
Sementara di luar, Pak Reno sudah berada di mobil bersama Aisa, mereka terpaksa membeli sarapan karena tadi sudah telanjur bilang seperti itu pada Aira.
"Pak," panggil Aisa.
"Hm?"
"Mau sampai kapan kita begini? Aku rasa kita sudah keterlaluan dengan Aira."
"Sampai dia sadar dengan kesalahannya. Aku rasa sebentar lagi dia akan sadar."
"Jika dia tidak sadar juga?"
"Bersabarlah, tidak ada proses yang mengkhianati hasil. Oh iya, apa kamu tidak mau melanjutkan kuliah kamu?"
"Benar juga, masa cuti ku juga sudah mau habis."
"Ya sudah, siang nanti aku antarkan ke kampus kamu."
"Tapi, duitku belum cukup. Walaupun Papa masih mengirimkan uang, tapi aku ingin kuliah dengan gajiku sendiri sementara sekarang aku pengangguran."
"Pengangguran?"
"Iya, kamu memecatku kan? buktinya kita belum balik ke kantor."
Pak Reno tertawa melihat gadis di sebelahnya, ternyata mau diubah gimana pun tetap saja sifat asli tidak akan pernah bisa di ubah, pikirnya.
"Aisa, Aisa ... Apa kamu lupa kalau kita baru saja menikah? mana mungkin pagi ini kita ke kantor, walaupun pernikahan ini bohongan tapi kita juga harus bermain cantik, ah kamu ini."
"Oh iya, aku lupa. hehehehe"
"Soal uang kuliah, aku yang bayar. Anggap saja sebagai bonus dari ku dan jangan di tolak."
"Siap bos!"
🌻🌻🌻
Tiga hari kemudian, mereka memutuskan untuk balik ke Bandung karena ada pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan dengan Iqbal yang selama ini menjadi tangan kanan nya.
Aisa dan Pak Reno berpamitan dengan Papa Baskoro dan Mama Risa, sedangkan Kak Andre saat ini masih di luar negeri.
"Ma, Pa... Aisa pamit, nanti Aisa kesini lagi untuk lihat Mama sama Papa, dan kamu juga Aira" ucapan Aisa terpotong.
"Gue gak butuh loe lihat, loe sudah puas kan? setelah mengambil Kak Nando, loe juga sudah buat gue jadi janda! Lalu sekarang, loe pergi dengan seenak jidat loe aja!" ketus Aira membuat Aisa menggelengkan kepalanya.
"Dengar ya, Aira! Aku dan mas Reno menikah itu karena takdir, sementara kamu di ceraikan suami kamu itu karena kesalahan kamu sendiri! atau bahkan itu hasil dari kebohongan kamu selama ini." Tegas Aisa membuat Aira semakin panas.
Aira mengangkat tangannya dengan berniat untuk menampar Aisa, tapi sayang karena belum lagi tangan itu mendarat, tiba-tiba tangannya melayang karena Pak Reno mencegahnya.
"Jauhkan tangan kotor kamu dari istri saya."
"Kak Nando mah jahat, kakak dulu gak begini. Apa Aisa yang sudah meracuni nya?"
"Stop! berhenti lah menyalahkan ku, Aira! kamu harus introspeksi diri. Aku kasih kamu waktu selama aku pergi kamu harus merenungi kesalahanmu, kalau tidak kamu sendiri yang akan menyesal!" Tegas Aisa.
"Dan lagi, bukan Aisa yang merancuni saya. Tetapi pikiran waras saya lah yang membuat saya begini. Jujur, saya kecewa sama kamu Aira, dan kamu yang sekarang tidak pantas saya panggil Rara lagi."
Glek!
Bagai di sambar petir rasanya, ingin sekali Aira pergi dari sana saking malunya.
"Sudah, kenapa jadi berantan gini? Aira, masuk ke kamar!" Tegas Papa Baskoro membuat Aira langsung berlari ke kamar sambil menangis.
"Reno, maafkan Aira ya. Kamu tahu sendiri bagaimana dia bisa seperti itu sekarang, argh sudahlah. Semoga ini cepat berlalu." Ucap Papa Baskoro sedangkan Mama diam saja karena ia juga tidak mengerti.
"Ya sudah Pa, Ma. Kami pamit ya, assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam."
Kini mereka berada dalam mobil, keduanya saling diam membisu, Supirnya Pak Reno juga tidak berani berbicara kalau sudah begini sekarang.
"Pak," Aisa memecahkan keheningan.
"Hm"
"Nanti antarkan aku balik ke rumah mang Dadang ya?"
"Iya, kamu yakin tidak ke rumahku saja?"
"Yakin, lagian gak akan mungkin Aira ke rumah kamu kan?"
"Benar juga, ya sudah."
"Oh iya bos, nanti mampir di toko mainan ya?"
Pak Reno mengerutkan alisnya "Untuk siapa?"
"Anaknya mang Dadang."
"Oh baiklah. "
Selama beberapa hari ini Aisa dan Pak Reno terbebas dari pernikahan itu dan hidup secara normal kembali. Pegawai kantor pun tidak ada yang mengetahui pernikahan itu sekarang.
"Pak, makasih ya." Ujar Aisa.
"Untuk apa?"