
"Kalian fikir saya tidak dengar?"
GLEK!
Suara bariton itu mengagetkan keduanya, mereka langsung menundukkan pandangannya seakan tahu dunia akan runtuh sekejap saja.
"Kenapa berubah jadwal? itu karena di pagi hari Ghibran masih disana. Oh iya, untuk rencana kali ini Ghibran tidak jadi kita ikut sertakan, jadi tolong kerja samanya." Sambung Pak Reno lagi.
Memakan waktu tiga jam untuk bisa sampai di Kota dan akhirnya mereka sampai di Kota dan langsung kerumah Pak Baskoro.
Tok! tok! tok!
Ceklek
"Masyaallah, non Aisa?" pekik Bi Inah, lalu memeluk Aisa.
"Bibi..." lirih Aisa.
Keduanya saling berpelukan lalu masuk dan duduk di kursi tamu.
"Papa mana Bi?"
"Tuan dan Nyonya masih di kamar, non." Jawab Bi Inah dan Aisa ber oh ria.
Sebenarnya Aisa ingin bertanya Aira saat ini dimana, tetapi ia urungkan karena saat ini ia sedang memulai sandiwara nya.
Tak lama kemudian, Mama dan Papa keluar dari kamarnya. Mama Risa langsung memeluk putrinya yang sudah lama pergi meninggalkan rumah itu. Walaupun keduanya tidak pernah akrab saat dekat akan tetapi Mama Risa tetaplah seorang Ibu yang menyayangi anak-anaknya.
"Kamu kemana aja, Sayang?" lirih Mama Risa.
"Aku hanya ingin mandiri ma, bagaimana kabar mama?"
"Dasar anak nakal!" sambil mencubit hidung Aisa, "Mama merindukanmu, setiap malam mama selalu mampir ke kamar kamu!"
Mama Risa memang selalu mampir ke kamar Aisa hanya sekedar untuk melihat isi dalamnya saja dan membayangkan saat Aisa tidur di kasurnya, berias di meja riasnya, mengambil pakaian di lemarinya, dan banyak hal lagi yang sering Aisa lakukan di kamar itu.
"Maafkan Aisa ma...," Aisa merasa bersalah.
Saat bersamaan, Aira keluar dari kamarnya bersama Ghibran.
Pak Ghibran memang sering di antar Aira ke depan saat ingin pergi bekerja, itu pun karena Aira yang meminta nya dengan alasan tidak enak jika dilihat orang tuanya kalau mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Aisa?" ujar Pak Ghibran dengan kagetnya, begitupun dengan Aira yang ketika mendengar nama Aisa langsung menoleh ke arahnya.
"Aisa?" Pak Ghibran mengulangi kalimatnya.
Sedangkan Aisa hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu ia melirik sang adik yang sedang menatap Pak Reno dengan rasa penasarannya.
"Hai Aira, apa kabar?" sapa Aisa membuyarkan lamunan Aira.
"Ba--baik."
"Bagaimana hasilnya? apa kamu sudah sembuh?"
"A---aku...," ucap Aira terpotong
"Sayang, itu Aira?" suara bariton itu membuat Aira ternganga.
"Ah iya, kenalin ini saudara kembarku, dan ini suaminya namanya Ghibran."
"Sa, ini siapa?" Bisik Aira, ternyata dia sudah mulai terpancing saat ini.
"Calon kakak ipar kamu." seru Aisa membuat Aira semakin tercengang.
Aira kembali memandang Pak Reno, ia seperti pernah melihat wajah lelaki ini, tapi dimana?
"Aira Nazeera, Sepertinya kamu mengenali saya ya?" celetuk Pak Reno
"Loe kenal sama gue?" Bukannya menjawab malah balik nanya.
"Saya hanya tahu nama kamu." sahut Pak Reno singkat.
Bi Inah datang dengan membawa beberapa cemilan dan minuman, kemudian suasana menjadi hening kembali.
"Tumben kamu kesini Reno?" Tanya Pak Baskoro.
"Saya kesini untuk menyampaikan niat baik saya, Pak."
"Maksud kamu?"
"Saya Reno Fernando, menyukai Aisa Nafeeza dan ingin menikahinya."
"Apa?" yang berteriak adalah Aira.
"Kamu kenapa?" tanya Pak Ghibran yang tambah terkejut saat Aira berteriak.
"Maaf mas, aku cuma penasaran sama namanya. Siapa nama kamu tadi?" tanya Aira
"Aira! yang sopan kamu!" tegur Papa
"Tidak apa-apa Om." lalu Pak Reno melihat Aira, "Kamu nanya nama saya? Ah iya, nama saya Reno Fernando. Kenapa?"
"Kak Nando ...," lirih Aira .
"Kamu kenapa Aira?" tanya Aisa khawatir.
"Kamu jahat Aisa. Dia kak Nando ku, kenapa kamu mau menikahinya? jawab Aisa!"
"Memangnya kenapa? kamu kan sudah menikah?"
Aira tak memperdulikan ocehan Aisa, ia semakin mendekati Pak Reno dan memeluknya tanpa sadar. Semua tercengang kecuali Aisa.
"Jaga sikap kamu, Aira!" tegas Pak Baskoro, sementara Pak Ghibran terlihat santai saja.
"Kamu kak Nando nya Rara kan?" lirih Aira.
"Iya, tapi kamu sudah menikah Rara, ayo lepaskan!" ucap Pak Reno dengan kelembutannya.
Rere dan Aisa terkesiap melihatnya, baru ini bos nya terlihat manis pikirnya.
"Tapi hikss kenapa kakak menghilang?" sambil melepaskan pelukannya.