Airin

Airin
beda kamar



Aku langsung menujun kamar mandi untuk mandi setelah mandi aku membuka kamar mandi dan melihat situasi di luar. Aku menengokan kepala ku ke kana ke kiri dan ke tas takutnya ada mamah keluar kamar, kalo di tau aku harus jawab apa. Kalo dia nanya kenapa aku mandi di kamar kandi luara? Masa iya aku harus jawa, karna bara tidak ngeijinkan ku mandi di kamar mandinya yang ada aku yang kena marah sama bara.


Setah di rasa aman aku langsung berlari untuk mengganti bajuku agar bisa cepat-cepat membantu bibi memebereskan sarapan. Di rasa penampilan ku sudah rapi aku langsung ke luar. Dan untungnya orang rumah blom ada yang bangun jadi aku sedikit tenang. Aku langsung membantu bibi memindakan makan dari dapur ke meja makan.


“rajinnya menantu mamah ini sudah bangun pagi saja yah.”


Ya pemilik suara itu ada mamah tari dia sepertinya baru selesai mandi karna penampilanya sudah rapi ku rasa.


“mamah sudah rapi aja!! Mamah mau ke mana mah? .”


“apa kah kamu pura-pura pula airin kan mamah sudah bilang kalo sekarang mamah mau berangkat untuk mengurus pekerjaan kita”


“ouh, yah udah aku bangunin mas bara dulu yah mah takutnya dia blom.”


“Iya bangun kan lah suami itu kebiasaan dia sekarang kalo bangun siang.”


Ketika aku membuka pintu ternyata di atas kasur sudah tidak ada orang kemana dia apa kah di lagi mandi atau di luar,  tapi dari tadi aku di luara gak ada dia keluar kamar ku rasa. Aku coba ke kamar mandi mungkin dia sedang mandi tapi saat aku ketok pintu tidak ada suara di sana.


“tok,, tok tuan apa kah tuan ada di dalam? ” tapi tidak ada suara yang menjawab. Aku mulai kawatir takutnya dia kenapa-napa di dalam, gimana kalo dia pingsan di dalam atau terjadi sesuatu, kebetulan pintunya tidak di kunci jadi aku langsung masuk pas aku masuk dia sedang di dalam betap sepertinya dia tertidur sambil mendengar musik.


“tuan,, mamah menyuruh tuan untuk sarapan.” ku branikan menepuk pundaknya agar dia terbangun sontak dia kaget dengan keberadaan ku di belakang nya.


“sejak kapan kamu di sana?  Dan kenapa kamu tidak mengetok pintu terlebih dahulu hah, tidak sopan.”


“tadi saya ketok ketok pintu tuan tidak menjawab saya kawatir terjadi sesuatu dengan tuan.”


“jengan mentang-mentang saya lumpah saya tidak bisa menjaga diri saya sendiri gitu menurutmu?”


“maaf tuan bukan seperti itu tapi,” belum selesai aku berbicara dia sudh memotongnya


“sudah lah saya tidak ingin berdebat, kamu keluar sekrang tunggu 10 menit saya keluar dan jangan coba-coba keluar kamar duluan yang ada mamah bisa curiga paham.”


Langsung aku keluar kamar mandi dari pada aku lama di sini makin banyak omongan yang keluar dari mulut dia nantinya. Dan sudah pasti omongan dia yang sangkat menyakitkan hati pastinya.


Setelah dia selesai aku langsung mendorong kursih roda itu keluar untuk menuju ke meja makan. Di sana mamah sudah tersenyum melihat aku keluar dari kamar.  Asal mamah tau perlakuan anaknya pada ku seperti apa.


“cepat lah kalian kesiani mamah sudah lapar, ”


“sebentar lagi mamah akan pergi kalian harus saling menjaga, mamah gak mau denger kalian berantem yah”


“oh iya airin jangan lupa 3 hari lagi yah, dan mmah selalu mendoakan mu bara semoga kamu bisa cepat sembuh”.


“percuma mamah doain bara karna bara gak akan sembuh. Bara ajan tetap menjadi orang lumpuh mah, bi bantu saya ke kamar”.


Ntah lah mungkin dia sakit hati atau gimana aku gak tau padahal makanan dia blom dia habiskan. Setelah aku dan mamah seselai makan, mamah langsung berpamitan untuk segera berangkat karna 1 jam lagi pesawat yang membawa mamah akan berangka.


“aku panggilkan mas bara yah mh” saat aku mau berdiri “tak usah biarkan bara di kamarnya kamu saja yang anter mamah ke luar airin”.


Aku mengangguk dan mengantar mamah ke luar, tiba" mamah memberikan ku ponsel katanya agar aku tidak susah di hubungin.


Mobil mamah pun sudah meninggalkan pekrang rumah yang memah ini. Aku langsung masuk dan melihat seisi rumah hati berkata “apa kah aku sanggup mengurus rumah sebersar ini, ntah lah lebih baik aku masuk”.


Saat aku masuk tiba" bara mengumpulan pekerja yang ada di rumah tak terkecuali aku.


“Dengar semuanya berhubung mamah saya sudah berangkat jadi, di sini yang berkuasa ada lah saya. Kalian harus mengikutin perinta saya. Dan saya tidak suka ada orang yang melawan perintah saya PAHAM” dengan tegasnya dia menekan kan kata paham itu.


“ouh dan kamu cewek gila harta kamu tidak tidur dengan saya lagi dan tenang kamu di sini bukan hanya leha" tapi kamu harus membantu mereka memebersihkan rumah ini. Untuk kartu" yang mamah saya berikan kamu yang pegang tapi ingat jangan seenaknya”.


Aku hanya mengangguk karna aku sudah sadar akan posisi ku di rumah ini hanya istri yang tak di anggap oleh bara.


“dan 1 lagi tidak perlu kau menemaniku ke rumah sakit karna aku tidak sudi dekat" dengan cewek gila harta seperti mu, dan kalau kalian sampe memperlakukan dia sebagai tuan putri di rumah ini saya akan pecat kalian dari rumah ini. Bi antar cewek ini ke kamanya”.


Saat aku berniat mengambil pakaian ku ternyata pakaian ku sudah di kemasinya sebnci itu kah dia pada ku. Aku mengikutin mba yang akan mengarahkan ku ke kamar yang akan aku tempati.


Kamarnya tidak luas hanya ada kasur yang kecil dan 1 lemari itu pun sudah usah, untungnya aku sudah terbiasa dengan kamar sempit karna di rumah bapak pun kamar ku sama sesempit ini jadi tidak terlalu membuat ku kanget.


“maafkan saya nyonya saya tidak bisa berbuat apa" saya takut di pecat”. Dia hanya menunduk tidak berani melihat wajahku.


“tidak apa bi   Ini bukan salahnya bibi ko lagian aku sudah terbiasa ko saat di rumah ku yang dulu jadi aku pasti nyaman ko dan bibi gak usah segan sama aku anggap saja aku anak bibi. bolehkan aku menganggap bibi seperti ibu aku”.


“gak papa nyonya andaikan tuan tau sebaik apa istrinya mungin dia tidak akan seperti itu” sambil memujiku “ah rasanya aku tidak sebaik itu jadi stop memujiku bisa" hidung ku ini panjang bibi puji terus”


“tapi dulunya tuan tidak sperti itu” ucapnya.