
Athar sungguh merasa bersalah pada Aisa karena kejadian kemarin karena walau gimana pun itu semua juga ada sangkut pautnya dengan dirinya . Hari ini Athar memutuskan untuk menemui Aisa dan ingin meminta maaf.
Pucuk di cinta, Ulam pun tiba. Itulah yang bisa di gambarkan untuk Athar karena ia baru saja sampai di kampus dan langsung mencari Aisa, namun matanya langsung tertuju pada wanita yang sedang baca Mading itu.
"Maaf" Ucap Athar membuat Aisa dan Rere terkejut .
Kedua wanita itu membalikkan badannya "Kak Athar?"
"Iya, maaf" Athar malah mengulangi kata yang sama.
"Maksud Kakak apa?" Tanya Aisa.
"Bagaimana kita ngobrolnya di kantin saja? sambil makan , gitu..." tawar Athar
"Gak us----" ucap Aisa terpotong
"Ide bagus itu kak, ayo Sa" Rere lah yang memotongnya.
Aisa berdengus kesal karena Rere tak pernah bisa menolak jika seseorang mengajaknya makan .
Akhirnya Aisa hanya bisa pasrah dan kini mereka sudah berada di kantin. Aisa heran kenapa dari tadi semua mata tertuju padanya.
"Kak , jangan lama-lama ya." Kata Aisa
"Kenapa?" sambil mengerutkan alisnya
"Aku gak enak kak, tuh banyak banget yang lihatin kita." ucap Aisa .
Kemudian, Rere mengedarkan pandangannya ke segala arah, memang benar kata Aisa semua mata tertuju pada mereka.
"Apa Kelen lihat-lihat? iri bilang woy!" teriak Rere tanpa rasa malunya.
"Husttt, Re kamu ini senang banget teriak-teriak!" tegur Aisa yang gak enak karena didepan Athar.
"Ya maaf , tapi jiwa kekesalanku meronta-ronta kalau dilihatin kek gitu. Mecem apa kali kulihat orang ini" sahut Rere.
"Maafin Rere ya kak" kata Aisa mewakilkan Rere
"Apa salahku?" Tanya Rere heran.
Athar Manahan tawa nya "Sudah, sudah. Tak perlu diperpanjang lagi"
"Kak kenapa di sini sih makannya?" tanya Rere
"Memangnya kenapa?"
"Kami biasanya disana" sahut Aisa sambil nunjuk warung yang dituju.
"Iya kak selain enak, untuk harga anak kuliah udah pas kali itu" cerocos Rere
"Kalau begitu kita disini saja, kalian belum pernah kan?" ujar Athar lalu keduanya setuju.
Kantin yang di maksud Athar adalah untuk kalangan atas yang mana biasanya para Dosen, Rektor dan staff lainnya yang makan disana dan ada juga beberapa mahasiswa yang masih bisa di hitung jari.
Athar mengambil menu tersebut dari ibu kantin.
"Kalian mau makan apa?" Tanya Athar
"Astaga kak, mehong kali? Bukannya duitku gak ada tapi sayang aja rasaku mesan nasi goreng harganya 35rb." celetuk Rere dengan polosnya, untung saja Bu kantin tidak ada disana.
"Rere!!" tegur Aisa
"Eh hmpp" sambil menutup mulutnya sendiri .
"Kalian tenang saja, aku yang traktir." sahut Athar dengan senyuman manisnya.
"Gak perlu kak, kami bisa bayar sendiri!" Tolak Aisa
"Please jangan nolak, anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku"
"Maaf? dalam hal apa ya kak?"
"Nanti saja kita bicarakan, sekarang kalian tulis disini pesanan kalian ya"
Mereka mengangguk patuh dan memesan beberapa makanan dan tak lama kemudian pesanan nya datang. Aisa sudah sangat penasaran namun lagi-lagi Athar menyuruhnya untuk sabar sampai selesai makan.
"Sekarang, kakak jelasin sama aku maksud kakak tadi apa?" Aisa sudah tidak sabar lagi.
"Sabar dong, buru-buru banget kamu"
"Dia ini kak, kalau penasaran itu bakal buat dia kepikiran terus . Entah pun pas lagi makan tadi pikirannya melayang dan..." ucap Rere terpotong
"Makanan terasa hambar" sambung Aisa membuat Rere tergelak sedangkan Athar menggaruk tengkuknya.
"Sebenarnya aku mau minta maaf sama kamu Sa" lirih Athar dan seketika suasana menjadi tegang.
"Maksud kakak apa? minta maaf soal apa?"
"Dinda"
"Pacar? siapa pacarnya?" Athar malah bertanya kembali
"Ya kakak dong, kata Kak Dinda kalian pacaran."
"Lebih tepatnya mantan, dia mantan pacar saya. Tapi kami sudah lama putus. Dianya aja yang masih dekatin aku." Jelas Athar, Aisa dan Rere hanya ber oh ria.
"Begini Sa, kamu pasti sudah tahu tentang gosip di kampus ini kan?"
"Gosip apa ya kak?"
"Soal Dinda yang sudah mengurung kamu."
"Oh kalau itu gak usah dibahas kak, lagian aku juga sudah keluar dari tempat itu." sambil ketawa hambar.
"Walaupun kamu sudah memaafkannya tetap saja dia salah dan untungnya aku sudah mendapatkan bukti dan dia juga sudah mendapatkan hasil dari perbuatannya."
"Jadi benar Kak Dinda dikeluarkan?"
Athar mengangguk
"Kenapa kakak ngelakuin itu?" tanya Aisa polos
Athar tercengang "Hah??"
"Iya, harus nya kakak gak usah lakuin itu. Kasihan Kak Dinda, Kak! Sebentar lagi kan nyusun skripsi ."
"Dia pantas mendapatkan itu Aisa . Bukan cuma kamu yang menjadi korbannya, tapi sudah ada juga beberapa orang sebelum kamu. Aku rasa perempuan itu sudah gila, dia selalu melakukan apa saja untuk menjauhkan aku dengan orang-orang yang dekat denganku."
"Tapi kita kan gak dekat kak?"
"Apa menurut kamu begitu?"
deggggg
"Maksud kakak?"
"Ah, sudahlah... Anggap saja angin lalu. Lihat sahabat kamu, makannya lahap banget"
Aisa paham kalau Athar sedang mengalihkan pembicaraan. "Aku sudah memaafkan Kak Dinda kok kak"
"Kita temenan kan?" tanya Athar sambil menunjukkan jari kelingking
Aisa mengangkat kelingkingnya dan menyatukannya ke kelingking Athar sambil tersenyum "Teman"
Ekhemmm
Ternyata Rere hanya diam jika saat Aisa berbicara serius saja dan akan selalu ikut jika masalahnya sudah selesai, hmm Dasar!
"Aku gak diajak nih?"
"Nongol lagi dia , kak! hahahha"
"Kirain bakal anteng sampai seterusnya, gak tahunya..." ucap kak Athar terpotong
"Apa kak? ha? apa?" tantang Rere
Athar membisikan sesuatu pada Aisa "Teman kamu itu, lucu ya?"
"Iya kak" Sambil tersenyum
"Ya sudah deh, Rere cantik boleh gabung, yuk temenan !"
Ternyata pandangan itu tak jauh dari Ghibran, ia sedikit bahagia karena Aisa sudah tersenyum sekarang.
"Sa, aku lihat kamu lagi dekat ya sama Pak Ghibran?" Tanya Athar dengan sengaja karena ia tahu jika kakak sepupunya saat ini ada di dekat sana.
Uhukkkk
Aisa tersedak membuat Rere dan Athar menjadi panik. "Sorry Sa, gak maksud kok" kata Athar.
"Iya kak , gak papa."
"Jadi benar kalian lagi dekat ya?"
"Eh mana ada gitu, lancang sekali aku jika harus mendekati dosen sendiri. Ada-ada saja kamu ini kak."
"Tapi kamu suka kan dengan Pak Ghibran? hayo ngaku."
"Eh apaan sih kak, enggak ya."
Tanpa sepengetahuan Aisa dan Rere, kini Athar sedang tatap-tatapan dengan Pak Ghibran, sedetik kemudian Athar menjulurkan lidahnya.
"Awas kamu!" ancam Pak Ghibran tanpa suara sedangkan Athar masih mengejek Pak Ghibran.
"Kakak lihatin apa sih?" tanya Aisa, lalu ia menoleh ke belakang dan.....
"Bapak?"