
Pukul 05.00 pagi, Aisa sudah bangun dari tidurnya ia mengambil wudhu dan kemudian ia melaksanakan shalat fardhu.
Setelah itu ia memutuskan untuk membantu Bi Inah di dapur dan kini ia sudah melihat bi Inah bermain dengan alat dapurnya.
"Pagi Bi"
"Eh, non Aisa?. pagi juga non."
"Mau masak apa ni Bi?"
"Nasi goreng kampung sama udang tepung dan telur ceplok, Non."
"Oh gitu, udangnya masih di kulkas ya Bi?"
"Iya non"
Aisa langsung mengambil udangnya namun dengan segera Bi Inah mengambil kembali dari tangan Aisa.
"Kenapa Bi?"
"Non duduk manis aja, pagi ini biar bibi yang masak"
"Tapi Bi ---"
"Itung-itung hadiah dari bibi karena Non berhasil bongkar kejahatan Aira"
Aisa berpikir sejenak, lalu ia mengangguk dan tanpa sadar ia tersenyum tipis. Sepertinya dia sedikit bahagia karena mendengar ucapan Bi Inah tadi.
Tak lama kemudian ..
"Aisa!" panggil mama Risa
"Iya ma?"
"Kamu ngapain di dapur?"
"Niatnya mau bantuin Bi Inah, tapi dilarang."
Mama Risa tersenyum "Mama yang menyuruh Bi Inah supaya tidak mengizinkan kamu memasak. Mulai sekarang kamu gak usah ikut masak dan bersih-bersih, biarkan itu tugas Bi Inah saja nak"
"Tapi Ma---"
"Benar kata Nyonya non, Bibi saja yang mengerjakannya"
Beberapa menit kemudian semua masakan sudah siap dan dihidangkan. Semua anggota keluarga juga sudah ngumpul di meja makan, Aisa masih dengan maskernya dan dia berniat untuk sarapan setelah semuanya selesai sarapan.
"Aisa, kenapa masih pakai masker nak?" tanya Papa Baskoro
"Gak papa kok Pa, Lagi pengen aja" jawab Aisa
"Buka maskernya nak dan makanlah" sahut Mama Risa
"Tapi ma-----"
"Yaudah sih ma, kalau dia gak mau buka juga gak apa-apa toh juga gak ada ruginya sama kita, malah untung" celetuk Aira
"Jangan ikut campur kamu, Aira" jawab Mama Risa membuat Aira melotot
"Mama marah sama aku?" tanya Aira tak percaya
"Memangnya kenapa?. Kamu gak terima? Mama gak peduli!" ketus mama Risa.
Akhirnya Aisa membuka masker setelah dibujuk oleh semuanya kecuali Aira.
Selesai makan, Aira mengecek ponselnya ia membuka mbanking karena memang ditanggal segini biasanya Papa Baskoro sudah mentransfer nya.
"Astaga! Papa?" kagetnya
"Ada apa?" jawab papa santai
"Kenapa jatah bulananku jadi segini? Pa, ini gak cukup dong, apalagi sekarang aku gak naik mobil" protes Aira
"Ya mulai sekarang kamu harus pandai mengaturnya. Aisa saja bisa kenapa kamu tidak?"
"Pa, jangan gitu dong "
"Tidak, Aira! jangan dibantah"
Aira berdengus kesal dan langsung menyuruh sahabatnya untuk menjemputnya.
Sedangkan Aisa kini sedang berpamitan kepada orang tuanya dan mencium tangannya.
"Aisa pergi dulu, assalamu'alaikum "
"Waalaikumussalam, hati-hati sayang" sahut kedua orangtuanya.
Kak Andre yang melihat Aisa sudah mau pergi ia pun berlari mengejarnya.
"Aisa, tunggu!" teriak nya
"Aisa, ayo kakak antar" sambungnya lagi.
"Aku bisa sendiri kok kak" jawab Aisa
"Kak, bagaimana antar aku aja?" kali ini yang bertanya adalah Aira
"Kamu? naik motor? dih!!! enggak-enggak, nanti rambut kamu kena debu jadi kamu gak bisa kakak antar " tolak Kak Andre
"Iya kak, Aira saja ya kak" kata Aisa
"Sudahlah, ayo" ucap Kak Andre sambil menarik tangan Aisa
Tanpa sadar Aisa tersenyum sinis ke arah Aira yang sedang mengepalkan tangannya.
Awas kamu-batinnya.
Kini Aisa sudah di atas motor Kak Andre, motornya yang gede membuat Aisa susah di bonceng apalagi bentuknya condong ke depan.
"Kakak gak balik ke Paris kak?" tanya Aisa di perjalanan
Aisa mengangguk.
"Memangnya kenapa Sa?"
"Gak papa, aku senang kalau kakak disini, ada yang bela aku jadinya"
Kak Andre mengerutkan alisnya, memang benar selama ini ia selalu bela Aisa karena memang dia tidak salah.
"Kamu tuh jangan senang dulu karena gak gitu konsepnya!" ucap Kak Andre
"Maksudnya?"
"Dengar ya dek, selama ini kakak ngebelain kamu itu karena memang kamu gak salah. Tapi kalau kamu salah kakak juga gak akan segan-segan buat negur kamu, sama kaya Aira. Kakak itu gak dipihak siapa-siapa. Yang benar tetap benar dan yang salah tetap salah. Bukan yang salah dibenarkan. Faham?"
Aisa mengangguk.
"Ya sudah, turun gih. Sana masuk, tuh teman kamu sudah nungguin. Ah iya, titip salam ya"
"Eh gimana gimana?"
"Lupain. Hahahahah"
Aisa menghampiri Rere yang sedang duduk di pos satpam
"Lama kali kau bah" celetuk Rere
"Hehe sorry" kata Aisa
"Eh iya, kakak aku kirim salam" sambung Aisa
"Apa?" tanya Rere yang memang gak dengar, ia kurang fokus karena sedang main game di ponselnya.
"Gak ada, lupain. Hahahah"
⚡⚡⚡
Sekitar pukul 11 siang saat pergantian jadwal mata kuliah tiba-tiba perut Aisa mulas.
"Napa kau?" tanya Rere saat melihat Aisa keringat dingin
"Kayanya perut aku sakit deh Re"
"Ya sudah, ke kamar mandi lah kau sana. Nanti keluar pula pas Pak Ghibran masuk, bahaya itu"
"Aku nitip absen ya"
Lalu Aisa berjalan menuju Toilet, ia masuk ke dalam dan tiba-tiba ada yang menguncinya dari luar.
15 menit sudah Aisa di dalam, namun saat ia ingin keluar pintunya tak dapat dibuka
bruk
bruk
bruk
"Tolooooong!" teriak Aisa namun karena memang berada di lantai paling atas dan paling pojok membuat orang tak banyak yang berlalu-lalang.
"Hiksss" Aisa menangis.
Sementara di kelas seperti biasa, Pak Ghibran selalu mengawali dengan mengabsen para mahasiswanya.
tibalah....
"Aisa Nafeeza"
Rere mengangkat tangannya, sialnya di saat yang bersamaan Pak Ghibran melihat arah tangan nya.
"Kamu?" kaget Pak Ghibran
"Iya Pak, maaf"
"Mana Aisa?"
"Itu pak, tadi katanya ke toilet "
"Ya sudah"
Pak Ghibran memulai perkuliahan namun sebenarnya hatinya bertanya-tanya, kemana Aisa?.
Di sisi lain, Aisa terus saja menangis. Tak ada yang mengetahui Aisa terkurung di dalam . Ternyata selain mengurung nya seseorang juga menempelkan tulisan 'Toilet Rusak' di pintu depannya. Pantas saja tidak ada yang mengetahuinya.
Jam mata kuliah selesai, Pak Ghibran pun mengakhiri Maya kuliah dengan mengumpulkan semua tugas Minggu lalu. Rere maju kedepan dan membawa dua tugas sekaligus .
"Kamu?" tunjuk Ghibran pada Rere
Rere terkesiap, "Saya pak?"
"Hmm"
"Tolong bawakan tugas ini ke ruangan saya"
"Baik Pak"
Sa, kau sebenarnya kemana sih? batin Rere.
Rere mengikuti Pak Ghibran di belakang. Terdengar suara cekikikan Aira dan teman-temannya setelah mata kuliah Pak Ghibran selesai.
Rere menoleh dan menatap mereka dengan tajam , sementara yang ditatap menjulurkan lidahnya.
Saat melewati toilet Rere berhenti sejenak "Pak, maaf"
"Ada apa?"
"Ini toiletnya memang rusak ya?"
"Mana saya tahu, kamu pikir saya petugas kebersihan?"