
Aisa bercermin lalu mengusap air matanya "Akan aku ambil apa yang seharusnya milikku, Aira!!!" geramnya.
Tak lama kemudian ponselnya berdering, ingin sekali rasanya Aisa marah-marah dengan sosok suara di balik layar ponselnya itu, tapi karena ponselnya terus berdering makanya diapun mengangkatnya.
"Halo selamat sore kak, maaf saya sedang sibuk . bye...!"
"Saya Reno..."
"Re---no? ini Pak Reno?"
"Pak? Wah, sudah tidak panggil Kak ternyata..."
"Maaf Pak, saya sebelumnya tidak tahu kalau anda---"
"Lupakan, oh iya kamu sebaiknya tidur cepat karena mulai besok harus sudah datang ke pabrik..."
"Oh iya iya, eh tunggu... Apa Pak?"
"Kamu di terima! Harusnya memang Pak Agung yang menelpon kamu, tapi karena sedang sibuk maka saya yang wakilkan" Dusta Reno
"Ba---baik Pak, Terima kasih."
"Sama-sama."
Ternyata benar , akan ada pelangi setelah hujan. Semudah itu bagi Aisa untuk melupakan kejadian tadi karena sudah mendapatkan kabar yang ia tunggu sejak tadi.
๐ผ๐ผ๐ผ
Sebelum Ayam berkokok Aisa sudah bangun dan memilih berperang di dapur. Ibu Siti yang sedang tidur pun akhirnya terbangun karena mencium aroma yang menggoda perutnya.
'Siapa yang masak di jam segini?'
'Mana mungkin itu Bima, apa jangan-jangan..."
"Astaga, non Aisa..."
Setelah berbicara sendiri Bu Siti langsung berlari ke dapur, ternyata benar Aisa sedang perang di sana.
"Ya Allah Non, lagi ngapain atuh?"
"Eh Ibu, sudah bangun Bu?" Aisa malah balik tanya.
Bu Siti mengangguk "Masak apa Non?"
"Nasi goreng Bu buat sarapan kita."
"Biar Ibu saja Non"
"Aku saja Bu, hitung-hitung bonus karena aku sudah dapat kerjaan"
"Alhamdulillah, dimana Non?"
"Tempat Pabrik itu Bu, memangnya mau dimana lagi? aku cuma ngelamar di sana kemarin."
๐ธ๐ธ๐ธ
Aisa sudah rapi dengan kemeja dan celana jeans-nya . Sesampai di Pabrik ia langsung di hadapkan ke ruangan Pak Agung agar beliau menyampaikan apa saja bagian dari pekerjaan Aisa .
"Mbak Aisa ya?" Kata seorang perempuan dengan ramahnya
"Iya Mbak" Aisa tak kalah ramah.
"Selamat bergabung mbak"
"Terima kasih"
"Mbak silahkan masuk, sudah di tungguin sama Pak Agung"
"Baiklah, mari mbak..."
Jantung Aisa tak karuan apalagi saat ia membuka pintu sudah ada Pak Agung disana. Namun yang mengejutkan lagi, ternyata Pak Agung tak sendirian.
"Selamat pagi Pak," kemudian keduanya menoleh.
"Eh Aisa, Mari ... Silahkan duduk" tawar Pak Agung.
Lelaki paruh baya itu menatap Aisa dari ujung rambut sampai ujung kaki, raut wajahnya tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Oh iya, Kamu sudah tahu akan di tempatkan di bagian apa?"
"Di bagian produksi kan Pak?" kata Aisa dengan yakin nya.
"Maaf Pak, kalau salah. Tapi sesuai info yang saya lihat penerimaan pegawainya itu untuk bagian produksi Pak."
"Biar saya jelaskan... Untuk bagian itu semua sudah full, dan kamu----" Ucap Pak Agung terpotong.
"Saya di bagian Office girl juga gak papa Pak " sanggah Aisa.
"Tidak!" ucap Pak Reno membuat Aisa semakin tegang.
"Kamu akan menjadi sekretaris pribadi Pak Reno."
sahut Pak Agung membuat Aisa melongo.
"Bapak jangan bercanda, mana mungkin saya jadi sekretaris!"
"Apa yang di katakan Pak Agung itu benar adanya, mulai besok kamu akan bekerja bersama saya. Untuk hari ini saya akan memberikan gaji awal kamu."
"Tapi Pak saya belum bekerja , kenapa saya dapat gaji awal?"
"Untuk kamu merubah penampilan kamu. Saya tahu kamu aslinya pasti sangat pintar, mulai sekarang kamu harus menjadi wanita yang tangguh. Mengerti?"
degggg!
"Ba---bapak tahu?"
"Saya tahu, semuanya!"
glekkkk
Pupus sudah harapan Aisa untuk menutupi identitasnya, Aisa tidak tahu kalau Pak Reno pernah bekerja sama dengan Papa Baskoro. Pak Reno juga sudah meminta anak buahnya untuk menelusuri identitas dari Aisa .
flashback on๐ฆ
Semua bermula dari meluncurnya genangan air itu ke baju Aisa. Sejak saat itu, Pak Reno mulai mengagumi Aisa sampai-sampai ia menyuruh seseorang untuk mencari tahu siapa Aisa sebenarnya.
Awalnya Pak Reno terkejut dan ingin bertanya secara langsung pada Papa Baskoro. Tetapi saat orang suruhannya mengatakan bahwa Aisa di usir oleh anak lainnya Baskoro, membuat Pak Reno merasa iba padanya dan ingin membantu Aisa untuk membantu Aisa membalaskan dendamnya tanpa Aisa sadari. Karena prinsip Reno adalah yang benar harus menang dan yang salah harus kalah.
flashback off๐
Setelah dari ruangan Pak Agung, Aisa berniat untuk menanyakan secara langsung pada Pak Reno dan dia menunggu beliau di depan ruangan nya.
"Kamu?" kaget Pak Reno
"Siang Pak, boleh bicara sebentar Pak?"
Pak Reno mengangguk "Silahkan masuk!"
"Ada apa?" Pak Reno tak ingin berbasa-basi.
"Bapak tahu saya darimana Pak?"
Pak Reno tersenyum tipis "Aisa Nafeeza, anak kembar dari Baskoro Wijaya, di usir oleh saudara kembarnya karena katanya anak itu terkena tumor otak. Namun faktanya adalah..."
Pak Reno menggantungkan ucapannya membuat Aisa yang mendengar semuanya menjadi tercengang, apalagi dia mengatakan ada fakta dibalik itu semua yang dirinya sendiri juga tidak tahu apa-apa.
๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ๐ธ๐ผ
**Emh, faktanya apa ya...
Sebentar ya kak, othor belum di kasih tau juga sama Pak Reno ๐คช
Sambil menunggu jawaban dari Pak Reno, yok mampir yok ke karya temen othor yang lebih senior guys**....
Mala Rahma, gadis desa nelayan yang menikah dengan seorang pria amnesia. Berharap rumahtangganya bahagia, tapi harapan itu sulit terwujud.
Sang sahabat yang pernah dijodohkan dengannya, yang sangat dia percaya ternyata menjadi penyebab perceraiannya. Walaupun Mala berharap semua itu bukan ulah sahabatnya, tapi kenyataan berkata lain.
Perjuangan hidup Mala membawanya bertemu Andra. Senior yang jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Saat cinta sudah tak bisa dimatikan, Andra baru tahu jika Mala sudah menikah dan memiliki seorang anak. Dan bahkan telah menjadi janda.
Bagaimana cinta Andra yang sudah terlanjur berakar?
Apakah cinta itu akan begitu saja dipadamkan ketika tengah bersemi?
Bagaimana jika sang mantan tetap terus memperjuangkan cintanya untuk kembali bersama?
Ikuti kisah Mala selanjutnya.