
"Ini ada apa sih?" tanya Pak Ghibran.
Aisa merasa puas kali ini karena sudah membuat Aira menangis, entah penyakit hati apa yang sudah masuk ke tubuhnya hingga membuatnya berbeda sekarang.
Aira melepaskan pelukannya kemudian duduk di samping Pak Ghibran.
"Sekarang, jelaskan semuanya!" titah Pak Ghibran pada sang istri.
"Sebenarnya, dia lah orang yang kucinta. Asal kamu tahu Mas, aku menyesal telah menikah denganmu. Aku menyesal berpura-pura sakit parah agar kamu menikah denganku walaupun itu semua ku lakukan untuk membuat Aisa sakit hati, aku menyesal!"
Plak!
Tamparan itu mendarat di pipi mulusnya Aira, semua tercengang saat melihat siapa yang menamparnya.
"Mama? Hiks ... hiks ...."
"Kamu keterlaluan, Aira!" tegas Mama Risa.
"Kamu fikir sakit itu bisa dijadikan bencandaan? pikiranmu terlalu dangkal!" sambung Papa.
"Sudah Pa, Ma... sabar!" kata Pak Ghibran sambil mengelus punggung mertuanya itu.
"Kenapa kamu diam saja Ghibran? Istrimu sudah membohongimu!"
"Sebenarnya Ghibran sudah mengetahui jika dia sedang bersandiwara, hanya saja Ghibran tidak mempunyai bukti apapun. Selama ini Ghibran sudah memancingnya agar dia mau mengakuinya, tapi itu gagal Ma..."
"Kamu boleh menceraikan nya!" suara bariton itu membuat Aira menelan Saliva nya.
"Kak Nando mau kan menikahi Rara setelah aku bercerai dengan nya?" tanya Aira tanpa dosa.
Kembali lagi, semua mata menatap Pak Reno seakan menunggu jawabannya.
"Maaf Aira, aku akan menikahi Aisa. Dan jangan memanggilku Nando lagi, karena kini keadaannya sudah berbeda." Sambil menggenggam tangan Aisa.
"Apa kakak melupakan janji kakak?"
"Janji apa yang kamu maksud? Apa kamu tidak pernah bercermin? Lagian aku sudah kecewa sama kamu, karena setelah dewasa kamu sudah seperti orang yang tidak aku kenal. Perbuatan mu memalukan!"
Aira terus menangis hingga tanpa sadar ia memeluk kembali Pak Reno sampai membuat sang empunya menjadi gemetaran. Walau gimana pun, ia juga masih menyayangi Aira, tetapi dia harus berpura-pura agar rencananya menjadi lancar.
"Kak, apa kakak gak merasa deg-degan sekarang?" Aira terus saja menggoda Pak Reno.
"Kakak masih sayang aku kan?"
"Kak?"
"Cukup, Aira! kamu sudah kelewat batas sekarang." Sambungnya.
"Kalau mas mau pergi ya pergi aja. Kalau mau ceraikan aku juga, silahkan mas! Kakak Nando ku sudah kembali, lagian kamu juga gak pernah menganggap ku ada!"
"Apa kamu yakin dengan ucapan kamu itu, Aira?"
"Aku yakin, mas!"
"Aku tanya sekali lagi, apa kamu tidak akan menyesal?"
"Aku tak akan menyesal. Aku mau menikah dengan mu hanya untuk membuat Aisa cemburu, dan rencana ku juga sudah berhasil. Jadi, untuk apa dipertahankan pernikahan ini?"
Pak Ghibran masih terlihat santai, sedangkan Aira emosinya sudah dipuncaknya. Pak Ghibran langsung melihat mertuanya, dan keduanya pun mengangguk seakan memberikan izin padanya untuk mengambil keputusan.
"Baiklah, mulai sekarang saya Ghibran Daniswara akan memberikan talak 3 kepadamu, Aira Nazeera! Mulai detik ini, kamu bukan lagi istri saya."
Bukannya sedih, Aira malah tersenyum senang sekarang. Sedangkan Aisa kini sedang mengejar Pak Ghibran yang keluar dari rumah setelah pamit dengan Papa.
"Pak Ghibran, Tunggu." cegah Aisa.
Ghibran menoleh "Ada apa Adik lucu?"
Deg!
Jantung Aisa berdegup kencang ketika panggilan itu didengarnya dengan nada yang begitu lembut.
"Bapak mau kemana? kenapa tinggalin Aira?"
"Aku bukan Dosen kamu lagi, Aisa. Kenapa masih memanggil Bapak?"
"Lupakanlah, itu tidak penting!"
"Aku memang harus meninggalkannya, bahkan sebenarnya ini sudah sangat terlambat. Harusnya dari dulu aku tinggalin atau bahkan hubungan ini memang tidak ada!"
"Tapi Pak, kasihan Aira...."
"Yang harusnya kasihan itu kita, Sa! Orang tuaku datang kerumah kamu itu untuk melanjutkan perjodohan kita, tapi karena ulahnya semua rencana seperti enyah begitu saja. Ahhh kamu memang tidak tahu bagaimana perasaanku!"
Aisa terdiam, kata-kata Pak Ghibran membuatnya merasa tertampar. Aisa juga sama kecewanya dengan Pak Ghibran, dan perpisahan ini sebenarnya membuat nya bahagia. Ingin sekali rasanya dirinya mendekati Dosen dinginnya itu, akan tetapi ada rencana yang harus ia jalani sekarang.
"Maaf Sa, aku pamit. Aku harap pernikahan kamu hanya sandiwara, maaf jika aku terlalu egois."