
"Sedang apa disini?"
Pranggggg
"A--i--sa? Ka--mu..."
"Ada apa Aira? Kamu mau pinjam makalah lagi?" sindir Aisa
"Aku... Ah iya, aku cuma mau mastiin kalau kamu sudah nemuin Kak Andre"
"Oh iya, Memangnya kamu hari ini ada jumpa sama Kak Andre?"
"Gue ... ya... ada dong... kalau enggak mana mungkin Kak Andre nyuruh gue buat manggil loe, gimana sih!"
Lalu Aira keluar dari kamar Aisa, sungguh membuat Aisa ingin tertawa saat ini.
Setelah kepergian Aira, Aisa langsung menutup pintunya dan mengecek semua kamera yang sudah ia pasang di tempat persembunyiannya.
Aisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis, ia sudah duga dengan apa yang dilakukan Aira.
Malam harinya,
Di ruang tv sudah berkumpul Aira, Kak Andre, Papa Baskoro dan Mama Risa.
"Aisa mana ya?" tanya Papa Baskoro
"Tidur kali" celetuk Aira.
Namun tiba-tiba...
"Aku disini!" suara bariton itu membuat semua orang menatapnya.
Aisa semakin mendekati Aira, hal itu membuat Aira semakin mundur sampai punggungnya menyatu dengan dinding.
"Loe mau apa?" tanya Aira berusaha tenang
Sementara yang lain menatapnya bingung terlebih lagi Mama Risa kini menjadi panik.
Plakkkkkk
"Ini buat kamu yang sudah datangin Rangga di kehidupan aku"
Plakkkkkk
"Ini buat kamu yang sudah selalu ganggu hidup aku "
plakkkkk
"Dan ini buat kamu yang udah nukar Skin Care aku!"
Aisa menjauhi badannya dari Aira yang sedang meringis kesakitan, tamparan tadi adalah kali pertamanya namun sangat keras bahkan membekas di wajah Aira.
"Hiksss hiksss" tangisan palsu itu terdengar.
"Aisa!!!" bentak mama Risa .
Tangan mama Risa hampir saja melayang , namun Papa Baskoro menahannya.
"Papa membelanya?" lirih Mama Risa
"Papa tidak membela siapa-siapa, tapi papa tahu bagaimana anak papa semuanya. Aisa gak akan melakukan itu jika tidak ada sebabnya." Tegas Papa Baskoro.
"Aisa, sini nak... Tolong jelaskan maksud dari kekacauan ini" pinta Papa Baskoro.
"Papa, kaya gini anak yang Papa banggakan itu? hiks ..." protes Aira
"Diam kamu Aira, tidak ada yang menyuruhmu bicara!" kali ini yang marah adalah Kak Andre.
Aisa mengatur nafasnya kemudian ia menyambungkan isi kameranya itu ke TV
Deg!
Aira mulai panik, mungkin jika bisa terbang dia sudah terbang sekarang.
"Inilah sebabnya Pa, Ma... selama ini aku diam bukan karena aku kalah, aku hanya mengalah tapi lihat kelakuannya" ucap Aisa masih memakai masker.
"Tapi kan, tidak ada efek yang berlebihan . Harusnya kamu memaafkan adik kamu" bela Mama Risa.
Kemudian Aisa membuka maskernya dan semua tampak terkejut, apalagi Aira yang kini menunduk karena takut di marahin Papa Baskoro.
Plakkkkkk
Semua semakin terkejut, karena tamparan itu berasal dari Kak Andre.
"Kakak... hikss..." lirih Aira
"Kamu sudah keterlaluan , Aira! kamu gak tahu pengorbanan Aisa seperti apa untukmu? Dia rela mencari orang yang sudah memenjarakan kamu, dia rela melakukan apa saja bahkan ia hampir kehilangan mahkotanya!" terang Kak Andre
"Sementara kamu? cihhhh! " lanjut Kak Andre
"Jaga ucapan kamu , Aira!" tegas Papa Baskoro
"Tapi Pa..."
"Minta maaf sekarang!"
"Tapi..."
"Papa gak suka di bantah!"
Aira mendekatin Aisa dan menjabat tangannya...
"Aisa, maafin gue" ucapnya tak ikhlas
"Yang ikhlas kamu kalau minta maaf" kali ini yang bicara adalah Mama Risa
Aira benar-benar terkejut, baru kali ini mamanya membela Aisa .
"Mama membentakku?" kata Aira tak terima
"Aku ibumu! aku juga Ibunya. Aku menyesal telah menyayangimu selama ini. Kau tahu bagaimana aku melahirkan mu dulu? Kau hampir mati! harusnya yang ku lahirkan hanya Aisa!"
deggggg
Aira terduduk, kakinya tiba-tiba lemas tak berdaya. Baru kali ini ia mendengar kata-kata tajam dari mamanya. Ucapan itu sangat menyayat hatinya.
"Hiks... hiksss" Hanya tangisan lah yang keluar dari mulutnya.
Aisa iba melihat Aira, ia sungguh tidak menyangka semua seperti ini jadinya. Tapi kejahatan tetaplah kejahatan, ia harus mengungkapkan ini agar tidak terjadi lagi di kedepannya.
"Aira, berjanjilah untuk tidak menggangguku lagi. Aku sangat menyayangimu, aku ini kakakmu . Kamu harus tahu, dokter itu ingin melaporkan kamu kepolisi atas tuduhan merusak hak cipta, hak paten dan tentunya merusak nama baik. Aku tak ingin itu terjadi, kamu itu sebenarnya baik. Kami disini semua sangat menyayangimu , Aira."
"Diam! gue gak butuh ceramah loe!"
"Kamu ingat tidak, dulu sewaktu kecil kamu sering sekali dibeli makanan sama Mama. Tapi kamu selalu membagikannya padaku walau itu hanya sedikit. Kamu ingat gak? dulu kamu sering dibelikan pakaian sama mama dan pakaian lama kamu yang tidak mau kamu pakai lagi itu kamu beri padaku. Aku gak masalah karena mendapatkan barang bekas kamu, yang penting kamu itu bahagia." Jelas Aisa yang tiba-tiba membuka memori lama.
Namun, tetap saja tidak membuka mata hati Aira. Ia bahkan semakin membenci Aisa.
"Sudah lah Nak, kita biarkan saja dia disini. Kamu kembali lah ke kamar" Pinta Papa Baskoro pada Aisa.
"Dan kamu Aira, jika kamu berulah lagi maka kamu harus siap papa kirim ke Jepang." sambung Papa Baskoro.
"Ayo Aisa, Mama antar" sahut Mama Risa tiba-tiba.
Aisa mengangguk dan kini mereka sudah di depan kamar Aisa .
"Sa, maafkan Mama" lirih Mama Risa
"Mama gak perlu minta maaf, mama gak salah"
"Mama salah Nak, selama ini mama selalu membandingkan mu dengan adikmu, mama lebih memanjakannya . Maafkan Mama"
"Aku sudah memaafkan mama dari jauh hari sebelum mama minta maaf. Aku menyayangi mama"
***
Sejak kejadian itu, Aira lebih banyak diamnya di rumah karena ia sudah malu apalagi kejahatannya sudah di ketahui semua orang.
Di kampus ternyata Rere melihat perubahan dari Aira . Rere memang belum mengetahui kalau Aira lah dalangnya, Aisa sengaja tidak memberitahunya sampai sekarang.
Wajah Aisa pun sudah kembali normal, bahkan kini wajahnya lebih cerah dari sebelumnya. Kecantikannya pun mulai terpancar sekarang.
brukkkkk
"Aisa? kamu Aisa kan?" ucap lelaki yang menabrak punggung Aisa
"Iya, maaf kak" sahut Aisa.
"Astaga, Kemana aja kamu? atau kamu sengaja ya menghindar dariku?" lelaki itu adalah Athar.
Aisa menggeleng dengan cepat karena ia tak ingin Athar mengetahui alasannya.
"Jadi kenapa?" tanya Athar lagi
"Maaf kak, aku memang lagi sibuk nyari judul skripsi. Meskipun masih ada 1 semester lagi tapi gak apa-apa biar gak terburu-buru"
"Kalau butuh bantuan , kamu bisa hubungi aku Sa"
"Gak apa-apa kak, aku gak mau ngerepotin"
"Pulang nanti mau ya bareng aku?"
"Maaf kak, kayanya belum bisa. Ya sudah aku pergi dulu ya kak, ayo Re" Sambil menarik tangan Rere, sedangkan Athar menatap kepergian Aisa.
'Ada apa dengannya?' gumam Athar.