Aisa & Aira

Aisa & Aira
Eps 29. Benar-benar cenayang!



Beberapa jam kemudian, mereka sudah sampai di sebuah Mall. Sebenarnya Bu Ros sudah mengajak Aisa agar pergi nya ke pasar saja tapi Aisa menolak terus sejak tadi.


"Wah , Mall nya gede ya teh?" ujar Bima membuat hati Aisa tercubit seketika.


"Kamu belum pernah kesini?"


"Belum, Ayah gak pernah ada waktu buat Aku." lirihnya .


"Astaga, ya sudah Kamu jangan sedih ya, mulai sekarang kapanpun Kamu mau, Kamu bisa mengajak Teteh ke Mall, okay?"


"Beneran teh?", Kemudian Aisa mengangguk.


"Asiiiikkkk"


Aisa juga ikut tersenyum melihat tingkah bocah yang berada di depannya itu.


Di dalam mall mereka tampak asik sekali berbelanja, hingga tiba-tiba...


brukkkk


Tak sengaja Aisa menabrak seseorang, kemudian saat mendongak...


"Kamu?" ucap mereka barengan.


Aisa mulai panik, sementara orang tersebut sudah mencekal tangannya.


"Aisa? Ini kamu kan?", sementara Aisa menutup wajahnya pakai masker.


"Tolong lepaskan saya!" tegas Aisa


"Enggak, kamu jujur dulu kalau kamu itu Aisa, iya kan?"


Aisa membuka maskernya "Kalau iya kenapa?"


deggggg!


"Aisa? hiksss..." lirihnya.


"Nama teteh itu Ai, bukan Aisa, Om salah orang." tiba-tiba suara anak kecil terdengar.


"Sayang, teteh kamu ini adik lucunya Om" sahutnya.


"Adik lucu?"


"Iya, coba kamu tanya sama teteh kamu, kenal dengan Kakak Gagah gak?"


deggggg


Aisa ingin sekali menangis namun ia memilih untuk pura-pura tidak tahu.


"Maksud Bapak apa?" suara lantang Aisa mengejutkan Bima.


Laki-laki yang di hadapan Aisa adalah Pak Ghibran, Untung saja Pak Ghibran hanya sendiri karena ia baru saja rapat dengan klien makanya saat ini berada di luar kota. Jika Aira hadir bersamanya maka entah apa yang akan terjadi pada Aisa.


"Bima sayang, kamu deluan aja ya ke cafe nya, entar teteh nyusul kok..."


"Beneran gapapa teh?"


"Benar sayang"


Bima langsung melirik Pak Ghibran "Jangan sakitin teteh aku!" ancamnya membuat Pak Ghibran mengangguk Patuh.


Pak Ghibran mengajak Aisa untuk mengobrol sebentar.


"Ada perlu apa ya Pak?"


"Kamu beneran Aisa?" kemudian Aisa mengangguk.


"Kamu adik lucunya saya."


"Maksud Bapak Apa?"


"Kamu melupakan Kakak Gagah?"


"Aku ingat, tapi buat apa di tanya?"


"Kamu harus tau Sa, aku ini kakak Gagah yang kamu maksud. Aku gak menyangka jika Adik lucu ku itu adalah Kamu."


"Memangnya kenapa kalau itu aku? Bapak gak akan terima ? Ah , iya. Tenang Pak! Aku gak akan mengganggu Pria yang sudah beristri."


"Aku gak permasalahkan kok , Pak! Yang terpenting sekarang Bapak menjaga Aira , sayangi dan lindungi dia. karena dia adikku Pak."


"Jangan panggil Bapak dong"


"Jadi siapa? kakak gitu? Ingat Pak, kalau Bapak statusnya adalah adik ipar ku sekarang."


glekkkk


"Oh iya, aku mohon rahasiakan pertemuan kita, jangan sampai ada yang tahu apalagi orang yang berada di Rumah. Aku pamit dulu, assalamu'alaikum "


"Waalaikumussalam"


🌼🌼🌼


Dini hari, Aisa sudah berada di kantor yang bersebelahan dengan Pabrik. Para satpam tercengang melihat Aisa karena wanita itu sebelumnya sempat mereka rendahkan.


Aisa heran ternyata bos nya akan masuk 1 jam lagi padahal emang dasar dianya saja yang kecepatan datang.


"Pagi Bu" sapa salah satu satpam.


"Bu?" sambil mengernyitkan alisnya.


"Iya , maaf ya Bu kemarin sempat membuat Ibu tersinggung..."


"Apaan sih Pak hahhaha, kenapa panggilan ku berubah menjadi Bu? hei Aku belum jadi Ibu-ibu."


"Tapi Bu Aisa sekarang sudah menjadi asisten CEO di sini, kalau kami tidak memanggil Ibu bisa-bisa kami dimarahin sama Tuan muda."


"Ya sudah terserah Bapak saja. Oh iya, di sini jualan nasi goreng dimana ya? aku tadi belum sarapan."


"Di simpang sana Bu, apa mau kami belikan?"


"Gak usah, ya sudah saya deluan ya..."


Tapi belum sempat Aisa berjalan, tiba-tiba CEO nya datang yang tak lain dan tak bukan adalah Pak Reno.


"Kamu mau kemana?" Tanya Pak Reno sambil membuka sedikit jendelanya.


"Niatnya beli nasi goreng karena saya belum sempat sarapan tadi Pak, tapi karena Bapak sudah datang ya sudah saya tidak jadi pergi."


"Kamu kembali ke ruangan, biar mereka yang beli " ucap Pak Reno, kemudian beliau melirik para satpam itu "Tolong belikkan nasi goreng nya 2 ya, sama teh hangat. Ini duitnya, kalau kalian mau juga gak apa-apa kalian pakai saja Uang ini"


"Baik Pak, Terima Kasih."


Pak Reno memang terkenal dingin, tapi soal makanan ia tidak pelit dengan karyawannya. Para satpam disana semakin tercengang melihat tingkah Pak Reno. Baru kali ini ia bersikap seperti itu sama karyawan apalagi dengan sekretaris nya. Untuk itu selama ini tak ada yang betah bekerja dengannya padahal ia melakukan itu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama saat dulu Sekretarisnya mengkhianatinya.


Pak Reno sudah memarkirkan mobilnya dan kini ia sudah berada dalam ruangannya.


tok


tok


tok


"Masuk!" sahut Pak Reno


"Bapak manggil Saya?"


"Oh iya, Saya cuma mau bilang sama kamu... Untuk hari ini pakaian Kamu bagus, selera Kamu ternyata oke juga..."


"Maksud Bapak?" sepertinya Aisa sudah mulai merasa tersinggung.


"Jangan salah paham dulu, Saya masih heran kenapa kamu sering di bully sedangkan yang Saya lihat kamu sama seperti wanita lainnya."


"Saya memang cupu Pak, Saya culun dan gaya saya juga aslinya kampungan. Tapi saya punya seorang sahabat yang berhasil merubah diri Saya. Tapi Saya malah pergi darinya. Ah Saya bingung sekarang, Apa Saya masih bisa di sebut seorang sahabat?" lirih Aisa saat mengingat sahabatnya itu.


"Pasti dia orang yang sangat spesial ya..."


"Iya Pak, disaat semua menjauhi Saya hanya dia yang mau menemani Saya"


"Saya boleh tebak siapa namanya?"


Aisa mengangguk.


"Apa namanya adalah Rere?"


"Hah?"