Aisa & Aira

Aisa & Aira
Eps 45. Sah cerai



Selama beberapa hari ini Aisa dan Pak Reno terbebas dari pernikahan itu dan hidup secara normal kembali. Pegawai kantor pun tidak ada yang mengetahui pernikahan itu sekarang.


"Pak, makasih ya." Ujar Aisa.


"Untuk apa?" Pak Reno mengerutkan alisnya lalu duduk di depan Aisa, "Kalau kamu bilang makasih untuk nikah bohongan ini, aku marah sama kamu, Sa!"


"Marah?"


"Karena bukan hanya kamu yang mendapatkan keuntungannya, tapi aku juga."


"Pak, jujur aku gak tahu tujuan asli Bapak selama ini apa dan aku pengen tahu sekarang."


Pak Reno menghela napasnya dengan dalam, "Aku hanya ingin Rara kembali seperti dulu. Aku memang salah pernah ninggalin bocah kecil yang mengharapkan temannya itu, tapi apalah dayaku yang dulunya adalah anak dari pegawai biasa?"


"Bapak fikir Papa saya itu orang jahat?" Aisa mulai terpancing emosinya karena ucapan Pak Reno seperti mengatakan bahwa Papa Baskoro tidak mau berteman dengan sembarang teman.


"Bukan begitu maksudku. Huh, sudahlah!" Seketika Aisa menjadi lemah mendengarnya.


"Aku janji, Aisa! aku akan memperbaikinya." Pak Reno kembali meyakinkan Aisa.


Hari ini mereka berencana untuk kembali pulang ke rumah Aisa, bertepatan juga pada sidang akhir perceraian antara Aira dan Pak Ghibran. Akhirnya keduanya telah resmi bercerai, ada kebahagiaan yang terpancar di antara ke empat pasang mata ini. Namun keempatnya memilih untuk memperbesar ego mereka.


"Kak Nando, aku sudah bercerai dengannya." Sambil menunjuk Pak Ghibran.


"Hah? Kamu bahagia?" beo Pak Reno dan Aisa secara serempak.


Aira mengangguk, "Ngga apa-apa status aku sekarang janda, tapi yang pasti aku yakin kalau Kak Nando kelak masih mendapatkan aku seperti gadis."


Wajar saja Aira mengatakan hal seperti itu karena selama ini Pak Ghibran tidak pernah menyentuhnya. Jangankan untuk menyentuh, tersenyum kepadanya saja pun tidak. Padahal sebelum kejadian itu dan tepat pada saat Pak Ghibran menolongnya dulu, mantan suaminya itu terlihat sangat baik dan sempat membuatnya terpukau juga.


Seluruh keluarga memang mendampingi Aira di persidangan, kecuali Kak Andre yang sedang menuntut ilmu di Negara tetangga. "Kalian pulangnya ke rumah Papa, kan?" tanya Papa saat di parkiran mobil.


"Iya Pa, kita ketemunya di rumah saja ya." Aisa menyalim tangan Papa nya.


"Iya, Nak. Kalian hati-hati ya!" Papa Baskoro menggandeng tangan Mama Risa untuk masuk ke dalam mobil. Namun langkahnya terhenti saat melihat putrinya yang sekarang memiliki status baru itu hanya diam membisu.


"Aku mau bareng Aisa saja, Pa." Aira mengatakannya dengan sangat percaya diri, lalu ia melihat Kak Nando dan Aisa secara bergantian, "Bolehkan?"


"Maaf, Aira...." Jawab Pak Reno yang tiba-tiba terpotong.


"Boleh, kok. Ayo naik!" Aisa mengajak Adiknya itu masuk ke dalam mobil.


"Sa ...."


"Ngga papa, Pak. Hitung-hitung sambil balas dendam," seru Aisa membuat Pak Reno terdiam sebentar.


Di dalam mobil, Aisa terus saja bermesraan dengan Pak Reno walau sebenarnya keduanya merasa risih sekarang. Sementara Aira kini sedang mencari cara agar Aisa dan Pak Reno berpisah walau hanya sebentar saja, pikirnya.


"Bisa gak sih elus rambutnya pas di rumah saja? risih mata gue!" Ketus Aira.


"Aku ingatin lagi ya kami itu sudah halal, kalau kamu lupa." Jawab Aisa santai.


"Sok cantik banget sih lu, cupu!" Aira terlihat sangat murka pada Aisa yang sekarang sudah tampil sangat cantik.


Padahal, baru kemarin Aira berubah menjadi baik walaupun kebaikannya hanya sandiwara. Namun pada hari ini, Aira kembali menjadi dirinya yang sangat membenci Aisa sebagai saudara kembarnya itu.


🌼🌼🌼


Malam harinya, Aisa sedang menemani Mama ke Tempat Laundry sedangkan Aira saat ini berada di ruang tv. Pak Reno keluar dari kamarnya membuat Aira terkesiap karena yang ditunggu pun akhirnya keluar juga.


"Kak!" sapa nya.


"Ada apa?" sambil memainkan ponselnya.


"Temanin aku nonton yuk, aku bawain minuman kesukaan kakak dulu waktu kecil." Tangan Aira terlihat sedang menggelayut di lengan kekarnya Pak Reno.


"Lepaskan!" Tegas Pak Reno , akan tetapi Aira tidak juga melepaskannya.


"Kak, aku sudah buatkan teh hangat di sana," Aira sambil menunjukkan arah secangkir kopi atas meja yang berada di ruangan tv.