
Tit! Tit! Tit!
Begitulah suara monitor terdengar, jantungnya cukup stabil sekarang, pendarahan di otaknya Aisa membuatnya masih terjaga, entah kapan ia akan pulih seperti sedia kala.
"Aisa, loe bangun gak? hah? Apa loe mau gue pukul sekarang?"
"Aisa! Lemah banget sih loe!"
"Aisaaaaa!" Aira terus saja berteriak, memaki dan mengajak Aisa berbicara. Ia berharap salah satu kalimatnya akan membuat wanita itu terbangun dari tidurnya.
"Sudah, sayang. Jangan seperti itu."
"Tapi----"
"Sudah ya?"
"Hiks ... hiks ...."
Sejak Aira terbangun dari koma nya dan mengetahui jika dia sudah menjadi istri Nando, Aira terlihat banyak berubah, dia sudah menyesali semuanya. Memang benar selama ini ia sangat membenci Aisa karena wanita itu selalu saja beruntung, menurutnya.
Kecelakaan Aira sewaktu kecil membuat sebagian memorinya hilang termasuk saat-saat kebersamaannya bersama Aisa. Aira hanya tahu kalau Aisa adalah kakak kembarnya yang cupu namun selalu di sayang oleh Papa dan Kak Andre saja, dipikirannya yang menyayanginya hanyalah Mama Risa padahal semua tak seperti yang ia fikir selama ini.
Memorinya yang sempat hilang itupun akhirnya kembali lagi sekarang setelah banyaknya yang mereka lewati bersama. Kecelakaan mereka kali ini membuat banyak perubahan pada diri nya. Aira yang dulu pun kembali lagi sekarang, sama seperti raranya Kak Nando itu.
Ceklek!
Pak Ghibran kembali lagi, hari ini beliau hanya mengajar satu mata kuliah di kampus.
"Hai, sudah pada makan belum?" ucap Pak Ghibran sambil meletakkan makanan di atas meja.
"Belum, Bran. Rencananya kami akan ke kantin setelah kamu datang." Jawab Pak Reno.
"Ini aku bawain makanan, kalian makan saja dulu. Biar aku jagain Aisa."
"Makasih, kami makan di sini aja boleh gak?" Tanya Aira.
"Boleh kok, ya sudah. Makanlah dulu."
"Sa, gue tinggal dulu ya. Loe cepetan bangunnya, kasihan calon kakak ipar gue nunggunya kelamaan." Ucap Aira sebelum kursinya di dorong oleh Pak Reno.
Sedangkan Pak Ghibran menatap Aisa penuh kasih sayang. "Kamu kapan bangun nya? Jangan betah untuk tidur ya, kalau sudah capek tidur ya bangun aja, aku disini untuk kamu, kalau perlu kita langsung nikah aja. Gimana?"
Siapa sangka, ucapan Ghibran membuat Aisa langsung membuka matanya. Semu tampak terkejut, Pak Reno langsung memanggilkan Dokter untuknya.
"Kamu sudah sadar?" Pak Ghibran tampak masih tidak percaya.
Aisa mengangguk, "A ...ku di ma ... na?"
"Kamu di rumah sakit, Apa masih ada yang sakit?"
"Iya Sa, Masih ngerasain sakit gak?" kali ini yang bicara adalah Aira.
"Aira, kamu ..."
"Sa, maafin gue ya, gue ngaku salah. Maafin gue, kak!"
Deg.
Baru kali ini Aira memanggulnya kakak dengan tulus, Bahkan Aira langsung memeluk Aisa tanpa sadar membuat Aisa tersenyum seketika.
"Pak Ghibran kenapa disini?" pertanyaan Aisa membuat Ghibran menahan senyumnya.
"Memangnya kenapa? apa aku tidak boleh menjaga calon istri ku?"
"Calon istri?"
"Iya, kamu calon istriku Adik lucu. Kamu ternyata nakal ya, membiarkan kakak gagah kamu ini menunggu terlalu lama."
"Memangnya seberapa lama aku tidur?"
Aisa pun memilih diam, masih banyak yang ia tanya sebenarnya. Akan tetapi, Pak Ghibran sudah melarangnya terlebih dahulu sejak tadi.
Tak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa keadaan Aisa.
"Bagus, semuanya bagus. Perkembangannya cukup pesat akan tetapi jangan membuat pasien terlalu banyak berfikir untuk sekarang."
"Baik dok, terimakasih banyak ya."
"Sama-sama, oh iya Apa kamu ada keluhan hari ini?"
"Saya hanya masih merasa kaku aja Dok untuk menggerakkan badan saya."
"Oh kalau itu, gak papa. Itu wajar kok, karena itu efek dari terlalu lama nya tidak digerakkan. Sering-sering saja berlatih seperti menggerakkannya dan kalau bisa, sering berlatih jalan."
"Makasih banyak dok,"
"Sama-sama. Saya permisi dulu, besok saya kembali lagi untuk mengecek perkembangan kamu lagi,
mari semuanya."
Setelah dokter pergi, Aira menceritakan semuanya bahkan ia juga sudah meminta maaf pada Aisa. Kini rasa sakit yang diderita Aisa sudah terbalaskan dengan rasa manis yang ia terima, walaupun ada satu keinginan lagi yang belum tercapai baginya. Yaitu, menikah dengan Sang pujaan hati. Ghibran Daniswara.
"Pak, aku mau pulang!" Ujar Aisa.
"Sabar ya, nanti kalau dokter mengizinkan aku pasti bawa kamu pulang."
"Hm, baiklah."
"Jangan panggil aku Pak."
"Loh kenapa?"
"Karena kamu calon istriku, pernikahan kita akan dilaksanakan setelah kamu keluar dari rumah sakit ini."
"Memangnya siapa yang menerimanya?"
"Papa!" suara bariton terdengar dari luar.
"Mama juga." Sahut Mama Risa menyusul sang suami.
"Kakak juga dong." Sambung Kak Andre yang juga datang.
Aisa melihat Aira yang tersenyum atas kedatangan keluarganya itu. "Kamu juga Ra?"
"Pastinya, Kak!" sahut Aira yang disusul ketawa oleh semuanya.
"Tunggu, tadi kamu panggil aku itu kakak?" Aisa tercengang mendengar ucapan sang adik.
"Iya, mulai sekarang aku akan memanggilmu Kakak, dan gak ada lagi tuh manggil gue elo, kecuali ..."
"Kecuali apa?" tanya mereka serempak.
"Kompak benar nih," ledek Aira terus dia kembali menatap Aisa, "Kecuali kalau aku lupa. Wlee ...." Kembali lagi semuanya tertawa mendengar ucapan Aira.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Hai kakak readers,
jangan lupa ya dukungannya buat othor.
Like, komen, fav dan votenya jangan lupa ya, ayank othor๐ค
Eh tunggu, bunga nya juga dong.
Oh iya, udah mau raya, sekali-kali boleh juga othor dikasih kopi biar semangat up hehehhe othor banyak maunya ya๐
happy readingโฅ๏ธ