
"Pak, aduh... Bukan begitu maksud saya."
"Hmm"
"Apa Aisa masuk ke toilet ini ya?" gumam Rere pelan namun masih di dengar oleh Pak Ghibran.
"Maksud kamu?" Suara bariton itu terdengar lagi membuat Rere terkesiap saat ini
"Astaga, ngagetin aja sih Pak? Kirain sudah jalan" kesal Rere.
"Gini Pak, Aisa tadi bilangnya mau ke toilet, nah di lantai ini kan toilet cuma satu kan ya Pak? Terus juga sebelumnya toilet ini gak rusak kok, tapi kenapa sekarang rusak dan kemana Aisa?"
Pak Ghibran mulai panik "Kamu serius?"
"Ngapain juga saya bohong Pak"
"Kita dobrak pintu ini"
"Tapi Pak"
"Gak ada tapi-tapian"
BRUKKKKK
BRUKKKK
Hanya dua kali, pintu itu berhasil di dobrak, Rere langsung membuka keempat bagian dari tempat itu.
Rere mengerutkan alisnya saat melihat bagian dalam itu sedikit aneh.
"Kenapa yang tiga pintunya terbuka dan yang satu itu engga ya?" Gumamnya.
"Jangan banyak ngomong sendiri, kamu buka dulu sana!" omel Pak Ghibran
Ceklek
"Pak , dikunci dari dalam" kata Rere
Pak Ghibran yang tadinya masih menunggu diluar langsung berlari ke dalam, dan kembali mendobrak nya.
BRUKKKK
"Astaga, Aisa!" pekik keduanya.
Tanpa mikir panjang, Pak Ghibran langsung menggendong Aisa dan Rere yang membuntuti nya dibelakang. Pak Ghibran membawa Aisa masuk ke mobil nya dan Rere yang menemani Aisa dibelakang.
Aisa pingsan setelah menangis sejak tadi, apalagi kini wajahnya mulai terlihat pucat.
🌼🌼🌼
Sementara di sisi lain Aira yang diberitahu anak-anak yang lain kalau Aisa tadinya pingsan juga ikut panik. Walaupun ia membenci Aisa tapi rasa khawatirnya juga tak dapat ia tolak karena seberapa besar rasa bencinya itu tak akan merubah takdirnya sebagai saudara kembar dari Aisa .
"Loe kenapa?" tanya Mikha
"Aisa kok bisa pingsan ya?" sahut Aira
Ebi langsung mengecek suhu tubuh Aira dengan tangannya "Gak panas!" gumamnya.
"Kurang asam, loe kira gue sakit?" kesal Aira.
"Ya loe ngapain masih mikirin dia? loe khawatir dengan saudara kembar loe? eciyeee"
"Eh mana ada gitu, gue cuma..."
"Cuma apa hayolooo"
"Cuma mau bilang... Makasih! Ha, iya makasih sama yang ngunci dia." ucap Aira gelagapan.
"Kira-kira siapa ya yang ngunci?" tanya Aira lagi.
"Bukan loe jadinya Ra?"
"Ya bukan lah , Gila aja.! Gue kan dari tadi di kelas ."
"Hmm iya juga, jadi siapa ya?"
Semua kalut dengan pikiran masing-masing, mereka masih memikirkan siapa yang mengunci Aisa, sampai akhirnya...
"Gue! Gue yang sudah ngunci si cupu!" suara cempreng itu mengagetkan mereka .
"Kak Dinda?" tanya mereka heran.
"Hahahhaha! Ternyata kalian kenal juga sama gue. Bagaimana dengan kejutannya? senang kan?" Sahut Dinda
"Jadi benar , kakak yang ngunci Aisa?"
Dinda mengangguk "Itu balasan buat dia yang sudah merebut perhatian Athar dari gue"
"Athar?" beo Aira
"Ck! Loe jangan pura-pura bodoh! Loe itu saudara kembarnya, masa loe gak tahu kalau dia dekat dengan pacar gue!"
"Eh kak sorry ya, jangan ngegas dong . Kawan gue emang gak tahu mereka akrab!" bela Mikha gak terima.
"Ya sudah, gue gak perduli. Bye"
Ternyata percakapan mereka tak terlepas dari pandangan seseorang yang sudah diam-diam merekam ucapan mereka itu.
'Jadi benar kamu dalang semua ini Dinda? awas kamu!' geram orang tersebut.
🌸🌸🌸
Di Rumah Sakit, Aisa sudah sadar dan kini sedang ditemani oleh Rere sementara Pak Ghibran kembali ke kampus untuk mencari tahu siapa dalangnya.
"Pak Ghibran?" tanya petugas itu heran
"Saya mau kamu cek toilet yang di lantai Lima tadi, sekarang!"
"Baik Pak"
Petugas itu pun melakukan perintah, kini ia sudah mengarahkan kursornya dan terlihat saat Aisa masuk ke dalam toilet tersebut.
"Stop dulu!" Pak Ghibran memperhatikan orang yang masuk. "Oke lanjut lagi"
Namun tiba-tiba hal yang mengejutkan datang, seseorang bertopeng menutup arah cctv tersebut hingga layarnya menjadi hitam sampai detik ini tak terlihat.
"S*it!!!" teriak Pak Ghibran membuat petugas kaget mendengarnya.
"Kamu ambil benda yang menutupi cctv itu dengan plastik, jangan sampai kamu menyentuhnya dan berikan pada saya."
"Baik Pak"
Pak Ghibran kembali ke ruangannya, ia terlihat frustasi sekali sekarang, sampai akhirnya...
ceklek
"Sayang......" suara manja itu masuk begitu saja.
"Kamu ngapain ke sini?" bentak Ghibran.
"Kamu kenapa sih sayang?" sambil bergelayut manja.
"Jauhkan tangan kotor kamu dari tangan saya!"
"Sayang..."
"Jangan panggil itu! Stop ya Tiara! Hentikan permainan mu itu!"
"Ck... aku bilangin Om Fahri kamu nanti. Awas aja!" ancam wanita itu dengan kesal.
"Aku tidak takut, sekarang pergi dari sini!" usir Ghibran
"Aku kan masih kangen sama kamu..."
"Kamu keluar sendiri, atau aku panggilkan satpam!" ancam Pak Ghibran dengan nada sedikit tinggi.
"Jangan bentak aku!" kata wanita itu lalu pergi.
"Tiara... Tia... arghhhhh!" ucap Pak Ghibran frustasi.
Flashback on
Tiara Amelia, merupakan teman Ghibran semasa kecil dulu sekaligus anak dari sahabatnya Ayah Fahri. Tiara memang sangat akrab dengan keluarga Daniswara apalagi Ayahnya dengan Ayah Fahri itu sahabat baik. Ghibran menyayangi Tiara sebagai sahabat, hubungan keduanya pun sebenarnya baik-baik saja.
Sampai akhirnya mereka mengadakan makan malam di rumah Tiara, Tanpa Ghibran ketahui semua sudah direncanakan oleh Tiara dan juga Ayahnya untuk meminta dijodohkan kepada Ghibran.
Ghibran tidak terima karena baginya Tiara hanyalah sahabatnya dan tidak lebih. Semenjak saat itu, Ghibran mulai menjauhi Tiara sedangkan Tiara malah semakin agresif padanya.
Flashback off
"Hufff" Pak Ghibran menghela nafasnya.
"Belum lagi masalah satu selesai, sudah nambah satu lagi. Astaga!" gumam nya.
TOK TOK TOK
Pak Ghibran menoleh "Masuk"
"Maaf Pak, ini barang yang bapak maksud tadi" kata petugas cctv.
"Apa? hanya sebuah saputangan?"
"Iya Pak, mereka menutupinya dengan itu."
"Baiklah, silahkan keluar"
Pak Ghibran langsung menelpon Asistennya di kantor dan menjelaskan kejadian yang terjadi sambil memandangi sapu tangan yang terbungkus dalam plastik bening itu dan menyuruhnya untuk mencari bukti melalui sidik jari.
Tak lama kemudian pintu kembali di ketuk dan Pak Ghibran mempersilahkan masuk
"Kamu?" kagetnya.
"Selamat Siang Pak"
"Siang"
"Maaf mengganggu waktunya Pak"
"Hmm"
"Saya ingin menunjukkan ini" Sambil menyodorkan ponselnya .
"Apa itu?" sambil bermain laptop.
"Yaelah kak, di lihat dulu makanya" oceh lelaki itu.
"Saya bilang kalau di kampus jangan panggil saya kakak!" tegas Pak Ghibran membuat lelaki ini berdecih .
"Gak ada siapa-siapa juga di ruangan ini, ck! sahutnya
"Jika kamu kesini mau buat masalah dengan saya, silahkan tunggu di rumah." sahut Pak Ghibran.
"Hooy! santai. Loe beneran gak mau lihat? ini tentang kejadian Aisa di toilet. Ya sudah kalau loe gak mau lihat. Gue pamit, bye!" sambil beranjak pergi
"Athar... Tunggu!" Teriak Pak Ghibran.