
"Maaf" lirih Aisa
"Sudahlah, saya hanya bercanda. Lucu juga kamu, ya!" sambil tersenyum ngejek.
Aisa menggelengkan kepalanya seperti tak percaya dengan kekonyolan sang bos yang terkenal dingin itu.
"Sudah ketawanya bos? sekarang aku mau nanya!" Tegas Aisa dengan mengubah panggilan itu.
"Wih, sudah berani anda ya di ruangan saya?"
glek!
Aisa menyadari kecerobohannya dan dengan susah payah ia menelan Saliva nya. Lidahnya mendadak membisu kakinya pun menjadi kaku.
"Hei, baru di gertak jangan langsung botak." goda Pak Reno.
"Ih Bapak ini, ngeselin banget." ucap Aisa pelan.
"Ya sudah, sekarang serius. Kamu mau ngomong apa tadi?" Dengan wajah seriusnya.
"Oh iya! Lali (lupa) aku," sambil mengambil nafas yang dalam.
"Papa aku kenapa bisa di sini tadi?"
"Ada urusan bisnis"
"Bukan karena kamu sengaja kan bos? Maksud aku, kamu yang sudah memberitahukan keberadaanku kepada papa kan?"
"Kalau boleh jujur, iya!"
"Tapi kenapa?"
"Om Baskoro harus tahu keberadaan kamu, Aisa! Setidaknya dia bisa memastikan keadaan kamu itu baik-baik saja."
"Tapi bagaimana jika nanti..."
"Kamu tenang saja soal itu, beliau tidak akan mengatakan apapun pada siapapun termasuk Ibumu."
"Apa kamu yakin, Bos?"
"Kau meragukan ku?"
"Ah tidak, tapi masalahnya..."
"Kamu tenang saja, Aisa."
"Baiklah, walaupun aku masih belum tahu apa rencana bos selanjutnya."
"Saya akan memberitahukannya nanti, sekarang telpon lah Regita, dia akan membantu kita!"
🌸🌼🌸
Sementara di kota lain,
Aira terlihat murung sekali belakangan ini karena Ghibran terus saja bersikap acuh tak acuh padanya. Bahkan sekarang Ghibran terang-terangan tidak perduli padanya.
"Aw! Mas, tolong... Kepalaku sakit." lirih Aira, sedangkan Ghibran hanya meliriknya sekilas .
"Mas! hiks ... hiks ...."
"Berhentilah bersandiwara, Aira!"
degggg
Setiap kali Aira mengemis perhatian, saat itu juga Pak Ghibran mengancamnya.
Ghibran memakai baju kerjanya, belakangan ini Ghibran sangat jarang pulang dan lebih memilih untuk tidur di kantor milik Daniswara.
"Mau kemana mas?"
"Ke kantor."
"Diluar hujan, aku takut sama petir!"
"Ya sudah, kamu boleh pulang ke rumah orang tua kamu."
"Mas, tapi..."
"Aku tak terima perdebatan. Jika kamu tidak suka maka dengan senang hati aku akan memulangkan kamu ke rumah orang tua kamu!"
Bruk!
Ghibran menutup pintu nya dengan kuat sampai Aira tersentak kaget.
'Aku menyesal telah menikah denganmu, Ghibran! aku menyesal! hiks... Andai saja Kak Nando disini, pasti dia yang akan menghapus air mataku.' lirih Aira.
Flashback on.
Nando adalah teman kecil Aira, Rumah Pak Baskoro sangat dekat dengan rumah Daniswara dan Fernando. Hanya saja dulunya Aira lebih suka menonton orang yang bermain futsal dan di sana ada Fernando yang suka bermain futsal. Sedangkan Aisa lebih suka pergi ke taman melihat keramaian dan disana ada Ghibran yang memang juga menyukai taman.
Aira dan Nando sangat dekat bahkan Aira kecil dulu pernah meminta Nando menjadi pacarnya saat itu.
"Rara? kenapa kamu kesini?" tanya Nando pada anak kecil itu.
"Memangnya kenapa? Kakak gak suka aku samperin? Kakak lebih suka di lihatin cewek-cewek centil itu ya."
"Aw! udah kak, sakit..."
Akhirnya Nando melepaskannya, tak lama kemudian peluit berbunyi dan itu tandanya Nando harus kembali bermain futsalnya.
"Kamu tunggu sini, kakak mau main lagi, okay?."
Aira mengangguk "Aku bawain minuman ya?"
"Iya, tapi hati-hati banyak kendaraan soalnya."
Nando sibuk dengan permainannya, sedangkan Aira membeli minuman di seberang sana. Lalu tiba-tiba.
..
Bruk!
ckiiiittt
"Aira!!!!" teriak Nando. Tampak sekali Nando saat itu sedang panik dan merasa bersalah karena membiarkan anak sekecil ini sampai tertabrak seperti tadi.
Semenjak saat itu, Nando menjauhkan diri dari Aira. Bukan hanya rasa bersalah yang menghantuinya tapi juga rasa kepercayaan dirinya sudah hilang saat di hadapan Aira.
Flashback Off
penyesalan memang datang belakangan,
sedangkan di awal itu tandanya pembukaan.
(sorry, othor gabut).
🌼🌼🌼
Malam harinya, Aisa sudah berada di rumahnya Bu Indah dengan membawakan Martabak kesukaan Bima. Melihat bocah kecil itu lahap memakannya membuat Aisa tersenyum senang karena ia dapat membeli sesuatu yang membahagiakan orang lain dengan hasil jerih payahnya.
"Teh, martabaknya enak!" ucap Bima
"Makanya di habisin ya, nanti teteh beli lagi kalau kamu suka."
"Benar teh?"
"Iya, teteh janji. Teteh ke kamar dulu ya?"
"Teteh mau pergi lagi?"
"Iya, di luar ada Kak Rere temannya Teteh sewaktu di kota dulu. Teteh masih ada urusan sama kak Rere, sayang."
"Kenapa tidak tidur di rumah Bima? teteh malu ya karena rumah Bima kecil?"
"Bima!!!!" tegur Bu Indah
"Gak papa Bu..." sahut Aisa.
"Bim, dengarin Teteh. Masih ada masalah yang harus teteh selesaikan. Teteh janji nanti bakal sering tidur sini lagi kok, peluk teteh dulu yuk."
Bima langsung berhamburan memeluk Aisa, ia memang sudah sangat menyayangi Aisa sekarang.
"Bima sayang teteh"
"Teteh lebih sayang dengan Bima."
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Haaai, bagaimana puasanya? lancar kan? semoga sehat selalu ya kakak-kakak online.
Jangan lupa, dukung othor, dengan like, komen, fav, dan boleh dong hadiahnya minta dikit ehhehh.
Oh ya, Nih othor masih punya rekomen lagi dari teman othor, cekidot👇.
Masa Lalu Sang Presdir (21+)
Blurb :
Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?
"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."
"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."
"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."
"Richard ...."
"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.
Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.
"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"
Ameera mengangguk mantap.
Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.