
"Aisa!" lirih paruh baya tersebut.
Aisa yang mendengarnya langsung menghentikan langkahnya, ia sangat mengenal suara itu dan laki-laki itu lah yang selama ini ia rindukan. Laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.
"Aisa, anakku. Hiks... " lirih laki-laki itu lagi.
Aisa tetap tidak menjawabnya karena tangisan itu terus membendungnya. Lidahnya kelu, kakinya kaku dan ingin rasanya ia terbang sekarang.
Namun tiba-tiba
Grep!
Tangan kekar itu memeluk Aisa dari belakang dan Aisa membiarkannya.
"Nak...," Sambil mengeratkan pelukannya.
Aisa melepaskan pelukan itu kemudian berbalik arah, ia tatap lelaki yang selama ini ia rindukan.
"Papa....!" lirihnya.
"Kamu disini sayang?"
"Iya pa, papa jangan nangis...," sambil ia hapus air mata itu dengan jemarinya.
Ceklek!
Ruangan Pak Reno terbuka dan ia menyaksikan kerinduan antara Ayah dan Anak itu.
ekhem
"Mohon maaf, Om Baskoro mari ke ruangan saya. Dan kamu juga juga, Aisa!" titahnya
Keduanya mengangguk patuh dan langsung duduk di tempat yang sudah di sediakan.
"Terima kasih, Reno!" ucap Papa Baskoro
"Untuk apa Om? saya gak melakukan apapun!"
"Karena kamu, Saya berjumpa kembali dengan putri saya."
"Bukan saya yang mempertemukannya tapi takdir lah yang membawa Aisa ke sini."
Papa Baskoro menatap anaknya "Bagaimana bisa kamu sampai disini, Nak? bahkan papa sudah mengerahkan anak buah papa mencari kamu. Tapi kenapa tak ada yang berhasil?"
Aisa tersenyum "Fajar adalah orang yang papa kerahkan untuk daerah sini kan?"
"Kamu kok tahu?" lelaki itu Kebingungan.
"Aku pernah jumpa dengannya pa saat ia mencari ku, tapi aku juga bingung kenapa dia tidak mengenaliku." Aisa menahan tawanya.
"Astaga, apa kalian berjumpa disaat kamu sudah seperti ini?" tanya Papa Baskoro, dan Aisa mengangguk.
"Bhahahhah! Dasar payah si Fajar itu! bisa-bisanya dia tidak mengenali putriku saat kamu sudah secantik ini." Sambil di gelengkannya kepalanya.
"Benar kata saya kan, Aisa? tidak ada yang bisa mengenalimu jika melihat penampilan kamu yang sekarang." Sahut Pak Reno membanggakan dirinya.
"Ini semua berkat Bapak, Terima gaji Pak."
Pak Reno mengerutkan alisnya dan Aisa menahan tawanya. Bisa-bisanya ia mengerjai bos nya sekarang.
"Bercanda atuh, hahhaha," tawa itu lepas saat Pak Reno semakin bingung dibuatnya.
"Kamu sudah banyak berubah, Nak."
"Maaf papa, aku hanya tak ingin terlihat lemah"
"Kamu sudah tahu Aira menikah?"
"Lalu?"
Aisa mengerutkan alisnya "Lalu? lalu apa?"
"Bagaimana tanggapan kamu?"
"Biasa saja," dusta Aisa.
"Jika ada yang bisa di salahkan, maka salahkan lah papa Nak. Jika bukan papa yang memberikan ijab pasti itu tidak terlaksana."
"Tidak apa-apa pa, yang penting penyakit Aira sembuh." Aisa sengaja memancing ucapan itu untuk melihat respon dari sang Ayah.
"Dia sudah tidak pernah lagi kesakitan, tapi papa heran dengannya kenapa sekarang jadi lebih suka diam dan mengurung diri di kamar. Padahal saat papa bertanya pada Ghibran, katanya Aira sedang tidak sakit." Papa Baskoro seperti memikirkan sesuatu.
Aisa dan Pak Reno saling tatap, Aisa ingin sekali menceritakan semuanya pada Papanya tapi saat Pak Reno menggelengkan kepalanya Aisa sadar jika kenyataan itu belum bisa di bongkar sekarang.
'Suatu saat nanti, Pa. Aku janji!' gumam Aisa .
🌸🌼🌸
Setelah Pak Baskoro pulang, Aisa meminta Pak Reno menjelaskan semuanya. Tetapi sebelum itu, mereka juga meminta kepada Papa baskoro agar merahasiakan pertemuan ini. Awalnya Papa tidak setuju karena walau gimana pun Mama Risa harus mengetahui juga, tetapi setelah mendengar penjelasan Pak Reno, Papa Baskoro mau menyetujuinya.
"Pak!" panggil Aisa.
"Saya sudah tahu apa yang mau kamu bahas. Sebentar ya, sepuluh menit lagi!" Lalu ia melanjutkan kerjaannya.
"Benar-benar cenayang," Gumam Aisa pelan.
"Ekhm, saya dengar!" Tegas Pak Reno membuat Aisa salah tingkah.
Cukup lama Aisa menunggu, bahkan lebih dari Sepuluh menit. Sampai akhirnya ia ketiduran sekarang di ruang kerja Pak Reno.
"Aisa!" panggil Pak Reno, tetapi tak ada jawaban dari sang empunya.
"Sa!"
Pletak!
Sentilan mendarat di dahi Aisa, membuat dirinya meringis kesakitan.
"Aw! sakit Pak"
"Apa saya harus menggaji orang yang tidur di ruangan saya?" suara bariton itu mengagetkan Aisa. Ia baru sadar jika dirinya sudah terlalu lama tidur .
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
**Wahhhh Pak Reno kalau marah seram juga ya, oh ya jangan lupa dukung othor terus, luv💕💕
Ini othor masih ada karya yang di rekomendasiin lagi , punya temen othor nih... Cekidot👇**
**sinopsis:
Blurb :
Pada 16 tahun yang lalu, Keluarga Shen dan Keluarga Yu mengadakan suatu perjanjian pernikahan aliansi antara kedua keluarga. Dan mereka sepakat, bahwa anak kedualah yang akan menjadi pengikat tali aliansi kedua keluarga tersebut.
Namun siapa yang menyangka, jika ternyata anak kedua dari Keluarga Shen adalah seorang gadis dengan fisik tak serupa dengan Shen Xu saudara kembarnya yang cantik jelita.
Yu Zhen yang merupakan tuan muda kedua Keluarga Yu, menolak pernikahan aliansi tersebut dengan suatu alasan. Yu Zhen masih ingin mempelajari ilmu yang mengharuskan dirinya untuk tetap menjaga keperjakaannya.
Shen Ji yang merasa ditolak oleh Yu Zhen dan terus ditindas oleh Shen Xu, akhirnya melarikan diri dari keluarganya hingga dia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah takdirnya**.