
Tak ada yang tahu selama ini jika Athar adalah sepupunya Ghibran karena mereka merahasiakannya. Ghibran sengaja membuat peraturan khusus untuk Athar agar adik sepupunya itu bisa mandiri dan sukses sendiri.
"Apa manggil-manggil? gue mau pergi nih!" sambil tersenyum licik.
"Sudah lah Thar, gak waktunya bercanda!" sahut Pak Ghibran.
Akhirnya Athar menunjukkan rekaman yang sempat ia buat saat melihat Dinda bertemu dengan Aira .
Pak Ghibran terlihat murka dan tanpa sadar ia mengepalkan tangannya.
"Mantan kamu ini emang kurang ajar!" murka nya
"Santai , kak! Sekarang kita sudah punya bukti, jadi bisa dengan mudah kita keluarkan dia dari kampus ini."
"Kakak juga sudah hubungin Romi dan sebentar lagi dia kesini untuk mengambil barang bukti ini" sambil menunjukkan plastik itu
"Sapu tangan?" tanya Athar heran.
"Iya, sepertinya dia memang sudah merencanakannya dari awal. Dia meletakkan ini ke kamera cctv!"
"Ya sudah kak, aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa kabarin aku. Kita memang harus keluarkan dia dari kampus ini."
Athar dan Pak Ghibran juga memiliki misi untuk mengeluarkan Dinda dari kampusnya karena Ayahnya Dinda sudah berkhianat dari Keluarga Daniswara.
Sebenarnya Keluarga Daniswara tidak ingin balas dendam, tapi mengingat anak dari pengkhianat itu juga sering membuat masalah di kampus mau gak mau mereka harus mengeluarkannya dengan catatan harus ada alasan dan bukti yang jelas.
🌼🌼🌼
Sementara di Rumah Sakit Rere sedang menyuapkan Aisa makan siang.
"Kau haru banyak makan Sa" kata Rere.
ceklek
"Kak Andre?" ucap Aisa membuat Rere salah tingkah.
Ternyata Kak Andre juga sama, ia menggarukkan tengkuknya yang tidak gatal dan masih mematung.
ekhemm
Deheman Aisa membuyarkan segalanya.
"Ah iya, kamu kenapa bisa sampai pingsan dek?" sambil meletakkan buah ke meja.
"Aku... mungkin kecapekan Kak" dusta Aisa sementara Rere menggelengkan kepalanya karena ia tahu Aisa sengaja berbohong.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya Sa. Gerah kali ." pamit Rere
Saat depan pintu Rere mematung karena ia bingung mau keluar lewat mana sekarang.
"Kenapa?" tanya Kak Andre heran
"Maaf kak, aku gak bisa keluar, kakak terlalu ketengah berdirinya"
Kak Andre terkesiap "Astaga, sorry."
Kak Andre menggantikan Rere untuk menyuapkan Aisa, adiknya itu memang manja kalau sakit sejak dulu.
"Kamu tuh dari kecil gak pernah berubah ya?"
"Maksud Kakak?"
"Manja!!!"
"Hahahha! karena aku cuma punya kakak dan Papa"
Aisa memeluk kakaknya dengan haru.
ceklek
"Mama? Papa?" beo Kak Andre dan Aisa .
"Kenapa berpelukan nih?" iseng Papa
"Teletubbies Pa, hahahhaha!"
Mereka menikmati canda tawa itu, Aisa benar-benar bahagia sekarang karena mama Risa sudah menerimanya walau banyak kekurangan ini.
"Aira mana Pa?" pertanyaan itu tiba-tiba saja terucap.
"Aira..."
"Gue disini. Kenapa?"
Aisa tersenyum, ternyata saudara kembarnya juga masih perhatian padanya.
"Gak papa, makasih sudah datang."
Kak Andre mendekati Aira "Kamu jelasin sama kakak, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Maksud Kakak apa sih?" Aira tak terima.
"Kamu kan yang sudah mengurung Aisa?" dengan tatapan tajam.
"Atas dasar apa kakak menuduhku?"
"Karena kamu tidak menyukainya!"
"Hahah! Sesimple itu alasan kakak? Jadi kakak tidak percaya padaku?"
Aisa tercengang melihat kedua nya berdebat karenanya, sedangkan mama dan papa hanya menjadi pendengar.
"Loe senang kan karena dapat dukungan Sa? gue gak nyangka ternyata loe gak sepolos gaya loe!" ucap Aira membuat Aisa meringis .
"Aira! mau kemana kamu?" tanya Papa Baskoro saat melihat Aira keluar
"Cari angin Pa, pengap di dalam" jawab Aira tanpa menoleh.
"Ada apa ini" kata papa
"Semua ini salah paham Pa" sahut Aisa.
"Kakak jangan asal nuduh gitu dong kak, kasihan Aira."
"Kakak yakin kalau dia orangnya"
"Menurutku bukan dia kak, kami ada pergantian mata kuliah saat itu."
"Bisa saja kalau itu dia"
"Masalahnya, Dosen kami itu Killer banget kak trus juga dia dingin kaya es balok. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Dia ganteng kak, hahahhahaha"
"Ck! Seganteng apa sih? paling juga di bawah kakak" sahut Kak Andre dengan sombongnya .
"Idih, perasaan" ejek Aisa .
"Kakak minta maaf gih sama Aira, kasihan loh..."
"Nanti aja, nunggu lebaran."
Kedua orang tua mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar ocehan anak-anaknya.
"Sudah siap? ayo kita pulang." kata Papa Baskoro saat melihat Aisa sudah merapikan diri.
Aisa memang tidak menginap, dia hanya menghabiskan infus yang tadi sempat terpasang saja .
Diluar, Aira sudah menunggu mereka. Semenjak kejadian tadi Aira masih tidak mau berbicara sedikitpun dan itu dibiarkan saja oleh mereka .
🌸🌸🌸
Pak Ghibran tersenyum senang karena sudah mendapatkan barang bukti dan kini ia sudah mengadakan rapat dan disaksikan oleh Rektor, para dekan, beberapa dosen dan tentunya pemilik kampus yaitu Ayahnya sendiri.
Pak Ghibran menatap layar infokusnya sambil menjelaskan sedikit tentang kejadian itu .
Banyak orang yang kaget terutama Rektor yang tak lain adalah Ayah kandungnya Dinda.
Dinda juga di hadirkan saat itu, ia tertunduk malu dan pasrah mendapatkan konsekuensinya karena tak ingin Ayahnya bertambah malu lagi.
Bukan hanya Dinda yang disidang, tetapi juga Ayah Dinda pun juga ikut di sidang karena terbukti memotong gaji para dosen secara sepihak.
Akhirnya keduanya di hempaskan dari kampus itu. Hal itu diketahui oleh sebagian mahasiswa, apalagi mahasiswa yang tahu masuk ke dalam grup Mading . Mereka mengambil kesempatan itu dengan menyebarluaskan berita, apalagi Pak Rektor terkenal dengan semena-mena pada mahasiswa juga dengan Dinda yang suka berbuat masalah.
"Akhirnya si Dinda keluar juga"
"Iya, Pak Bobi juga keluar, syukurlah"
"Serius loe?"
"Gak percaya banget sih"
"Kok bisa?"
"Loe semua kenal sama si cupu kan? nah, katanya si Dinda itu ngunci si cupu di toilet"
"Ada masalah apa emang?"
"Ga tahu"
"Trus Pak Bobi kenapa?"
"Makan duit dosen katanya"
"Wah, gak benar nih anak sama bapak sama aja"
Aisa dan Rere sedang berjalan menuju kelas dan desas-desus Dinda terdengar di telinga mereka. Aisa sangat terkejut saat mendengar kalau Dinda lah penyebab semuanya. Tapi apa salah Aisa?.
"Kamu dengar gak Re?" tanya Aisa.
Rere mengangguk "Motif anak itu apa ya? Naik darah tinggiku bah"
Aisa menggelengkan kepalanya .
Kemudian mereka berjalan menuju kelas tapi langkahnya terhenti saat melihat Mading yang isinya tentang Dinda dan Pak Bobi.
"Ini beneran?" beo mereka berdua.
Aisa mengingat sesuatu "Astaga!"
"Ada apa?" tanya Rere
"Kak Andre kemarin nuduh Aira yang ngunci aku, bentar deh aku fotoin dulu biar Kak Andre gak salah paham lagi"
"Baik kali lah kau Sa... Sa..." sambil menggeleng kepala
"Kita gak bole menyembunyikan kebenaran Re" sahut Aisa santai.