Aisa & Aira

Aisa & Aira
Eps 34. Sisi lain Pak Reno



Pagi hari, Aisa dan Rere sudah di meja makan. Tibalah Pak Reno turun dari kamarnya dan bergabung bersama mereka.


"Aisa, apa kamu sudah tahu tentang Aira?"


"Maksudnya Pak?"


"Ck! Aku bukan bapak kamu."


"Tapi kan..."


"Ini bukan di kantor, Aisa." tutur Pak Reno lagi membuat Aisa cengengesan.


"Sa, coba dulu kau serius sedikit. Kesal kali aku bah " celetuk Rere


"Hmm iya, ada apa sih?"


"Saya pernah bilang kan ada rahasia lainnya?" ujar Pak Reno


Kemudian Aisa mengangguk.


Lalu Pak Reno menyerahkan beberapa berkas yang isinya adalah hasil lab atas nama Aira Nazeera.


Prang!


Tanpa sengaja Aisa menjatuhkan gelas yang berada di sampingnya sangkin terkejutnya.


"Enggak! ini gak mungkin." lirih Aisa


"Saya tau kamu gak akan percaya makanya saya menunggu sampai hasil lab yang asli saya dapatkan"


"Berarti benar?"


Pak Reno mengangguk dan entah kenapa Rere juga mengangguk.


"Kamu juga tahu Re?"


"Iya, aku gak sengaja dengar percakapan Aira sama teman-temannya. Awalnya aku mau kasih tahu kau, tapi kau udah hilang deluan."


"Tapi bang, ngomong-ngomong kau tahu dari mana?" tanya Rere pada Pak Reno.


"Kamu masih ingat sama Iqbal? Nah, dia yang kasih tahu. Tunggu aja sebentar lagi dia datang bawa rekaman suaranya."


"Wah! keren, kalian kaya detektif aja." celetuk Aisa tiba-tiba.


Pletak!


"Aw!" lirih Aisa yang mendapat sentilan dari Rere.


"Sa, cukup di kampus lemotnya ya. Sekarang gak usah lagi. Udah cukup semuanya sekarang kau harus tunjukkan sama mereka kalau kau itu kuat!"


"Aku..." Aisa tak dapat meneruskan ucapannya lagi.


"Saya akan bantu kamu!" suara bariton itu membuat Aisa tercengang


"Tapi kenapa Bapak mau melakukan itu?"


"Aisa, jujur ada kejadian masa lalu yang masih menjanggal di hati saya. Entah sebuah kebetulan atau memang ini jawaban dari Takdir tapi saya yakin ini sudah waktunya saya mencari tahu masa lalu saya yang berkaitan dengan kamu."


Ucapan dari Pak Reno sebenarnya membuat Aisa tercengang, batinnya bertanya-tanya sebenarnya ada apa? tapi saat melihat wajah lelaki yang kini menjadi bos nya itu sangat datar ia pun mengurungkan niatnya.


Masa lalu? berkaitan? ah apa itu?.


"Bang, ngomong apa sih?" celetuk Rere yang juga ikut bingung.


Pak Reno mulai salah tingkah, seperti kucing yang ketahuan menangkap ikan saja padahal dia menceritakannya secara sadar tadi, bukan dengan paksaan.


"Ah iya, ngomong apa ya? Sudah lah, lupakan saja. Abang ngaur mungkin." Pak Reno menggaruk tengkuknya.


Tak lama kemudian seorang laki-laki dengan setelan baju berwarna hitam berwajah datar datang membawa selembar map dan amplop yang besar.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkannya?"


"Sudah, tuan. Anda bisa melihat ini sekarang." sambil menyerahkan berkas yang ia dapatkan.


Pak Reno menerimanya dan tersenyum licik sekarang. Sedangkan Aisa yang melihat sisi lain dari Pak Reno pung langsung keringat dingin. Wajah lelaki itu tampak serius, tidak seperti biasanya.


Rere yang begitu paham dengan tingkah Aisa langsung menggenggam tangan sahabatnya itu sambil tersenyum menandakan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Bang!" panggil Rere


Saat Pak Reno menoleh, Rere memberikannya isyarat dengan melirik sekilas ke arah Aisa.


"Maaf," lirih Pak Reno.


"Sebenarnya ada apa Pak?" tanya Aisa langsung


"Ini, kamu lihat saja." Sambil menyerahkan berkas tersebut.


Aisa membulatkan matanya dengan sempurna, ternyata selama ini ia di bohongin. Lalu? Apa tujuan Aira selama ini?


Pertanyaan itu terus saja membuatnya cemas sendiri sekarang. Sifat iri dan dengki nya Aira sudah sangat keterlaluan sekarang.


Kecewa? Siapa yang tidak kecewa saat di bohongin?


"Hiks... Hiks.... " tangisan Aisa membuat Rere menariknya ke pelukannya


"Tenang, ada saya. Kamu setuju kan untuk membalas semuanya?" tanya Pak Reno serius


"Tapi... Hiks.... Aku gak mau Aira disakitin." sahut Aisa yang masih membela kembarannya.


"Hei... Kita tidak akan menyakitinya secara langsung. Kamu harus tenang sekarang. Fisiknya tak akan kita sentuh, tenanglah."


"Maksud bos?"


"Masih ada cara balas dendam dengan tidak menyakiti fisik. Kita cukup sakitin perasaannya dan soal rencananya saya masih mengaturnya bersama Iqbal. Kalian berdiam diri saja lah. Jika saya butuh bantuan kalian, maka saya akan bilang langsung pada kalian."


"Kalian? aku juga?" ceplos Rere


"Ck! kamu ini teman mecem apa? bantu teman nya saja gak mau."


"Hei, sembarangan anda. Siapa yang bilang gak mau? aku kan cuma nanya. Iyakan bang Iqbal?" elak Rere sambil menyenggol siku Iqbal yang sedari tadi diam saja.


"Hah?" Iqbal terkesiap


"Makanya jangan diam aja lah." sahut Rere sambil tertawa. Rere memang senang sekali menjahili Iqbal.


"Kamu gak apa-apa Sa?" tanya Pak Reno khawatir.


"Gak apa-apa kok Pak. Oh iya saya bersihkan dulu meja makannya." kata Aisa sambil menaruh piring ke dapur.


"Jangan non, biar bibi saja" ujar bibi dari dapur.


"Santai saja Bi..." sahut Aisa akan tetapi bibinya tetap ikut membereskan nya sedangkan Pak Reno hanya tersenyum melihatnya.


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


**Semangat pagi kakak,


bagaimana puasanya?


dukung othor terus yaaa🤭


Oh iya kak, othor masih mau promo in teman othor sesama othor ni, sekarang giliran kakak ini, cekidot👇**



Akibat dari cinta satu malam, membuat Vie harus merelakan masa mudanya. Setelah dikeluarkan dari kampus, ternyata Vie juga diusir oleh ayahnya sendiri karena Vie telah mencoreng nama baik keluarga. Lima tahun berlalu, kehidupan pahit Vie kini telah terobati dengan hadirnya sosok Arga, bocah kecil tampan yang sedang aktif berbicara meskipun kini tak tahu dimana keberadaan ayahnya. Namun, siapa yang menyangka jika selama ini Vie bekerja di perusahaan milik keluarga kekasihnya. Hal itu baru Vie ketahui saat kekasihnya mulai mengambil alih perusahaan. Masih adakah rasa yang tertinggal untuk sepasang kekasih di masa lalu ini? Mari kita ikuti kisahnya 😊