
"Aisa! awas loe ya! jangan macam-macam loe!"
"Sayang... enak sayang!"
"Ah S*it!" kesal Aira yang masih terdengar.
"Maaf Pak," ucap Aisa tanpa suara.
Pak Reno mengangguk lalu keduanya berdiri. Pak Reno baring di sofa dan Aisa duduk di tempat tidurnya. Ia menatap laki-laki yang kini menjadi suami palsunya itu dan beberapa saat kemudian ia memberikan bantal dan selimut untuk bos nya itu.
"Bos, ini....," kata Aisa sambil memberikannya.
Pak Reno mendongak "Ah, iya? Oke, makasih."
"Bos"
"Hm?"
"Bos di kasur aja deh, jangan di sini."
"Kenapa?"
"Masa bos di sofa sedangkan aku di tempat tidur? nanti sampai di kantor malah di pecat lagi." gurau Aisa.
"Di kantor lain, di sini lain. Sudahlah jangan di pikirin. Kamu tidur saja." ujar Pak Reno.
"Tapi Pak..."
"Ini perintah!"
Akhirnya Aisa mengangguk pasrah, bos nya kali ini memang aneh, pikirnya.
🌼🌼🌼
Keesokan harinya, seperti biasa Aisa membantu Bu Inah menyiapkan sarapan. Papa Baskoro menyuruhnya untuk memasak nasi goreng. Papanya sangat merindukan masakan Aisa apalagi jika dirinya memasak nasi goreng, menu itu merupakan favorite keluarga ini.
"Pergi loe!" ketus Aira yang ikut gabung di sana.
"Aku di suruh Papa buat nasi goreng, kenapa kamu mengusirku?"
Namun tiba-tiba saja Pak Reno juga berada di dapur, membuat Aira menjadi salah tingkah.
"Kenapa sayang?" tanya Pak Reno.
"Ini Mas, Aira----" ucapan Aisa terpotong.
"Kak Nando, Aisa mengusirku...," dusta Aira.
Mendengar itu Aisa dan Pak Reno saling tatap, sedangkan Aira tersenyum senang karena melihat ekspresi Pak Reno datar menatap Aisa. Akan tetapi, senyuman itu pudar ketika Pak Reno malah mendekati Aisa dan mengajaknya keluar.
"Sayang, benar kata Aira... Kita keluar aja yuk, kamu jangan masak, biar untuk sarapan nanti kita beli saja."
"Hm, baiklah Sayang." sahut Aisa.
"Kak Nando mau kemana? Kak Nando? Argh!!!!!" teriak Aira membuat bi Inah menggelengkan kepalanya.
"Sabar Non, lupakanlah suami orang." kesal BI Inah.
"Berisik!" ketus Aira sambil pergi.