Aisa & Aira

Aisa & Aira
Eps 26. Aisa mengetahuinya



pranggggggg


"Astaghfirullah non"


"Maaf" lirih Aisa .


"Bapak sih, kan teteh jadi tersedak tuh" kata Bima menyalahkan bapaknya.


"Teteh?" bingung Mang Dadang


"Iya, sekarang non Aisa ini tetehnya Bima, kenalin Pak ... ini teteh Ai pak"


"Hah?" Mang Dadang semakin bingung.


"Aku yang memintanya untuk panggil teteh mang" sahut Aisa yang tahu kegelisahan mang Dadang.


"Teh biar ibu saja yang bersihkan"


"Makasih Bu, oh iya mang mumpung aku sudah selesai makan sekarang mamang harus ceritakan semuanya sama aku."


"Iy--iya non"


"Jadi non waktu itu Keluarga den Ghibran datang ternyata orangtuanya adalah sahabat baiknya Tuan dan Nyonya. Mereka datang untuk membicarakan perjodohan yang sempat tertunda"


"Perjodohan?"


"Iya Non, perjodohan antara Non Aisa dengan den Ghibran."


"Eh tunggu, maksudnya gimana ini? Aku dan Pak Ghibran?"


"Jadi Non gak tahu?"


Aisa menggeleng


"Apa Non ingat dengan Kak Gagah?"


Aisa tampak berfikir "Kak Gagah? Ya jelas ingat lah, itu kekasih impianku saat kecil. Eh bentar, jadi maksud mang Dadang Kak Gagah itu...?"


"Iya Non, dia adalah den Ghibran"


"Hahahhaa! Mang Dadang lucu, berhasil banget


bercandanya." Aisa tampak tak terima.


"Serius Non, dan ternyata Non sudah gak dirumah lagi. Non Aira meminta pada tuan untuk menggantikan dirinya lah yang menikah dengan den Ghibran. Awalnya tuan dan yang lainnya menolak, tapi Aira terus merengek dengan alasan agar nanti jika dia mati setidaknya ia pernah merasakan di pelaminan."


"Hiks.... itu gak mungkin Mang... Pak Ghibran gak mungkin Kak Gagah ku"


"Den Ghibran awalnya juga sama seperti non, Beliau gak menyangka jika Adik lucu nya itu adalah Non Aisa. Dia pun menentang pernikahan ini, Sampai akhirnya Non Aira pingsan. Saat itu kedua orang tuanya den Ghibran memaksanya untuk menerima perjodohan ini."


"Hikss... Hancur sudah hatiku Mang... Aku awalnya rela jika Pak Ghibran memilih Aira, tapi ternyata dia juga Kak Gagahku. Hiksss...."


Aisa sangat sedih, bahkan kakinya lemas saat mendengar semuanya.


"Sabar Non, jangan begini... Non Aisa yang mamang kenal itu adalah orang yang kuat."


"Hiks... lantas bagaimana dengan keadaan Aira sekarang?"


"Apa Kak Gagah juga bahagia saat ini ?"


"Kalau itu mamang gak tahu, tapi yang jelas mamang perhatiin kayanya mereka lagi perang dingin Non. Den Ghibran sepertinya juga tidak menerima pernikahan ini."


"Ya sudah mang, aku ke kamar dulu" lirih Aisa.


Apa ini yang dikatakan adil? Semua yang dilakukan Aisa untuk Aira , tapi kenapa hanya kekecewaan yang ia dapat? Aisa sungguh tak mengapa jika Aira menikah dengan Pak Ghibran, tetapi jika Pak Ghibran dan Kakak Gagah nya itu adalah satu orang ia tak dapat menutup kekesalannya lagi.


Bagi Aisa, kakak gagah adalah segalanya. Apalagi lelaki itu adalah cinta pertamanya semasa kecil. Aisa teringat pada masa itu dimana Kakak Gagah selalu disampingnya dan menyelamatkannya dari orang-orang yang mengejeknya.


Flashback on


"Hikss... hiks.... "


Suara tangisan itu membuat Ghibran kecil mendekatinya.


"Kamu kenapa?" pertanyaan dari anak laki-laki berseragam SMA itu membuat Aisa semakin menangis.


"Hei, tenang... Kakak gak jahat kok, ini ada coklat buat kamu..." ucapnya sambil memberikannya.


"Ma--ka-sih" sambil sesenggukan.


"Sama-sama... Oh iya kenalin, nama kakak itu Iban, nama kamu siapa?"


"Namaku Aica kak"


"Kamu lucu banget sih, Adik kecil..." sambil mengelus kepala Aisa .


"Kakak bilang aku lucu?"


"Iya , memangnya salah?"


"Kata mereka aku ini jelek kak, cupu, culun. Kakak lihat saja penampilanku dan rambutku yang ku ikat begini, padahal kan aku suka dengan gaya ini hikss..."


"Itu dia , kakak juga ngerasa kamu itu cantik kok, lucu lagi. Kalau begitu mulai sekarang kamu kakak panggil adik lucu, gimana?"


"Mau kak mau...."


"Anak pintar...."


"Aku juga mau panggil kakak itu, kakak Gagah!" sahut Aisa sambil tersenyum.


Flashback Off.


Aisa bercermin lalu mengusap air matanya "Akan aku ambil apa yang seharusnya milikku, Aira!!!" geramnya.


Tak lama kemudian ponselnya berdering, ingin sekali rasanya Aisa marah-marah dengan sosok suara di balik layar ponselnya itu, tapi karena ponselnya terus berdering makanya diapun mengangkatnya.


"Halo selamat sore kak, maaf saya sedang sibuk . bye...!"


"Saya Reno..."


"Re---no? ini Pak Reno?"