Aisa & Aira

Aisa & Aira
Eps 38. Rara nya Nando



Sebenarnya, Pak Ghibran sudah mengetahui jika Aira selama ini hanya pura-pura saja. Dia hanya memberikan waktu pada Aira untuk mengatakan secara langsung atau Ghibran sendiri yang mengatakannya dengan bukti-bukti yang saat ini sedang ia kumpulkan.


Sedangkan di tempat lain, Aisa sudah bersama Rere dan Pak Reno. Kini mereka tinggal menunggu kedatangan Iqbal membawa beberapa file lagi.


"Bos!"


"Hmm"


"Aku boleh nanya gak?"


"Hmm"


"Tapi jangan marah"


"Hmm"


"Janji?"


"Hmm"


"Ck! janji dulu bos"


"Nape Bang? sariawan? Hem ham Hem ham Hem terus dari tadi." protes Rere


"Abang kamu memang terkenal dingin Re di kantor." Adu Aisa membuat Pak Reno mendelikkan matanya.


Seketika Aisa menjadi takut melihatnya "Kamu sih, bangunin macan tidur."


Sementara Rere tertawa melihatnya.


"Jadi nanya gak?"


Aisa mengangguk "Sebenarnya kamu siapanya Aira sih?"


"Peduli apa kamu?"


"Dih, Aira itu saudara kembarku. Lagian rahasia kamu itu juga menyangkut diriku kan Pak?"


"Percaya diri sekali, Anda!" ketus Pak Reno.


Tak lama kemudian Iqbal datang membuat Aisa berdengus kesal karena pertanyaannya tidak di jawab oleh Pak Reno.


"Maaf saya telat, tuan."


"Duduklah"


"Saya sudah menghubungi Pak Ghibran, tuan."


Aisa tercengang "Pak Ghibran?"


"Iya, Nyonya. Pak Ghibran siap membantu kita."


"Jangan panggil aku nyonya! Eh tapi kenapa Pak Ghibran mau membantu kita?"


"Karena dia juga tidak menginginkan pernikahan itu dan dia ingin sekali bebas dari nyonya Aira. Kebusukannya selama ini sudah membuat Pak Ghibran tidak tahan lagi, Nyonya!"


"Jangan menjelekkan Rara ku!" suara bariton itu terdengar jelas.membuat Aisa dan Rere tercengang.


"Rara?" pekik Aisa dan Rere.


Sedangkan Pak Reno menjadi salah tingkah, ia tak dapat lagi menyembunyikan segalanya sekarang.


"Bang, ini maksudnya apa sih? jangan bilang semua ini untuk kepentingan pribadi Abang sendiri." protes Rere/ Regita.


"Baiklah. Saatnya saya ceritakan semua sekarang. Aira adalah teman kecil saya dulu."


"Teman kecil?"


"Iya, dia juga sama seperti kamu yang memiliki teman kecil. Apa kamu pernah mendengar nama Nando, Aisa?"


Aisa tampak berfikir, memorinya kembali mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Iya. Aku ingat! Setelah kecelakaan itu, Aira sering memanggil k**ak Nando dan dia sampai kebawa mimpi gitu. Sejak saat itu lah ia berubah menjadi Aira yang tidak ku kenal."


"Maafkan saya, karena saya pergi begitu saja." lirih Reno


"Maksudnya? Apa kamu Kak Nando nya?"


Reno terdiam.


Aisa tercengang, ternyata adiknya memang memiliki teman semasa kecil, mereka semua berfikir Aira sedang berhalusinasi dulu.


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi bos nya, Reno meringis sementara Rere menatap Aisa tak percaya.


"Maaf" lirih Aisa yang menyadari kesalahannya.


"Maafkan aku Re, maafkan aku Pak!" sambung Aisa , lalu ia menatap Pak Reno kembali.


"Maaf Pak, aku hanya terpancing emosi. Apa bapak tahu kalau Aira seperti orang gila setelah itu? kenapa bapak pergi? kami yang memang tidak tahu siapa yang di maksud Aira itu hanya meringis. Setelah patah kakinya, ia juga merasakan patah hatinya."


"Maafkan saya, saya dulu masih SMP. Anak SMP itu juga masih labil. Saya tidak menabraknya, tetapi saya takut dituduh karena telah menabraknya. Saya begitu menghormati Om Baskoro karena memang saat itu Om Baskoro terkenal sangat kaya dan dermawan."


"Tapi tidak begitu juga caranya Pak!"


"Maafkan saya..."


"Aku gak menyangka bang...," lirih Rere


"Maafkan Abang."


"Ya sudah lah pak, toh juga sudah kejadian. Akan tetapi sekarang malah saya yang kehilangan cinta pertama saya." lirih Aisa.


"Cinta pertama?" beo Rere yang memang tidak tahu.


"Pak Ghibran itu cinta pertamaku Re, kamu ingat tidak kalau aku pernah cerita dulu dekat dengan kakak gagah?"


Rere mengangguk "Jangan bilang, orangnya itu..."


"Iya Re, Pak ghibran."


"Astaga, bagaimana bisa?"


"Aku juga tidak tahu"


"Aku akan mengembalikan Ghibran padamu" Suara bariton itu membuat Aisa menelan Saliva nya dengan susah payah.


Aisa cukup senang mendengarnya, akan tetapi pernikahan bukan main-main baginya. Bagaimana nasib adik nya itu, kelak?.


"Aku tidak setuju!" Tiba-tiba Rere membuat suasana kembali tegang


"Maaf bang, tapi menurutku bukan begitu cara balas dendam sesungguhnya."


"Jadi, apa rencanamu?"


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


**Kira-kira apa ya rencana Rere? yuk komen!


jangan lupa like nya, fav nya dan bunganya juga...


Selamat berpuasa semuanya๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


Ah iya, Aku juga punya rekomendasi lagi nih. Kali ini dari senior terkece. Sambil nunggu up nya othor bisa mampir dulu ke kakak AG sweetie, cekidot๐Ÿ‘‡**.



**Sinopsis ;


"Ada rapuh yang tersusun rapi. Sebelum menjadi indah, kupu-kupu hanyalah secuil ulat yang menempel rapuh di dedaunan."


~ Vlora Yukika ~


"Hanya karena dahaga sebentar, tak lantas membuatmu harus meminum racun bukan?"


~ Haedar Gibran ~


Dikhianati suami, diasingkan keluarga sendiri, tidak ada tempat tuk berbagi keluh, jua seolah tak ada rumah yang sungguh tuk berteduh. Adakah yang lebih sakit dari ini?


Pada titik terendahnya, Vlora bangkit menjadi sosok yang baru. Dendamkah ia pada mereka yang telah menyakitinya? Sementara ia sendiri memiliki rahasia besar yang dianggap sebuah pengkhianatan.


"Duri itu kau sendiri, lalu kau jua yang merasa tersakiti."


~ Tristan Pratama ~


Lantas apa yang Vlora lakukan? Bagaimana jika rahasia besar itu terungkap? Masih banggakah ia dengan kehidupan baru yang kini melambungkan namanya**?