
"Hei, sembarangan anda. Siapa yang bilang gak mau? aku kan cuma nanya. Iyakan bang Iqbal?" elak Rere sambil menyenggol siku Iqbal yang sedari tadi diam saja.
"Hah?" Iqbal terkesiap
"Makanya jangan diam aja lah." sahut Rere sambil tertawa. Rere memang senang sekali menjahili Iqbal.
"Kamu gak apa-apa Sa?" tanya Pak Reno khawatir.
"Gak apa-apa kok, Pak. Oh iya saya bersihkan dulu meja makannya." kata Aisa sambil menaruh piring ke dapur.
"Jangan non, biar bibi saja" ujar bibi dari dapur.
"Santai saja Bi..." sahut Aisa akan tetapi bibinya tetap ikut membereskan nya sedangkan Pak Reno hanya tersenyum melihatnya.
Kini Aisa berada di dalam mobil Pak Reno karena beliau mengajaknya pergi bareng ke kantornya. Awalnya Aisa menolak tetapi karena Pak Reno terus memaksa dan Rere juga menyuruhnya mau gak mau Aisa pun ikut bersama Pak Reno.
"Pak, saya turun di simpang sana saja." Kata Aisa sambil menunjuk arah jalannya.
"Kamu kira saya ini supir kamu?" ketus Pak Reno membuat Aisa merasa bersalah, apalagi di dalam mobil tersebut juga ada supirnya.
"Eh? bukan begitu maksud saya Pak." lirih Aisa
"Kamu akan bareng dengan saya sampai di Kantor." tegas Pak Reno
"Tapi Pak---"
"Saya bukan Bapak kamu!"
"Tapi---"
"Mang Didi bukan pegawai saya di kantor."
Lagi..., Aisa kalah pendapat jika disandingkan dengan bos nya satu ini. Melawan pun percuma, pikirnya.
"Baiklah, Bos. Tanpa mengurangi rasa hormat, boleh dong aku turun di simpang sana?" Gadis itu mengedipkan matanya, sungguh ini bukan seperti Aisa yang dikenal Pak Reno.
Pak Reno mengangguk, akan tetapi sedetik kemudian "Tidak boleh!"
"Lah?" Aisa terlihat lesu, percuma saja dia seperti orang yang mengemis perhatian, pikirnya.
Aisa pasrah dan berdiam diri di dalam mobil itu, sambil sesekali melirik lelaki yang menjadi bos nya itu dengan kekesalannya.
"Jangan kesal sama saya, nanti jadi cinta!" ucapan itu membuat Aisa ingin meremas kerah baju sang bos.
"Heheheh tidak Pak, terima kasih."
🌸🌼🌸
Mereka sudah sampai di Kantor, Pak Reno bingung melihat tingkah Aisa sedari tadi celingukan seperti mencari sesuatu.
"Kenapa tidak turun?"
"Kau menyuruhku?" sambil membulatkan matanya.
"Eh bukan begitu Pak, tapi ih malu atuh bos. Apa kata orang nanti, tuh Mbak Atik gotik juga sudah di depan kayanya nunggu bos tu." Aisa mengubah nada bicaranya seolah seperti teman dekat.
"Biarkan saja dia melihat, apa urusannya dengan saya?"
"Pak, eh maksudnya bos... Bos jangan gitu lah, nanti aku di teror sama Atik duh pusing aku."
Pak Reno terlihat gemas dengan Aisa, Akhirnya ia mengalah dan masuk ke kantor terlebih dahulu.
"Ya sudah, hati-hati."
Aisa tercengang melihat bos nya yang terkenal seperti balok es itu menurut begitu saja.
"Tumben" gumam Aisa
"Biasanya neng kalau tuan sudah begitu berarti neng sudah di anggapnya orang terdekat tuh neng." sahut Mang Didi.
"Astaga! ngagetin aja sih Pak" Aisa mengelus dadanya.
"Hehehe Maaf atuh Neng. Ngomong-ngomong mau sampai jam berapa neng disini?"
"Hah? kenapa emang?"
"Sudah sepi neng, lihat saja kalau tidak percaya."
Aisa langsung mendongak dan benar saja sudah tidak ada lagi yang datang.
"Kenapa gak bilang dari tadi?" kesal Aisa.
Dasar wanita, gumam Mang Didi saat Aisa keluar.
Selama bekerja, Aisa memang sudah tampil beda, tak seperti dulu lagi yang terlihat Cupu dan kampungan. Kini ia sudah berpenampilan modis dan cantik. Walaupun kulitnya berwarna sawo matang tapi tampak terlihat terawat sekarang.
Semua itu karena Pak Reno dan anak buahnya lah yang membantunya. Entah apa Maksud dari itu semua, tapi yang jelas Aisa menikmati perubahannya sekarang.
Baru saja Aisa masuk ke dalam ruangannya tiba-tiba...
"Aisa!" lirih paruh baya tersebut.
Aisa yang mendengarnya langsung menghentikan langkahnya, ia sangat mengenal suara itu dan laki-laki itu lah yang selama ini ia rindukan. Laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.
"Aisa, anakku. Hiks... " lirih laki-laki itu lagi.
Aisa tetap tidak menjawabnya karena tangisan itu terus membendungnya. Lidahnya kelu, kakinya kaku dan ingin rasanya ia terbang sekarang.
Namun tiba-tiba
Grep!