Aisa & Aira

Aisa & Aira
Eps 22. Harus Kuat



Ekhemmm


Pak Ghibran berusaha sekuat mungkin untuk menetralkan perasaannya yang gugup bercampur malu itu.


Bukan hanya beliau yang malu, Aisa juga ikut malu karena tadi ia membicarakan Dosen dingin yang berada di belakangnya itu.


"Hai" sahut Pak Ghibran.


Sementara Athar, ia saat ini ingin sekali tertawa melihat ekspresi sepupunya itu. Dengan segera, Athar langsung mengambil ponsel dan pura-pura melihat sesuatu, beberapa detik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


"Maaf, hahahha" ucap Athar saat melihat semua mata tertuju padanya.


"Kenapa sih kak?" Tanya Rere kepo


"Oh itu, biasalah... Dari grup sebelah kirim chat buat ngakak aja"


"Lihat dong"


"Ih kepo"


Sementara Pak Ghibran menatap tajam ke arah Athar seolah hidup Athar tak akan lama lagi sekarang. Saat ini Athar tidak takut, entah kalau dirumah nanti, pikirnya.


"Ekhmm oh iya Pak, ayo gabung sini" ucap Athar


"Haaa iya, sini aja Pak" sambung Rere


"Memangnya tidak apa-apa?" sahut Pak Ghibran .


"Gak papa kok pak" celetuk Aisa membuat Pak Ghibran tersenyum senang sekarang karena jawaban itulah yang ia tunggu.


🌸🌸🌸


Sementara di sisi lain, Aira merasa dirinya sangat pusing sekarang dan seketika...


brukkkkkk


Semua mata tertuju padanya, Mikha dan Ebi mulai panik sekarang dan untung saja ada beberapa mahasiswa yang sedang lewat lalu melihat kejadian itu.


Aira di larikan ke Rumah Sakit terdekat, Aisa yang mendengar desas-desus mengenai kembarannya itu pun ia langsung pergi ke sana.


Sesampai di Rumah Sakit ternyata sudah ada Kak Andre yang menunggu kabar dari Dokter dan duduk di kursi yang sudah disediakan didepan kamar pasien.


"Kak" lirih Aisa


Kak Andre menoleh "Aisa?"


"Bagaimana kak kabar Aira?"


"Dokter masih memeriksanya"


Tak lama kemudian...


ceklek


"Keluarga Aira?"


"Saya sus"


"Silahkan masuk"


Aisa dan Kak Andre masuk, keduanya langsung menuju ke ruangan dokter yang di sekat oleh tempat tidur itu.


"Silahkan duduk" pinta dokter.


"Terimakasih dok. Lantas bagaimana keadaan adik saya?"


"Saya baru saja melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan sel otak disini"


"Maksudnya dok?"


"Dari hasil lab, dapat disimpulkan bahwa nona Aira terkena penyakit tumor otak"


"Ap---apa dok? tu----tumor?"


"Maaf, tapi kalian harus tetap kuat. Karena pasien sangat membutuhkan dukungan dari keluarga. Satu hal lagi, nanti sore kita akan melakukan kemoterapi jadi pihak keluarga harus bersiaplah"


"Tapi hikssss... Kenapa harus tumor hikssss .. ini gak mungkin... dokter hikss dokter pasti salah... iya kan? hikss dokter salah hiksss "


"Aisa, jangan begini dek. Duduk!" tegas kak Andre walaupun ia juga rapuh tapi siapa yang akan menguatkan keluarganya jika bukan dia.


Sementara sang dokter sudah izin pamit keluar, karena banyak pasien yang akan ditanganinya lagi.


"Kak hiksss... kakak dengar tadi kan? dokter hikss salah kan?"


"Kamu tenang dek, Kita harus kuat. Dek ada mama sama papa yang harus kita kuatkan, please bantu kakak untuk menjadi kuat. Kakak gak sanggup dek sendirian, tolong kakak."


Mendengar ucapan Kak Andre tangisan Aisa berhenti, ia merasa bersalah sekarang pada kakaknya itu.


"Maaf" lirih Aisa sambil nunduk.


"Gak apa-apa... senyumlah"


Hanya seling beberapa menit, tak lama kemudian kedua orang tuanya datang.


ceklek


"Mama? Papa?" pekik Andre dan Aisa


"Bagaimana kondisi adik kalian?" suara bariton itu membuat keduanya susah payah menelan saliva nya.


"Iya sayang, apa yang terjadi dengan mereka?" lagi-lagi pertanyaan itu membuat Andre dan Aisa diam membisu.


"Mama... Papa... ayo duduk dulu"


"Mama sama papa kuat gak ?"


"Maksud kamu apa Andre?"


"Papa, tenangkan diri papa dulu..." kata Aisa ambil dipeluknya papa nya.


"Sebenarnya , Aira..." ucap Aisa terpotong


"Aira kena tumor otak ma." kata Andre . Dia sengaja memotong ucapan Aisa karena ia tahu jika Aisa yang ngomong maka kedua orang tua nya gak akan percaya .


"Jangan bercanda , Andre!"


"Aku tidak bercanda ma...!"


brukkkkk


brukkkkk


Seketika kedua paruh baya ini terjatuh di lantai dan tak sadarkan diri. Rasa sesak di dadanya membuatnya tak berdaya.


"Aisa, tolong panggilkan suster dek..." kata Andre dan Aisa mengangguk


Tak lama kemudian, beberapa suster datang dan juga disertai dokter yang bertugas.


Menyedihkan? Ya, ini semua bagai mimpi buruk bagi Aisa. Namun, kenapa terlihat seperti nyata?


Aira yang dikenalnya selalu ceria dan pantang menyerah kini terbaring lemas melawan penyakit yang diterimanya.


Saat ini Aisa sedang berada di taman Rumah Sakit untuk menangis. Menjadi kuat di depan keluarga itu hal yang paling sulit ia lakukan tapi mau bagaimana lagi?.


"Ambil ini" suara berat itu mengagetkan Aisa


Aisa menghapus air matanya kemudian mengambil tissue yang diberikan oleh lelaki itu.


"Terima kasih" sahut Aisa


"Kenapa menangis?"


"Kenapa disini?"


Mereka bertanya dengan waktu yang bersamaan membuat keduanya salah tingkah sekarang .


"Bapak aja deluan yang jawab"


"Kamu saja yang deluan"


"Baiklah, Aira Pak hiks.....Aira sakit" lalu Aisa kembali menangis.


"Jangan nangis dong" panik Pak Ghibran


"Bagaimana saya tidak nangis sementara kembaran saya saat ini sedang krisis melawan penyakitnya"


"Penyakit?"


"Iya pak, Aira kena tumor otak hiks...."


Tanpa sadar tangan pak Ghibran langsung menarik Aisa ke sisinya, awalnya Aisa mekik namun lama kelamaan Aisa merasa nyaman di sana .


"Kamu harus kuat, kalau kamu lemah siapa yang akan menguatkan Aira?"


Aisa menatap lekat lelaki itu, tuturannya membuatnya sedikit kesentil .


"Maaf Pak " kata Aisa lalu Pak Ghibran mengangguk


"Kamu yang sabar ya, semoga Aira lekas sembuh."


"Terima kasih Pak"


"Sama-sama. Saya pergi dulu, sudah ditungguin sama Kakek"


"Kakek?"


"Iya , Kakek saya di rawat di Rumah Sakit ini. Kenapa? kamu mau menjenguknya?" sambil menaik turunkan alisnya.


"Hah? emh, gimana ya heheheh..."


"Saya bercanda, kalau memang belum siap gak papa kok." Sedangkan Aisa hanya tersenyum kaku.


"*Ke*napa aku jumpa terus ya sama pak Ghibran? aneh." gumam Aisa.


🌸🌸🌸


Aisa sudah kembali ke kamar pasien, ternyata Aira sudah sadar dan kini sedang berontak. Aisa melihat Kak Andre dengan susah payah membujuknya.


"Ada apa ini kak?" tanya Aisa heran


"Diam loe! kenapa sih loe selalu lebih beruntung daripada gue? ha? kenapa harus loe yang beruntung Aisa!!!" Yang jawab adalah Aira.


"Kamu kenapa Ra? hei, istighfar kamu... Tenangkan diri kamu." Aisa mencoba memeluk Aira.


"Jangan mendekat! gue gak Sudi dekat-dekat dengan loe. Gue nyesal di lahirkan sebagai adik loe!"


"Ra, hikss... jangan begitu... Kita satu Bali, aku mohon izinkan aku ikut serta dalam merawat kamu ya. Aku yakin kamu akan sembuh!"


"Enyahlah dari hadapan gue, Aisa!"


"Aira!!! cukup!" bentak Kak Andre


"Lebih baik gue mati aja. Sudah gak ada yang sayang sama gue! hikss"


"Kami sayang sama kamu Aira... Apa yang harus aku lakukan agar kamu semangat lagi untuk sembuh?"


"Loe yakin nanya kaya gitu?" kata Aira dengan nada yang sudah mulai berubah.


Aisa mengangguk sambil tersenyum "Iya, katakanlah!"


"Gue mau supaya loe gak muncul lagi di kehidupan gue, Aisa." sambil tersenyum sinis.


degggg!


Aisa terdiam mendengar penuturan adiknya itu, bagaimana bisa dia meninggalkan keluarganya?.