Aisa & Aira

Aisa & Aira
Eps 30. Teringat Rere



"Saya memang cupu Pak, Saya culun dan gaya saya juga aslinya kampungan. Tapi saya punya seorang sahabat yang berhasil merubah diri Saya. Tapi Saya malah pergi darinya. Ah Saya bingung sekarang, Apa Saya masih bisa di sebut seorang sahabat?" lirih Aisa saat mengingat sahabatnya itu.


"Pasti dia orang yang sangat spesial ya..."


"Iya Pak, disaat semua menjauhi Saya hanya dia yang mau menemani Saya"


"Saya boleh tebak siapa namanya?"


Aisa mengangguk.


"Apa namanya adalah Rere?"


"Hah?"


"Kenapa kaget begitu? Sudah Saya bilang kan kalau Saya mengetahui semuanya?"


"Tapi, kok bisa?"


"Suatu saat Kamu akan tahu. Ya sudah, sekarang kamu kembali ke ruangan kamu. Kalau kamu belum tahu, Kamu bisa tanya dengan Atik, sekretaris nya Pak Agung."


"Ba---baik Pak."


Aisa benar-benar tak habis pikir dengan bos nya ini, kenapa dia bisa mengetahui segalanya? ah menyebalkan!


Aisa terus saja teringat dengan sahabatnya, Rere. Ia menatap ponselnya yang sudah ia matikan beberapa bulan. Ingin sekali rasanya ia menghubungi Rere dan menceritakan segalanya tapi ia takut Rere akan marah dan malah memberitahukan semuanya pada Papa Baskoro.


"Aisa!" panggil Atik


Aisa terkesiap "Hah?" jawabnya ngasal.


"Kamu yang namanya Aisa kan?"


"I----iya!"


"Santai aja kali, kaya sama siapa aja"


"Eh? hehheh"


"Kenalin, nama aku Atik gadis tercantik di kantor ini. Senang berkenalan dengan mu." Dengan nada centilnya.


"Oh jadi Mbak yang namanya Atik? ah iya, kenalin Mbak Atik nama Aku Aisa." sahut Aisa ngasal.


"Husttt! Pertama, Kamu jangan panggil Aku itu Mbak, Kamu pikir aku itu Mbakmu apa?. dan Kedua, Untuk apa Kamu perkenalkan nama Kamu toh juga tadi Aku sudah manggil nama kamu!"


dih, dah tua gak mau ngaku tua. gumam Aisa.


"Siap kak!"


"Aku bukan Kakakmu, sudah lah panggil aku Atik saja."


"Baiklah"


"Kamu mau cari ruangan Kamu kan?"


Aisa mengangguk "Iya kak, eh maksudnya Tik"


"Ayo, ikut Aku."


Dasar Atik gotik, kesal Aisa dalam hati.


Tibalah di depan ruangan yang cukup bagus menurut Aisa, walaupun dia sempat kuliah tapi ia belum menyelesaikannya dan dia melamar pekerjaan memakai tamatan SMA nya.


Aisa mengernyit alisnya saat melihat Atik masih berada di depannya.


"Mohon maaf Atik, apa masih ada keperluan?"


"Oh emh, enggak kok. Aku cuma penasaran, Bos ganteng kok cepat banget ambil sekretaris lagi? Memangnya Kamu kuliah dimana sih Sa? Pasti di luar negeri, kalau pun di Indo aku yakin kamu dapat Cumlaude. Iya kan?"


deggg!


Bagaikan Tamparan keras untuknya. Hah? apa itu tadi? Aisa benar-benar bingung harus menjawab apa karena dia bukanlah lulusan dari Luar Negeri, Aisa memang pernah kuliah tapi saat ini ia sedang mengambil cuti. Lalu, Apakah harus dikatakannya semua sekarang? Membingungkan!


Ekhemmm


Deheman itu membuat Aisa dan Atik menoleh, betapa kagetnya mereka saat melihat orang yang berada di depannya ini.


"Ba---bapak" ujar Aisa dan Atik


"Sedang apa Kamu di sini?"


"Saya hanya mengantarkan Aisa Pak."


"Sudah di antar kan?"


"Sudah Pak, aman sentosa Pak"


"Lalu sekarang kenapa masih berada di sini?"


"Hah? Emh iya Pak, ini mau pergi kok. Aii Aku deluan ya... Hmm mari Pak!" Lalu Atik berjalan cepat membuat Pak Reno dan Aisa menahan tawanya.


"Eh? hehe!" sambil menggaruk tengkuknya.


"Maaf Pak, tapi apa ada yang bisa Saya kerjakan Pak?"


"Ada!" jawabnya datar


"Baiklah, nanti Saya keruangan Bapak."


"Tak perlu, di sini saja." jawab Pak Reno datar


"Ini, makan....!" titahnya.


"Loh?"


"Kenapa? Ayo di makan... Tadi katanya laper, belum sarapan juga kan? Pak Sugeng sudah mengantarkannya"


"Pak Sugeng?"


"Iya, Satpam yang tadi."


"Oh jadi namanya Sugeng toh"


"Bukan hal yang menarik untuk di perdebatkan, Sekarang Makan.!"


Aisa mengangguk lalu ia duduk, sedetik kemudian ia mengerutkan alisnya tanda bingung.


"Ada apa?" tanya Pak Reno


"Bapak kenapa masih disini?"


"Kamu mengusir Saya?"


"Bukan Pak, saya hanya bingung. Maaf."


Pak Reno tak menjawabnya tapi ia langsung duduk di depan Aisa membuat Aisa hampir saja menyemburkan nasi yang di mulutnya.


"Saya disini karena saya juga ingin makan."


Aisa hanya mengangguk patuh, toh juga kalau dia melawan itu gak ada ngaruhnya karena ia sadar yang berada di depannya kini adalah bosnya sendiri.


"Silahkan" ujar Aisa.


🌸🌼🌸


Sementara di tempat lain, Aira sedang ketakutan di dalam kamar. Ia terlihat panik karena Ghibran saat ini sedang memanggilkan dokter untuk memeriksanya.


Aira menyesal karena tadinya dia pura-pura lemas saat mengetahui Ghibran berada di depannya agar Ghibran memeluknya saat ia hendak terjatuh.


Tapi sayangnya Ghibran bersikap tidak perduli dan Aira pun terhempas ke lantai.


"Mas Kamu kenapa biarin aku jatuh sih?" kesal Aira.


"Diam! Jangan pernah kamu panggil saya mas jika kita sedang berdua begini, tetapi didepan orang tua kita kamu boleh memanggilnya!"


"Hiks... Salahku apa?"


"Kamu masih bertanya? Hei, Menikah denganmu adalah kesalahan terbesar!"


"Hikss... Kenapa mas Ghibran marah? memangnya apa kurangnya aku dibanding gadis cupu itu? hah?"


"Ya, ini perbedaan kamu dan Aisa! Sampai kapanpun kamu gak akan mungkin bisa menjadi Aisa, apa kamu mendengarnya , Aira?"


"Hiksss... Tapi Aku sayang sama Kamu mas"


"Persetan itu semua!" teriak pak Ghibran.


brukkkkk


πŸŒΌπŸŒΈπŸŒΌπŸŒΈπŸŒΌπŸŒΈπŸŒΌπŸŒΈπŸŒΌπŸŒΈπŸ’•πŸŒΈπŸŒΌπŸŒΈπŸŒΌπŸŒΈπŸŒΌ


sambil nunggu othor up, yuk kepoin teman othor dijamin oke dehπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—



*sinopsis :


Nabila Aurelia Jasmin adalah gadis populer di sekolah Bina Harapan Internasional, salah satu Sekolah elit di Jakarta. Dia idaman para laki – laki di sekolahnya. Hampir semua pria di sekolah menginginkan Nabila menjadi kekasihnya. Selain itu dia juga ketua cheerleader sekolah dan sekretaris Osis. Siapa yang tidak mengenal Nabila yang popular. Apa jadinya jika Nabila menyukai pria paling tidak dikenal di sekolah?


Nathan Fernando Lathif, laki – laki dingin yang pendiam, kutu buku, penyendiri dan misterius. Dia hanya menginginkan hidup yang tenang. namun dunianya berubah saat Nabila si gadis populer mengejar – ngejarnya. Tidak hanya jadi amukan para pria di sekolah,Β  hidupnya yang tenang menjadi penuh drama. Dia kesal karena terus – terusan diikuti gadis berisik itu.


Bagaimana kisah mereka?


Bisakah Nabila menaklukan si pria es?


Atau Nabila akan menyerah dan menerima cinta pria popular Sekolah yang memang menyukainya, karena berkali – kali diabaikan dan dianggap pengganggu*?