
Insyaallah ke pabrik yang di simpang itu, Bu"
"Semoga berhasil ya Non Aisa "
"Panggil aku Ai Bu, jangan pake Sa , aku gak mau nama itu dibawa sampai sini"
Aisa sengaja mengganti nama panggilannya, karena ia tahu kalau Aira tak mungkin tinggal diam. Aira pasti akan mencarinya walau itu sampai ke ujung dunia .
"Jadi Bima sekarang panggil non itu non Ai?" Tanya anak bungsunya mang Dadang .
Aisa mengerutkan alisnya membuat Bima ketakutan sekarang.
"Maaf non, Bima gak tahu" ujarnya dengan kepala menunduk.
Aisa menahan tawanya, karena Bima memang masih polos apalagi dia masih kelas 2 SD dan tingkahnya itu membuat Aisa semakin betah disini.
"Kamu itu jangan panggil kaya gitu!" tegas Aisa membuat bocah itu menahan tangisnya, sedangkan ibunya hanya mengelus punggung putranya karena ia tahu kalau Aisa saat ini mengerjainya .
"Iya non" lirihnya.
"Pftttt hahahahaha" Aisa tak dapat menahan tawanya lagi.
Bima mendongak "Kenapa non ketawa?"
"Hei, jangan panggil aku non. Aku bukan majikanmu."
"I----iya"
"Panggil aku teteh, anggap saja aku ini teteh kamu, gimana?" sambil menaik turunkan alisnya.
"Non Aisa--- eh maksudnya non Ai gak marah kalau aku manggil teteh?"
"Kenapa harus marah? aku tuh malah senang tahu, kamu panggil aku teteh ya?"
Bima mengangguk dan matanya berbinar. Ia senang sekali sekarang memiliki kakak lagi. Setelah kakaknya meninggal ia memang merindukan sosok kakak yang bisa di ajaknya bermain.
"Bu, Bima punya kakak Bu" Ibu nya tersenyum sambil mengelus pipi Bima.
"Iya sayang..." lalu Ibunya beralih dengan menatap Aisa "Terimakasih non, sudah mau menjadi kakaknya Bima"
"Eitsss! berhubung sekarang aku sudah jadi kakaknya Bima, nah ibu juga jangan panggil aku Non. Gimana?"
"Tapi non---"
"Mau ya Bu?"
"Iya non, eh maksudnya teh"
🌸🌸🌸
Pukul 09.00 pagi, Aisa sudah siap dengan pakaian formalnya dengan memakai pakaian hitam putih.
Sampailah dia pada sebuah pabrik dan ingin menyerahkan CV nya kepada satpam.
"Permisi, selamat pagi Pak"
"Iya pagi neng , Mau antar lamaran ya?"
"Iya Pak, letak dimana ya?"
"Bawa pulang saja neng, maaf jangan tersinggung tapi neng bisa lihat ini, amplop lamarannya banyak pisan saya takut neng nantinya kecewa."
Aisa melirik tumpukan amplop coklat itu yang seperti gunung melewati lembah. Banyak sekali!
"Tidak apa-apa Pak, barangkali saya yang diterima kan gak ada yang tau tentang rezeki seseorang Pak"
"Ya sudah, taruh di sini"
Byurrrrrrrrrr
Tak sengaja guyuran air yang warnanya sama dengan amplop itu mendarat ke baju Aisa. Sontak aja membuat Aisa dan yang lainnya terkejut, untungnya amplop itu sudah berada di paling atas tumpukan nya.
Tak lama kemudian,
keluarlah seorang lelaki tampan dan menghampiri Aisa. Pada saat yang bersamaan Aisa hampir saja memarahinya."
"Kal------"
"Maaf"
"Hah?" mendadak Aisa seperti orang yang tidak kebagian jaringan alias lemot.
"Iya, maaf ya.. tadi saya gak sengaja. Maafin saya ya"
Sementara para satpam hanya bisa menunduk. Aisa heran dengan sikap para satpam yang seperti takut akan disalahkan oleh lelaki ini, memangnya siapa dia?.
"Oke, dimaafkan" singkat Aisa .
"Ya sudah, gak papa kak. Saya bisa nyuci kok" ucap Aisa polos.
'Apa maksud wanita ini? dia minta ganti, gitu?' gumam lelaki itu
"Oh iya, ngomong-ngomong kamu sedang apa disini?"
pertanyaan polos itu juga terlontar dari pria ini .
"Main golf kak, ck! Aku disini mau ngelamar kerja dan kini bajuku dapat motif dadakan sekarang. Bagaimana jika aku ketemu sama HRD atau pemilik pabrik ini? bisa-bisa aku gagal kerja kak, dan itu karena kakak!"
celoteh Aisa membuat lelaki ini tersenyum.
Lelaki itu menatap kepergian Aisa, disini Aisa tampak lebih elegan dan feminim. Bukan hanya itu, ia juga mengubah segalanya sampai orang tidak mengenalinya.
Setelah Aisa pergi, lelaki itu menghampiri para satpam yang sedang menunduk.
"Saya mau lihat CV wanita itu"
"I--ini Pak"
"Oke, makasih. Kalian kenapa?"
"Siap! maaf pak. kami yang khilaf tadi gak arahin mobil bapak."
"Oh jadi karena itu? Ya sudah gak papa."
Pria itu langsung membuka amplop itu "Aisa Nafeeza? nama yang cantik. Seperti pernah dengar nama itu, tapi dimana ya.?" gumam nya.
🌼🌼🌼
Sementara di tempat lain, kehidupan keluarga Mahesa mencengangkan. Hari ini , Aira akan segera menikah dengan Pak Ghibran.
Tumor otak? Apa itu? Ya, penyakit itu hanya akal-akalan Aira saja agar dia lah orang yang akan di jodohkan dengan Pak Ghibran.
Flashback on
Tak sengaja, Aira melihat Mama dan Papa bertemu dengan sepasang orang paruh baya di sebuah Cafe.
Awalnya Aira ingin menghampiri mereka, tapi saat melihat wajah lelaki itu ia sangat terkejut dan memilih untuk mendengar semuanya.
"Gue kok kayanya kenal ya sama bapak itu? tapi dimana?" Aira berbicara sendiri.
Tak lama kemudian "Ah iya, itu Pak Fahri Daniswara. Pemilik kampus dan juga orang tuanya Pak Ghibran."
Aira menyeruput ice Coffe latte miliknya, namun tiba-tiba
uhukkkk uhukkk
Aira mengepalkan tangannya saat Nama Aisa di bawa-bawa.
"Kenapa kalian tidak ada kabar selama ini, Baskoro?"
"Maafkan aku Ri, rumah kami yang di kota V kebakaran saat itu"
"Ya sudah, yang terpenting sekarang kita sudah kumpul lagi " sahut Mama Risa
"Iya benar itu" sambung Bunda .
"Jadi bagaimana dengan perjodohan putraku dengan putrimu?"
"Ah iya, soal itu... apa kamu yakin akan menikahkan Ghibran dengan Aisa, Fahri? Kenapa tidak dengan Aira saja?" Tawar mama .
"Aku sebenarnya sudah sayang sama Aisa tapi bukan berarti tidak dengan Aira. Aku juga menyayangi Aira tapi dulu sewaktu mereka kecil Aisa lah yang sudah memenangkan hati Ghibran"
"Maksud kamu?"
"Ya, Ghibran tak menikah sampai sekarang itu karena dia pernah berjanji dengan Aisa kecil untuk menikah dengannya "
"Astaga maksud kamu sewaktu mereka kecil itu mereka pernah berjanji untuk menikah?"
Bunda mengangguk "padahal mereka masih kecil, bukan? tapi kita tak bisa melarang mereka untuk saling mencintai"
"Kau benar, ya sudah secepatnya kita adakan pertemuan. Kalian datanglah ke rumah jika kalian ingin bertemu dengan Aisa"
Ya , itu lah percakapan yang didengar oleh Aira. Ia tak rela jika Aisa lah jodoh Pak Ghibran. Aira mencari cara untuk bisa menyingkirkan Aisa.
Aira keluar dari Cafe dan masuk kedalam mobilnya.
"Aisa lagi, Aisa lagi! kenapa sih harus loe , Aisa?" teriak Aira.
"Loe selalu mengambil kebahagiaan gue! sampai kapanpun gue benci sama loe!"
"Loe lihat saja nanti, gue gak akan biarkan loe dapatkan Ghibran. Gue yang lebih dulu jumpa dengan dia, bukan loe!"
"Hahahhahaha, loe lihat aja nanti" kata Aira sambil menghisap air matanya .