
Di sebuah rumah sakit sedang ada seorang gadis yang terbaring lemah, bernapas pun hanya mengandalkan selang dan beberapa peralatan medis lainnya.
Tit Tit Tit
Bunyi jantungnya terlihat normal dan dengan mata yang tertutup itu sering sekali ia mengeluarkan air mata ketika seseorang mengatakan sesuatu padanya.
Sudah lima bulan berlalu, keadaan pun sudah semakin berubah. Seorang laki-laki selalu menjenguknya di tempat itu, setiap harinya selalu ada bunga baru yang akan tertata rapi di meja nya.
"Bunga yang segar untuk gadis cantik yang masih memperjuangkan hidupnya. Aku tahu kamu itu gadis yang kuat. Sayang, aku mencintaimu. Apa kamu tidak ingin hidup bersamaku? bangunlah, sudah cukup hukuman ini untukku. Aku membutuhkanmu, Adik lucu ku." Ucap laki-laki sambil mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, aku pergi dulu. Masih ada jadwal ngajar di kampus, kamu apa tidak mau pergi ke kampus bareng aku? hiks ... hiks ...." laki-laki itu terisak membuat Aisa mengeluarkan air matanya.
"Maafkan aku, kamu jadi ikut menangis ya? tenanglah, aku akan menunggu mu. Kita harus menyatukan cinta kita, kamu mendengarnya kan?" Mata laki-laki itu menyorot sambil menggenggam erat tangan Aisa.
Laki-laki yang selama ini menunggunya adalah Ghibran Daniswara. Selama 5 bulan ini semua pun berubah, bahkan pernikahan bohongan ini pun sudah terbongkar.
Ceklek!
"Kak Ghibran disini?" ucap seorang wanita memakai kursi roda.
Ghibran menoleh, "Iya Aira, ya sudah aku pergi dulu ya. Tolong jaga Aisa, aku titipkan pada kalian." lirihnya sambil menepuk punggung seorang laki-laki yang kini menjadi suaminya Aira.
"Tenang aja, bro. Kaya sama siapa aja sih." jawab laki-laki itu.
Setelah kepergian Ghibran, Aira semakin mendekati kakaknya itu dengan bantuan suaminya. "Aisa, bangun ..."
"Aisa, gue janji bakal berubah. Gue bahkan menyayangi loe, tapi gue mohon loe harus bangun. Becanda loe ini gak lucu tahu gak! loe yang awalnya sadar kenapa sekarang loe yang koma? dasar gadis cupu!" omel Aira sambil terisak, ia menyesali semua perbuatannya.
"Sa, lihat ini ..." sambil menunjukkan jari manisnya, "Akhirnya gue hidup bahagia bersama orang yang gue sayang dan itu semua berkat loe. Apa loe gak mau ngerasain yang sama? kami semua rindu sama loe!"
"Sayang, tenangkan dirimu. Jangan begini!" laki-laki itu memeluk sang istrinya.
"Mas Nando, aku gak mau kehilangan kakak aku mas. Dia lah yang terbaik, mas. Hiks ... hiks ...."
"Iya, aku tahu. Aisa memang hebat, dia terbaik. Aisa itu kuat, percaya lah dia itu kuat." Pak Reno terus menguatkannya.
Reno Fernando kini menjadi suami sah dari Aira Nazeera. Sebelum melakukan operasi, Aisa lah yang memintanya untuk menceraikannya dan menikahi Aira. Walaupun pernikahan itu sebatas kontrak akan tetapi pernikahan itu telah Sah di mata Agama.
Flashback On.
Malam itu keduanya langsung di bawa ke Rumah Sakit, kondisi nya begitu parah sampai membuat mereka harus di operasi.
Aira saat itu dalam kondisi sangat lemah apalagi dengan kakinya yang sudah harus segera di operasi membuat kondisinya semakin menurun.
"Kak Nando ... Kak Nando ...," gumamnya dengan mata tertutup.
"Pak Reno." Panggil Aisa.
"Kamu sudah sadar? yang mana yang sakit Sa?" tanya Pak Reno khawatir.
"Aku gak apa-apa ...," Belum sempat Aisa meneruskan kalimatnya, Aisa mendengar Aira yang terus bergumam memanggil nama Nando.
"Aku boleh minta sesuatu?" Aisa menatap lekat wajah bos berstatus suaminya itu.
"Silahkan, katakanlah ...."
"Aku mau kita akhiri semua ini, hukuman ini sudah cukup untuknya. Ceraikan aku dan Nikahi Aira!"
"Kamu sudah gila?"
"A ... aku mo ... hon!" Ucapnya terbata-bata.
"Tapi ..."
"Penuhilah keinginan anak saya." Suara bariton itu membuatnya tersentak.
"Pa, tapi bagaimana mungkin?"
"Apa kau menyukai Aisa?"
Pak Reno terdiam.
"Kau masih menyayangi Aira, bukan?"
Pak Reno tersentak dan langsung menatap mertuanya itu. "Pa ...." lirihnya.
"Penuhilah, Nak. Aku tahu selama ini kau hanya berpura-pura. Kalian bekerja sama untuk membuat Aira sadar dengan kesalahannya. Sebagai orang tua, aku memohon untuk mereka." lirih paruh baya itu bersimpuh di hadapan menantunya.
Pak Reno pun duduk di hadapan Pak Baskoro, ia menghela napasnya dengan dalam, "Reno akan penuhi, Pa."
Setelah itu, Pak Reno mengucap Ijab Kabul di Rumah Sakit. Kak Andre merekam semuanya sejak awal agar nanti setelah Aira sadar ia dapat melihat semuanya. Aisa tersenyum senang walaupun saat ini ia merasa sangat pusing sekali, kepalanya seperti mau pecah. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Pak Reno sudah menceraikan Aisa terlebih dahulu.
Selama acara ijab Qabul terjadi, Aira terlihat mengeluarkan air matanya sampai semua saksi mengatakan Sah.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Aira tersadar dan bertepatan pada saat itu kini Aisa lah yang masih terjaga. Benturan yang mengenai kepalanya membuatnya harus melakukan beberapa kali operasi.
Pak Ghibran yang mengetahui kecelakaan itu pun langsung datang ke Rumah Sakit, dan selama ini Pak Ghibran lah yang sering menunggu nya di rumah sakit. Ia berharap saat Aisa membuka mata, dirinya lah yang wanita itu lihat.
Flashback Off.