
"Hikss... Kenapa mas Ghibran marah? memangnya apa kurangnya aku dibanding gadis cupu itu? hah?"
"Ya, ini perbedaan kamu dan Aisa! Sampai kapanpun kamu gak akan mungkin bisa menjadi Aisa, apa kamu mendengarnya , Aira?"
"Hiksss... Tapi Aku sayang sama Kamu mas"
"Persetan itu semua!" teriak pak Ghibran.
brukkkkk
Ekspektasi tak selamanya sesuai dengan kenyataan, apa yang kita rencanakan tak semua berjalan dengan mulus. Begitupun dengan Aira, niat awal menikahi Ghibran sebenarnya bukan hanya karena ingin bersaing dengan saudara kembarnya melainkan karena ia juga menyukai Ghibran.
Aira mengira saat ia menikah dengan Ghibran maka ia sudah mendapatkan Ghibran seutuhnya. Namun pada kenyataannya jangankan perhatian Ghibran, dapat senyuman nya pun tidak.
Kalau begini ceritanya, untuk apa kami menikah? . gumam Aira sambil menangis.
Ghibran memang belum bisa menerima pernikahan palsu ini dan dia selalu bersikap dingin kepada Aira kecuali di depan orang tua mereka.
Baginya pernikahan ini hanya sandiwara belaka, kalau saja Aira tidak memiliki penyakit yang parah mana mungkin dia mau menikahinya.
Aira memang lebih cantik daripada Aisa, tapi tak semua orang melihat kecantikan itu dalam bentuk rupa saja. Apalagi Aisa itu Adik lucunya di masa lalu .
flashback on
"Hiks... hiks...."
"Kenapa kamu menangis?" ucap lelaki berseragam SMA .
"Kakak?" sahut anak kecil yang lucu.
"Hai, kita berjumpa lagi. Kamu kenapa? Apa mereka menyakitimu?"
"Enggak kok, Kak."
Tiba-tiba muncul dua orang anak kecil berseragam SD
"Woy Aisa! dasar Cupu! gitu saja nangis, malu dong."
Ucapan itu membuat Aisa menutup wajahnya, hampir saja ia menangis saat itu. Tetapi matanya menjadi berbinar ketika Anak berseragam SMA itu melototkan matanya kepada teman Aisa.
"Awas kamu ya, Aisa!" teriak teman-temannya sambil berlari kencang.
Prok! prok! prok!
"Kakak hebat!!!" ucap Aisa antusias
"Hmm benarkah?"
Aisa mengangguk "Gak salah dong aku panggil Kakak itu, Kakak Gagah!"
"Hmm ya dong, Kakak siapa dulu?"
"Kakaknya Aisa" sahut Aisa sambil tersenyum.
"No!" sahutnya dengan nada datar
"Hah?"
"Bukan kakaknya Aisa, tapi kakaknya Adik lucu. Ughhh gemesin banget sih kamu."
"Aku gemesin ya Kak?" Ghibran mengangguk
"Kalau begitu aku dikasih apa dong?"
"Hmm ada maunya ternyata. Oke deh, mau apa? Ice cream mau?"
"Dih, ini bukan pertanyaan. Ayok!"
Flashback off
'Aisa, Apa perlu aku membelikan mu ice cream supaya kamu tidak marah lagi padaku?' gumam Ghibran.
Pak Ghibran menunggu dokter tersebut di depan rumahnya, tetapi dokternya tak kunjung datang.
"Kenapa lama sekali?" ucap Ghibran pada dirinya sendiri.
Satu jam dua jam, dan tiga jam berlalu. Tapi dokter tersebut tak kunjung datang. Ghibran memutuskan untuk kembali ke dalam rumah karena melihat cuaca juga sangat buruk, angin menerpa dan hujan melanda di tambah lagi ada getaran bunyi petir yang dahsyat.
Beruntung cuaca tiba-tiba menjadi gelap seperti itu, Aira tak lagi pucat seperti tadi. Pucat yang berada di wajahnya bukanlah pertanda ia sedang sakit tapi Aira sedang khawatir dan sangat panik.
'Ah ternyata alam masih mendukungku' gumam Aira.
Sementara di tempat lain, dokter tersebut harusnya sudah berada di rumah Ghibran sejak tadi. Tetapi di luar gerbang sudah ada dua gadis cantik yang mengusirnya secara halus.
Gadis tersebut adalah Mikha dan Ebi, mereka menyusun rencana agar dokter tersebut mau ikut pergi bersama mereka karena ada yang gawat darurat. Awalnya dokter tersebut menolak, karena walau gimana pun ia adalah dokter pribadi dari keluarga Daniswara.
Tapi Ebi mengancamnya untuk melaporkan dokter tersebut kepada pihak kepolisian karena sudah melanggar kode etik sebagai dokter.
Akhirnya, ia menyetujuinya setelah berfikir panjang.
πΌπΌπΌ
Ceklek!
Ghibran melihat Aira sedang menelpon seseorang, sedetik kemudian ia merampas ponsel tersebut dari tangan Aira.
"Telponan sama siapa kamu?"
deg!
"Sama Ebi dan Mikha, Mas!"
"Apa yang kalian bahas?"
"Sejak kapan peduli?" sahut Aira yang membuat Ghibran semakin marah.
"Dengar ya, Aira! Jika kamu sekali saja ketahuan berbohong maka aku tidak akan segan-segan untuk memulangkan kamu kepada Papa Baskoro!"
Entah sebuah gertakan atau emang Ghibran sedang serius, tetapi wajah datar balok es itu benar-benar menakutkan. Aira yang dulunya menjadi primadonanya sekarang malah seperti Upik abu yang dimarahin oleh majikannya.
"Tapi, hiks... Aku gak bohong!"
"Terserah!"
Aira sepertinya sudah tak tahan lagi, menikah dengan Ghibran malah membuat jiwanya tertekan sekarang. Cerai? mungkin itu yang bisa membuat hati ini menjadi lapang, pikirnya.
Tapi soal kedengkian nya dengan Aisa pun sangat kuat, mana mungkin ia menyerah begitu saja saat ia sudah mendaki sejauh ini.
Kenapa jadi begini sih, gumamnya.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
**Marhaban yaa Ramadhan..
Hai kakak reader...
sambil menunggu kelanjutan Aisa dan Aira, yuk kepoin juga karya teman othor iniπππ**
sinopsis:
NB : novel ini masih dalam tahap revisi
Seorang siswa SMA yang punya penyakit terbelakang mental bernama Soejono alias Jono hidup dengan kemiskinan yang terpaksa harus mencari nafkah untuk keluarganya dengan cara yang haram, sebagai pengedar narkoba untuk membeli obat untuk ibundanya yang sakit-sakitan, disamping itu ayahnya juga sudah lama wafat dan dia adalah anak pertama dari 4 bersaudara yang keseluruhannya juga terbelakang mental, Tak hanya itu dia juga harus dibully teman-temannya di sekolah, untungnya ada wanita cantik jelita bernama Salma yang tak tega melihat pengorbanannya, dan Salma pun akhirnya jatuh hati padanya