
Beberapa bulan kemudian,
Semuanya berjalan mulus sesuai yang telah di rencanakan oleh Pak Reno. Dugaan mereka benar, kalau Aira akan berusaha menggagalkan nya.
Hari ini mereka sudah janjian untuk pergi ke butik untuk fitting baju, Pak Reno sengaja menjemput Aisa di rumah. Kini Pak Reno sudah berada di depan rumah Aisa.
"Bi Inah, ada Aisa?" Tanya Pak Reno, tak lama kemudian yang keluar adalah Aira.
"Eh kakak, cariin aku ya?" ucapnya dengan percaya diri, akan tetapi Pak Reno tidak memperdulikannya.
Aira tetap tidak kehabisan akal, dia ingin memeluk Pak Reno tapi sayang langkahnya kurang cepat karena tiba-tiba....
Ekhem
Aira terkesiap, ia langsung menundukkan pandangannya.
"Papa?" lirihnya.
"Sedang apa kamu disini?"
"Aku mau... Ah iya, aku mau panggilkan Aisa."
"Ya sudah, sana!" Lalu Papa Baskoro menatap Pak Reno "Ayo, masuk Reno!"
Sementara, di tempat lain Aira sudah berada di depan kamar Aisa.
Ceklek!
"Oh udah keluar? Baguslah!" ketus Aira membuat Aisa menahan tawa nya.
"Ada apa Aira?"
"Kak Nando nungguin tuh, awas loe ya kalau sampai godain dia?"
"Dih, memangnya kenapa? dia itu calon suami aku."
"Dia cinta pertamaku."
"Bukan urusanku, mundur gih aku mau pergi!"
Aira tercengang melihat perubahan Aisa, ia tidak menyangka jika Gadis Cupu seperti Aisa itu kini menjadi gadis cantik yang berani.
"Aisa, tunggu!"
"Ada apa?"
"Kenapa loe merebut kak Nando dariku?"
"Siapa yang merebutnya?"
"Ya loe!"
"Aku calon istrinya Mas Reno, bukan Nando. Makanya kamu tuh jangan pura-pura sakit, agak begeser gak tuh otaknya?"
"Berani loe ya sama gue?"
"Kenapa aku harus takut?"
Aira tampak geram dan sudah mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia menarik rambutnya Aisa namun saat tangannya masih hendak bergerak tiba-tiba Pak Reno datang dari arah belakangnya.
"Sayang...," panggil Pak Reno.
"Eh, sudah datang ya?"
Pak Reno mengangguk "Ya sudah, ayo kita pergi Yank."
"Aku ikut ya kak?" Kali ini yang bertanya adalah Aira.
"Maaf, tapi aku gak mau menyakiti calon istriku." tegas Pak Reno membuat Aira meringis.
Maafkan aku, Rara. gumam Pak Reno.
Hari pernikahan pun tiba, Aisa sudah lengkap dengan pakaiannya dan kini sudah selesai di rias.
"Sa, kau cantik kali ...," ucap Rere kagum
"Apa ini tidak keterlaluan ya, Re?"
"Maksud kau?"
"Aku takut ketahuan, dan aku juga takut mengecewakan Pak Reno yang sudah membantu aku."
"Tenang aja, Abang ku lebih jenius dari apapun."
"Tapi aku takut, Re."
"Kau bukan takut jatuh cinta kan, Sa?"
Pertanyaan Rere membuat Aisa terdiam, ternyata memang itu lah alasan dari ketakutan Aisa. Ia takut terjebak dengan perasaannya sendiri.
Tak lama kemudian, Mama masuk ke dalam kamar Aisa dan memanggil Aisa agar keluar dari kamar karena acara sebentar lagi akan di mulai.
Acara demi acara pun berlangsung, beberapa menit kemudian...
SAH!!!
Teriak para saksi membuat Aira menangis, bukan hanya Aira saja karena di barisan tamu ternyata juga ada Ghibran yang menahan sesak di dada nya.
"Alhamdulillah"
Malam harinya, Pak Reno sengaja untuk tinggal di rumah Aisa untuk meneruskan rencana mereka. Walaupun pernikahan ini hanya palsu tetapi keduanya kini menjadi canggung sendiri saat bersama.
"Hufhhh akhirnya kelar juga," ucap Pak Reno saat masuk ke kamar Aisa.
"Bapak kenapa masuk ke kamar ku?" tanya Aisa tanpa dosa.
"Berisik!" ketus Pak Reno sambil duduk di sofa kamar Aisa.
"Bos, aku mau tidur."
"Ya sudah tidur saja!"
"Tapi...,"
"Kamu mau suruh aku tidur dimana? di luar? aku ini sekarang suami kamu kalau kamu lupa."
"Oh iya, aku beneran lupa."
"Ya sudah!"
"Tapi bos, mana mungkin kita tidur satu ranjang?"
"Kamu tenang saja, aku tidur disini." Sambil menunjuk sofa milik Aisa, untung saja sofa nya cukup besar dan empuk.
"I----iya," ucap Aisa gelagapan.
Namun tiba-tiba...
Tok! Tok! Tok!
Pak Reno dan Aisa saling tatap kemudian memutuskan untuk melihatnya bersama-sama.
Ceklek!
"Kamu?" ucap mereka serempak.
"Hai...," terlihat orang tersebut salah tingkah.
"Ada apa Aira?" tanya Aisa tak ingin basa-basi.
"Malam ini gue tidur bareng loe ya Sa?"