Aisa & Aira

Aisa & Aira
Eps 46. Hampir Terjebak



Sebenarnya Reno sangat merindukan wanita disampingnya ini, tapi sayang wanita itu kini berubah menjadi jelmaan yang tak dikenalinya lagi.


"Lepaskan saya, Rara!" tegas Pak Reno membuat Aira tersentak, bukan karena suara lelaki itu yang meninggi tetapi karena panggilan itu yang ia rindukan.


"Kak Nando memanggilku Rara?" ucap Aira seolah tak percaya.


"Mak ... maksud saya ...,"


"Kak, please kali ini saja. Rara rindu sama Kakak, hanya itu. Sekali ini saja, Kak!" Wanita itu terus mohon pada Pak Reno dengan raut wajah penuh harap.


"Baiklah," sambil menghela napas panjangnya.


Tanpa Pak Reno sadari, sudah ada sesuatu yang Aira campurkan di dalam minuman itu. Perlakuan manis Aira membuatnya lupa dengan apa yang ia rencanakan dan membuat alam sadarnya berkurang.


"Kak, filmnya bagus ya? Pacarnya pasti sayang banget sama Cewek itu. Iya kan Kak?"


"Hm ..."


"Kakak haus gak?"


Pak Reno menggelengkan kepalanya, "Kamu saja yang minum."


"Bagaimana kalau kita minum berdua? biar sweet Kak, anggap saja minum bareng Adiknya Kakak, kan sekarang aku jadi Adik iparnya Kakak!"


"Jaga batasan kamu, Aira!"


Pak Reno sudah menolaknya berkali-kali akan tetapi wanita itu selalu saja memaksanya. Hal itu membuatnya mengangguk patuh dengan terpaksa.


"Ini Kak, minum!" Titah Aira.


Perlahan, Pak Reno mengambil gelas tersebut, akan tetapi saat gelas itu hampir mengenai bibirnya tiba-tiba ...


Ceklek!


"Mas!" Pekik Aisa membuat Pak Reno tersentak, dan...


Prang!


Gelas itu terjatuh ke lantai, Aira berdecak kesal karena rencananya telah gagal dalam sekejap saja.


PLAK!


Tamparan itu mendarat di pipi mulus Aira, bukan hanya Pak Reno yang tersentak, melainkan Mama Risa yang berada di ambang pintu pun terkejut melihat keberanian anaknya itu.


"Berani loe sama gue?"


"Kenapa aku harus takut? hm? Apa yang kamu rencanakan pada suamiku, Aira? Dasar Wanita berhati busuk!"


"Loe bentak gue?"


"Iya! kenapa? hm? kaget? Aira, aku ini Kakak kamu, kalau kamu lupa. Terserah kamu mau terima atau tidak, tapi itu lah faktanya yang harus kamu terima!"


Aisa pergi meninggalkan Aira dan yang lainnya, tak lama kemudian Pak Reno pun menyusul Aisa ke kamar.


Ceklek!


Pak Reno di kejutkan dengan pemandangan di depannya. Aisa malah cekikikan sambil memegang ponselnya sampai tidak sadar jika dirinya sudah berada di dalam kamar.


Ekhm


Aisa menoleh, "Bapak?"


"Ya sudah, maafkan anak buahmu ini, Tuan."


"Gak gitu juga."


"Ck! Apasih bos, ganggu aja." Ketus Aisa sambil meletakkan ponselnya.


"Untung kamu datang lebih cepat!"


"Untung apa rugi nih?"


"Kok gitu?"


"Iya lah, jadi gagal anu. Iya kan? hahhaha, sorry deh bos aku kecepatan pulang tadi."


"Eh mana ada gitu, tadi aku di paksa sama Rara, aku gak ada pilihan lain. Awalnya aku cuma mau nemanin aja sampai aku gak sadar dia mau menjebak aku."


"Sebenarnya aku nolongin bos itu bukan untuk bos, tapi buat adikku sendiri. Walaupun kamu itu bos aku, tapi Aira adalah adik aku. Awas kamu kalau macam-macam sebelum halalin dia."


"Pftttt, hahahhah!"


"Kenapa ketawa?"


"Kadang lucu ya Sa, kamu ngelarang suami kamu dengan alasan sebelum halalin dia. Memangnya kamu mau di madu?"


"Terlalu mendalami peran ya bos? kita cuma bohongan, gak pakai baper ya."


"Gadis cupu sekarang bisa ngatur bos nya ya, hebat kamu!"


"Bos dingin juga sekarang bisa baper, wleee ...."


🌼🌼🌼


Keesokan harinya, Papa Baskoro mengajak keluarganya untuk makan malam di luar. Pak Reno masih berada di kantor Ayahnya, Papa Baskoro dan Mama Risa juga sudah berada di tempat karena tempatnya tak jauh dari Kantor Papa Baskoro. Tinggal lah Aira dan Aisa yang masih berada di rumah.


"Aira, aku bareng kamu ya?" Aisa memohon pada adiknya itu.


Aira tampak berfikir, dia sangat malas bersama saudara kembarnya itu akan tetapi dia juga ingin tampak baik di depan Pak Reno.


"Ya sudah."


"Beneran?"


"Iya."


Keduanya naik mobil dan suasana menjadi hening kembali. Sesekali Aisa melirik Aira yang sedang nyetir mobil, Aira menyadari itu dan langsung menatap Aisa dengan sinis. "Ada apa?"


"Aku jadi teringat waktu kecil kita pernah main bareng di wahana bermain anak. Kita naik boom boom car, saat itu kamu yang akan menjadi supirnya, tetapi karena aku juga menginginkannya akhirnya kamu mengalah. Terlihat sederhana tapi aku sangat mengingatnya."


Aira terdiam, memorinya juga berputar pada masa itu. Sebelum kecelakaan itu terjadi, ia dan Aisa terlihat sangat akur sekali, Aira juga yang selalu melindungi Aisa di saat banyak orang yang mengejeknya.


Tiba-tiba saja, Aira kehilangan kendalinya. Tanpa sadar, mobil melaju ke arah seberang jalan, keduanya sangat panik dan tiba-tiba..


"Aira, awas!" Aisa mengambil setir dari samping dan mencoba mengendalikannya, tetapi semuanya terlambat, dari arah berlawanan juga ada mobil yang melaju kencang.


Hingga...


Brak!