Aisa & Aira

Aisa & Aira
Eps 23. Memilih pergi



"Kenapa loe diam aja Aisa? gue tahu kalau loe gak akan mungkin mau. Iyakan? pengecut loe!"


plakkkkkk


Tamparan keras berhasil mendarat ke pipi mulusnya Aira, namun bukan Aisa pelakunya melainkan adalah mama Risa.


Semua tampak tercengang apalagi ketiga anaknya, Mama Risa yang dikenal sangat menyayangi Aira kini sangat dibenci sang ibunya sendiri.


"Mama?" pekik ketiga anaknya.


"Hiks...hiksss... mama jahat..." ujar Aira dengan mengelus pipinya.


"Mau lagi kamu?" bukannya menenangkan Mama Risa malah ingin menamparnya lagi.


"Aira, papa kecewa sama kamu!" Papa Baskoro menggelengkan kepalanya "Selama ini papa salah mendidik kamu. Kalau begitu, hukum saja papa nak!"


Aisa memeluk sang ayah, ia takut papanya itu akan terjatuh kembali. "Papa jangan ngomong begitu, ini semua salah faham kok Pa..."


"Papa sama Mama kenapa keluar dari ruangan? bukannya infusnya belum habis?" tanya kak Andre.


"Infus?" beo Aira karena dia tidak tahu orang tuanya sempat dirawat karena mendengar kabarnya.


"Iya, dan itu semua karena kamu Aira!" kata Kak Andre membuat Aira semakin terisak.


"Dan mama menyesal pernah bilang Aisa yang buat mama malu, padahal kamu lah orang yang selalu membuat mama sakit hati." sambung Mama Risa.


"Puas loe kan , Aisa?"


"Sudah bisa ketawa sekarang kan?"


kata Aira sambil tersenyum sinis.


"Stop!!!!!" pekik Aisa .


"Jika memang kepergianku dapat membuatmu menjadi sembuh, aku ikhlas Ra... aku ikhlas. Tapi, jangan pernah lagi kamu membenci kakakmu ini Ra, jujur aku sangat menyayangimu..."


"Bagus, pergilah!" usir Aira.


"Berhenti disitu, Aisa!" kata papa Baskoro saat melihat anaknya hendak keluar.


"Maaf pa, tapi aku harus pergi" sahut Aisa


Aisa berjalan ke arah sang ibu, ia menyalim tangan mama Risa dan meminta restu. "Mama, Aisa pamit. Tolong ridhoin kepergian Aisa, ini semua demi Aira. supaya dia dapat sembuh ma, mau kan ma melihat Aira sembuh?".


Mama Risa mengangguk.


"Restuin kepergian Aisa ya ma, doakan saja agar aku diluar nanti baik-baik saja. Hitung-hitung untuk belajar mandiri Ma."


"Tapi, bukan seperti ini caranya nak. Jangan pergi sayang "


"Maaf ma, tapi aku juga punya pilihan. maaf ma" sambil memeluk mama Risa.


Kini Aisa sudah didepan sang ayah, air mata papa Baskoro mengalir begitu saja walau tanpa isak tangisan. Tapi percayalah, ayah mana yang tidak sedih jika berpisah dengan anaknya?.


"Papa, jaga diri dan jaga kesehatan ya. Papa harus sehat terus agar kelak jika kita berjumpa lagi papa bisa melihat Aisa sukses sendiri tanpa bantuan dari papa. Aisa itu kuat, iya kan Pa?"


"Hiks... anakku..." sambil memeluk Aisa


"Jangan nangis, kalian prioritaskan saja dulu kebahagiaan Aira."


Saat Aisa hendak pergi, tiba-tiba...


"Bagus, gak mau pamit sama kakaknya... Kamu fikir kakak ini patung? gitu?"


Aisa benar-benar lupa pamit dengan Kak Andre, ucapan kakaknya sangat menyentil hatinya.


"Kakak..." lirih Aisa sambil memeluk nya.


"Anak nakal..." kata Kak Andre


"Kamu jaga diri baik-baik ya dek, kalau ada apa-apa bilang sama kakak. Nomor Kakak selalu aktif untuk kamu. Ingat, jaga diri kamu!"


"Iya kakak, kakak juga harus baik-baik ya... kuliah yang benar.!"


"Mau pergi aja pakai drama, ck!" celetuk Aira.


"Aira, apa kamu gak mau memelukku sekali saja?"


"Tidak! najis gue"


"Apa aku bisa mengelus kepalamu dek?"


"Tidak , Aisa! ih drama banget sih"


Sebenarnya Aisa sudah sekuat tenaga menahan sesaknya, namun dia harus tampak kuat di hadapan keluarganya.


"Aku pamit, assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam"


🌸🌸🌸


Beruntung saat ia sampai di parkiran ternyata mang Dadang ada di sana, lalu Aisa memintanya untuk mengantarkannya pulang ke rumah.


Di dalam mobil Aisa menangis, pergi dari rumah karena diusir adik sendiri itu sangat perih baginya. Sekarang ia tak tahu harus kemana.


"Non kenapa nangis?" tanya mang Dadang dari kaca depan.


"Kata orang kalau kita ceritain masalah kita kepada orang lain itu akan membuat hati kita lega non."


"Benarkah?"


Mang Dadang mengangguk .


"Aira hikss... Aira mengusirku mang"


ckiiiiitt (anggap rem dadakan)


"Apa non?" pekik mang Dadang


"Astaga! kaget sih kaget mang, tapi gak gini juga konsepnya!"


"Maaf non, maaf"


"Gak masalah mang"


"Bagaimana bisa non? kenapa dia ngusir non Aisa? keterlaluan banget non Aira."


"Biarlah mang, semoga saja dia bisa sembuh. Aku cuma bisa bantu ini untuknya."


"Memangnya non Aira sakit apa?"


"Hiks...."


"Loh, maaf non... tapi jangan nangis lagi dong."


"Tumor otak "


"Apa non?"


"Ih mang Dadang mah, udah ah aku malas cerita lagi."


"Mang, tolong jagain rumah dan seisinya ya"


"Iya non, pasti. Memangnya non Aisa sudah ada tujuan?"


Aisa menggelengkan kepala sambil menghela nafas panjang. "Belum mang, aku juga tidak tahu mau kemana."


"Ke kampung mamang saja yuk non?"


Mata Aisa berbinar "Memangnya boleh?"


"Ya boleh atuh"


"Tapi aku malu mang"


"Gak perlu malu non, disana cuma ada istri dan anak mamang saja."


"Tapi mang---"


"Jangan sungkan non, walaupun rumahnya gubuk tapi semoga saja non betah karena penghijauan disana masih asri non"


"Aku mau mang"


"Beneran non?"


"Iya , tapi..."


"Apa non?"


"Ini rahasia ya mang, jangan beritahu siapa-siapa. Aku gak mau Aira tahu keberadaan ku, setidaknya itu akan membuat pikirannya tenang mang."


"Siap non, kita berangkat sore nanti ya... Sekarang non bersiap dulu."


"Aku naik bus aja mang"


"Tapi non?"


"Gak apa-apa mang, mamang jemput mama sama papa aja nanti."


"Baiklah non, nanti mamang antar ke loket ya?"


Aisa mengangguk "Terimakasih mang"


🌼🌼🌼


Kehidupan baru, suasana baru dan harapan baru. Itulah yang kini dirasakan oleh Aisa . Jauh di perantauan dan sengaja menutup identitas nya dan Kini Aisa lebih senang dipanggil Ai .


"Non hari ini mau ngelamar kerja dimana?"


Ya, sudah seminggu Aisa di rumahnya mang Dadang namun ia memilih untuk bekerja sekarang. Aisa juga melihat kondisi keluarga mang Dadang cukup memperhatikan. Walaupun Papa Baskoro memberi gaji yang banyak tapi sebagian dari gajinya sekarang untuk membayarkan utangnya yang lumayan besar beberapa tahun lalu. Mang Dadang dulunya terpaksa berhutang karena untuk mengobati almarhum anaknya yang dulunya terkena penyakit kanker hati.


"Insyaallah ke pabrik yang di simpang itu, Bu"


"Semoga berhasil ya Non Aisa "


"Panggil aku Ai Bu, jangan pake Sa , aku gak mau nama itu dibawa sampai sini"


Aisa sengaja mengganti nama panggilannya, karena ia tahu kalau Aira tak mungkin tinggal diam. Aira pasti akan mencarinya walau itu sampai ke ujung dunia .


"Jadi bima sekarang panggil non itu non Ai?" Tanya anak bungsunya mang Dadang .