Aisa & Aira

Aisa & Aira
Eps 25. Oh ternyata...



"Aisa lagi, Aisa lagi! kenapa sih harus loe , Aisa?" teriak Aira.


"Loe selalu mengambil kebahagiaan gue! sampai kapanpun gue benci sama loe!"


"Loe lihat saja nanti, gue gak akan biarkan loe dapatkan Ghibran. Gue yang lebih dulu jumpa dengan dia, bukan loe!"


"Hahahhahaha, loe lihat aja nanti" kata Aira sambil menghisap air matanya .


Setelah kejadian itu, Aira bersekongkol dengan teman-temannya untuk mengarang keadaan agar Aira terlihat sedang sakit parah agar nantinya mereka pada iba dengannya dan membiarkan dirinya lah yang menikah dengan Pak Ghibran.


Flashback off .


Dan akhirnya... gue lah yang menang , Aisa! hahahhah . gumam Aira dalam hati .


ceklekkk


"Wah anak mama sudah cantik, sudah siap sayang?"


"Sudah Ma.."


"Ma, apa Aisa datang?" tanya Aira berpura-pura sedih


"Emh Aisa...."


"Ya sudah ma kalau Aisa gak bisa datang gak papa kok" kata Aira .


"Kamu jangan sedih, nanti makeup nya luntur. Soal Aisa kita doakan dia baik-baik saja di luar sana. Ah iya sayang, kepala kamu masih pusing?"


"Enggak kok ma"


Aira dibawa keluar oleh mama Risa , ternyata para tamu dan Pak Penghulu juga sudah datang.


Aira tampak semangat bahkan dia hampir melupakan sandiwaranya itu. Sedangkan Pak Ghibran saat ini seperti boneka yang harus mengangguk patuh .


"Bagaimana nak Ghibran? sudah siap?" Tanya pak penghulu, dan Pak Ghibran hanya mengangguk


"Baiklah, bisa kita mulai ya. Ayo dijabat tangan calon mertuanya ..."


"Bismillahirrahmanirrahim. Ananda Ghibran Daniswara bin Fahri Daniswara, Saya nikahkan dan kawinkan engkau kepada anak kandung saya Aira Nazeera binti Baskoro Wijaya dengan mahar 30 gram emas, Tunai..."


"Saya terima nikah dan kawinnya Aira Nazeera binti Baskoro Wijaya dengan dengan mahar tersebut, Tunai."


"Bagaimana para saksi? Sah?"


SAHHHHHH


SAHHHHHH


Alhamdulillah...


Ya Sekarang sudah resmi Aira dan Ghibran menjadi pasangan suami istri. acara demi acara pun telah berlangsung..


Akhirnya, gue yang menang! hahahahhahaha, gumamnya dalam hati.


Lantas bagaimana dengan Aisa?


Hingga kini, Aisa belum mengetahuinya karena mang Dadang memang sengaja tidak memberitahukan nya kepada Aisa.


Malam pun tiba dan seperti pada pasangan suami istri umumnya, Aira berharap kini ia bisa memilki Pak Ghibran tapi sayang Ekspektasi tak sesuai dengan realita.


"Sayang..." Panggil Aira tanpa dosa.


"Jangan mendekat!" ucap Pak Ghibran datar.


"Tapi kenapa, sayang?"


"Jangan panggil aku sayang. Kau paham itu? saya memang menikahimu tapi pernikahan ini hanya paksaan. Saya hanya menghormati orang tuamu. Sampai kapanpun kamu jangan pernah berharap lebih pada saya."


bruuukkk


Pak Ghibran menutup pintu kamar dan memilih pergi ke balkon kamarnya. Aira berdengus kesal, Karena ia memang mengharapkan Pak Ghibran secara utuh.


Aira pura-pura tidur sampai akhirnya Pak Ghibran masuk lagi ke dalam kamar. Dugaan Aira salah, karena Pak Ghibran memilih tidur di Sofa.


🍦🍦🍦


Aisa sudah berada di depan ruangan HRD. Ia benar-benar bahagia karena kemarin mendapat panggilan interview dari pabrik ini.


"Aisa Nafeeza?" panggil seseorang


"Iya Bu? saya?"


"Silahkan masuk"


Aisa masuk ke dalam ruangan, ternyata sudah ada tiga orang laki-laki di depan meja nya. Aisa mengerutkan alisnya ketika melihat salah satu dari mereka adalah orang yang mengguyurkan bajunya dengan genangan becek itu.


"Kok ada kakak itu ya? apa jangan-jangan dia salah satu orang penting? duh gawat ini" gumam Aisa membuatnya semakin tegang.


"Rileks aja mbak Aisa"


"Okay, perkenalkan... Saya Agung selaku HRD di perusahaan ini, dan disebelah saya adalah Bapak Reno selaku anak dari pemilik perusahaan ini , dan diujung sana adalah Ibu Fety yang akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk anda kamu."


deggg


Oh namanya Pak Reno? gimana ini, yang aku panggil kak malah dia si penguasa, argghhh bodohnya kamu Aisa.....


"Sudah siap untuk diberikan pertanyaan mbak?"


"Siap Pak"


"Baiklah, Silahkan Ibu Fety "


"Nama anda Aisa Nafeeza, lulusan SMA. benar?"


"Benar Bu"


"Bisa di ceritakan sedikit pengalaman anda? karena disini saya melihat anda juga melampirkan Sertifikat Olimpiade kampus, apa anda baru lulus dan belum mendapatkan ijazah?"


"Saya pernah kuliah dan saya baru saja cuti Bu. Saya ingin membiayai nya dengan hasil jerih perih saya sendiri Bu, Makanya saya memutuskan untuk mengambil cuti satu tahun dulu."


"Okay, coba ceritakan bagaimana kelebihan dan kekurangan anda!"


"Baik bu, saya bisa bekerja sendiri dan juga bisa ber team. Saya juga bisa menguasai komputer, dapat bekerja sama dengan baik dan saya bisa bekerja part time dan full time. Kalau kekurangan saya, jujur Bu saya tidak bisa bekerja di samping orang yang merokok, dan saya tidak bisa di desak Bu"


"Oke, baiklah. Untuk saya sendiri cukup ya sampai di sini, mungkin Pak Reno ada yang ingin ditanyakan?"


Ya Bu Fety menyuruh Pak Reno untuk bertanya membuat jantung Aisa berdegup kencang. Mungkin kalau Aisa tidak punya kesan buruk dengan Beliau, Aisa takkan sepanik ini.


Akhirnya wawancara selesai, mereka menyuruh Aisa untuk menunggu pengumuman paling lama esok hari.


Aisa kembali pulang dan ia dikejutkan dengan kehadiran mang Dadang di rumah itu.


"Non sudah pulang?" tanya mang Dadang


"Mang Dadang sama siapa?" malah balik bertanya


"Sendiri atuh Non"


"Gak bohong kan?"


"Gak percaya non bisa cek sendiri atuh"


"Hah ya sudah, aku masuk dulu ya gerah banget"


Malam harinya istri mang Dadang sudah masak dan Aisa sudah menghidangkan di meja makan. Kebetulan mang Dadang menginap di rumah ini karena memang Papa Baskoro selalu memberikan izin dua hari setiap bulannya .


"Mang, Papa sama Mama apa kabar?


"Tuan sama nyonya baik Non, hanya saja mereka sedikit murung dan sepertinya merindukan non Aisa. Untuk Den Andre dia sudah balik ke Paris non seminggu setelah kejadian itu."


"Kejadian itu? kejadian apa maksud mamang?"


Mang Dadang keceplosan, ia langsung menutup mulutnya "Ah gak ada apapa non, silahkan di makan dulu non"


"Mang Dadang jangan nyembunyiin apapun dari aku, ayo cerita"


"Itu non, anu..."


Mang Dadang memang gak pernah bisa menutupi kebenaran apapun dari Aisa sejak dulu , bulan ini sebenarnya dia enggan untuk pulang tapi dia juga sangat merindukan anaknya.


"Maaf non, kejadian yang mamang maksud itu adalah waktu Aira meminta Tuan untuk menjodohkan dirinya dengan Pak Ghibran.


uhukkk uhukkkkk


pranggggggg


"Astaghfirullah non"


"Maaf" lirih Aisa .


"Bapak sih, kan teteh jadi tersedak tuh" kata Bima menyalahkan bapaknya.


"Teteh?" bingung Mang Dadang


"Iya, sekarang non Aisa ini tetehnya Bima, kenalin Pak ... ini teteh Ai pak"


"Hah?" Mang Dadang semakin bingung.


"Aku yang memintanya untuk panggil teteh mang" sahut Aisa yang tahu kegelisahan mang Dadang.


"Teh biar ibu saja yang bersihkan"


"Makasih Bu, oh iya mang mumpung aku sudah selesai makan sekarang mamang harus ceritakan semuanya sama aku."


"Iy--iya non"


"Jadi non waktu itu..."