Aisa & Aira

Aisa & Aira
Eps 28. Pak Reno cenayang?



Setelah dari ruangan Pak Agung, Aisa berniat untuk menanyakan secara langsung pada Pak Reno dan dia menunggu beliau di depan ruangan nya.


"Kamu?" kaget Pak Reno


"Siang Pak, boleh bicara sebentar Pak?"


Pak Reno mengangguk "Silahkan masuk!"


"Ada apa?" Pak Reno tak ingin berbasa-basi.


"Bapak tahu saya darimana Pak?"


Pak Reno tersenyum tipis "Aisa Nafeeza, anak kembar dari Baskoro Wijaya, di usir oleh saudara kembarnya karena katanya anak itu terkena tumor otak. Namun faktanya adalah..."


Pak Reno menggantungkan ucapannya membuat Aisa yang mendengar semuanya menjadi tercengang, apalagi dia mengatakan ada fakta dibalik itu semua yang dirinya sendiri juga tidak tahu apa-apa.


"Fakta? fakta apa Pak?"


"Sebelum Saya menjawab, saya juga ingin bertanya... Apa kamu tahu bagaimana sifat kembaran kamu itu?"


"Mana mungkin saya gak tahu, dari rahim kami sudah kenalan." jawab Aisa asal yang sudah kepancing emosi, bisa-bisanya orang yang sekarang menjadi atasannya itu menjelekkan adiknya.


"Apa kamu pernah di bohongin nya?"


Aisa terdiam.


"Apa kamu pernah dicelakainya?"


Masih Diam.


"Apa kamu sering di bully nya?"


Aisa mendongak, bagaimana bisa lelaki ini mengetahui semuanya, pikirnya.


"P--ak Ren-no?" Aisa terbata-bata.


"Aisa, saya ini teman ayah kamu. Walau Beliau tak satu kota dengan saya dan kamu juga tahu umur Kami pasti berbeda jauh. Tapi Saya dan Beliau pernah menjalani kerja sama. Semenjak saat itu Kami berteman, sampai akhirnya sekretaris Saya berkhianat dan mengambil semua keuntungan dari kerjasama Saya bersama Beliau." Pak Reno berhenti sejenak sambil menghela nafasnya


"Jujur sejak saat itu Saya malu jika harus akrab kembali dengan Beliau walaupun Pak Baskoro sudah Ikhlas dengan kerugiannya. Kamu jangan khawatir, Saya akan membantumu membalaskan dendam kamu." Sambungnya dengan tatapan lurus ke depan.


"Dendam? Maaf Pak, tapi sebaiknya tidak usah."


"Saya tahu kamu itu orang baik, tetapi orang baik juga akan merasakan sakit hati. Mungkin kamu tidak dendam, tapi Saya tahu Kamu ingin menunjukkan kepada mereka terutama saudara kembar kamu itu kalau Kamu bisa sukses dengan sendirinya. Benarkan?"


"Bapak cenayang?" Pertanyaan itu lolos begitu saja.


"Bhahahahha! Aisa... Aisa... Ada-ada saja kamu, tapi boleh juga tuh!" godanya.


"Saya sebenarnya juga mengetahui Fakta lainnya, tetapi untuk fakta yang itu kamu harus lihat dengan mata kepalamu sendiri supaya Kamu gak bilang Saya cenayang lagi." sambungnya.


Aisa mulai tidak enak sekarang, ternyata lelaki di depannya ini mengetahui segalanya bahkan sampai yang tidak diketahuinya sekalipun.


"Ya sudah Pak, Saya permisi dulu. Terima Kasih sebelumnya!"


"Sebentar! Kamu jangan salah paham dulu. Saya membantumu tak ada maksud apapun. Murni untuk sekedar membantu. Saya mempunyai prinsip kalau yang benar harus menang, dan yang salah harus kalah. Sudah lah, sebaiknya Kamu pulang sekarang dan ingat mulai besok harus merubah gaya penampilan kamu. Paham?"


"Iya Pak, permisi" sambil mengangguk patuh.


Pak Reno memandang punggung Aisa yang berjalan sampai tak terlihat lagi. Tanpa sadar senyuman itu terlukis disana 'Gadis ini, lucu juga.'


Aisa kembali pulang dan mengajak Istrinya Mang Dadang untuk berbelanja memakai uang yang diberikan dari Pak Reno tadi.


"Bu, Bim... ayo siap-siap"


"Mau kemana teh?" tanya Bima antusias


"Belanja, beli baju, celana, sama apa ya emh..... Oh iya sepatu sekolah kamu sudah sempit kan? nah kita beli sekarang."


Bima tertunduk "Kata Ibu, Ayah belum gajian teh"


"Siapa bilang pakai uang Ayah Kamu? Pakai duit teteh, nih teteh belum kerja tapi sudah di gaji, jadi teteh mau ajak Kalian untuk belanja. Gimana? Kamu senang?"


"Serius teh?"


"Sok atuh, kapan teteh bercanda coba?"


"Bima, jangan lari nak nanti jatuh."


"Biar cepat Bu, teteh ngajak belanja."


"Hah?" bingung Ibunya, lalu ia langsung menghampiri Aisa .


"Non, eh maksudnya teh itu si Bima kenapa bahagia pisan?"


Aisa tersenyum "Aku mau mengajaknya belanja Bu."


"Belanja apa ya teh?"


"Keperluannya dan keperluan Ibu juga. Alhamdulillah hari ini bos aku ngasih DP gaji Bu, aku di suruh belanja baju buat ngantor, tapi kayanya ini kelebihan makanya aku mau ngajak kalian belanja juga."


"Eh jangan atuh, Non simpan saja duit Non . Ibu gak enak , Non!" Tegas nya.


Aisa berdengus kesal dan sedang mencari cara agar mereka mau di ajak pergi.


"Tunggu! tadi Ibu manggil aku itu apa?"


Bu Ros tampak berfikir kemudian ia menunduk "Maaf teh, tadi Ibu manggil Non, Ibu refleks Non..."


"Hahahha tegang banget sih Bu, justru Aku mau bilang makasih karena Ibu manggil Aku non, berarti Non tadi anggap Aku majikan dan sebagai majikan Aku tak terima penolakan."


"Iya Non" Bu Ros hanya bisa pasrah, menolak pun percuma pikirnya.


Beberapa jam kemudian, mereka sudah sampai di sebuah Mall. Sebenarnya Bu Ros sudah mengajak Aisa agar pergi nya ke pasar saja tapi Aisa menolak terus sejak tadi.


"Wah , Mall nya gede ya teh?" ujar Bima membuat hati Aisa tercubit seketika.


"Kamu belum pernah kesini?"


"Belum, Ayah gak pernah ada waktu buat Aku." lirihnya .


"Astaga, ya sudah Kamu jangan sedih ya, mulai sekarang kapanpun Kamu mau, Kamu bisa mengajak Teteh ke Mall, okay?"


"Beneran teh?", Kemudian Aisa mengangguk.


"Asiiiikkkk"


Aisa juga ikut tersenyum melihat tingkah bocah yang berada di depannya itu.


Di dalam mall mereka tampak asik sekali berbelanja, hingga tiba-tiba...


brukkkk


Tak sengaja Aisa menabrak seseorang, kemudian saat mendongak...


"Kamu?" ucap mereka barengan.


🀍🀍🀍🀍🀍🀍🀍🀍🀍🀍🀍🀍🀍🀍


**Halo, Hola, horeeee!!! Apaan sih Thor? gabut! hahaha.


Jangan lupa ya, Dukung othor terus ❀️


Mumpung othor juga sama terkejutnya dengan Aisa, othor netralisir kan dulu ya jantung ini, jiahahahah othor ~


Sambil nunggu kelanjutannya, yuk baca punya kawan othor yang senior lagi, ini di jamin oke dehπŸ‘‡**



"Perjuangan yang sungguh-sungguh akan membuatmu berhasil mencapai apa yang kau inginkan. Berjuanglah dan tanamkan satu target dihadapanmu!"


~Lara Alessandra


Sebagai wanita dengan berat badan 107 kilogram, Lara kerap kali merasa berkecil hati. Kedatangan keluarga Alex untuk melamar dirinya sudah seperti anugerah terindah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


Sayangnya, pernikahan sempurna yang dibayangkan Lara tidak sama dengan kenyataan. Alex ternyata mau menikah dengannya karena sebuah paksaan. Bukan karena cinta apa lagi mau menerima Lara apa adanya.


Namun, Lara tidak pernah menyerah. Dia terus berjuang agar Alex mau mencintainya dan menerima dia apa adanya. Ketika perjuangan Lara masih setengah jalan. Dia justru memergoki sang suami sedang bersenang-senang dengan wanita lain.


Apakah Lara akan berhasil membuat Alex jatuh cinta padanya atau justru dia akan menyerah dan memilih untuk meninggalkan Alex?.