Airin

Airin
bara dan kevin



ternyata dari belakang ada bara yang mengikuti merka. bara mengikuti dari awal dia berangkat ke makam sampai ke toko.


" apa aku sudah terlalu menyakiti dia."


setlah kevin dan airin ingin pulang barang langsung menancap ges nya untuk pulang duluan, agar tidak di curiga kalau bara sudah mengikutin merka.


"maksih yah vin sudah mau nganterin aku ke makam sama nganterin aku ke toko juga."


"iya sama-sama kalo ada apa-apa kamu bisa kabarin aku jangan sungkan-sungkan. "


"airin ada yang mau aku omongin sama kamu, boleh kah. "


aku mengangguk setuju, tidak enak rasanya kalo aku menolah.


di satu taman aku dan kevin berada ntah dia tau kevin ingin membicarakan apa.


"airin, aku tau bara sudah keterlaluan sama kamu, kalo memang kamu gak kuat. kamu bisa tinggalkan dia aku akan bantu kamu buat pisah dari bara. toh pernikahan kalian hanya sirih bukan jadi tidak sulit untuk lepas dari bara. "


"tidak perlu vin sudah biarkan saja, tapi aku heran apa salah ku sama dia?"


"dia mengiria yang menggantikan dia baju adalah kamu itu yang aku tangkap dari marahnya bara."


ternyata bara salah pada ku padahal bukan aku yang menggantikannya padahakan kepin.


"tapi asal kamu tau dulu bara tidak seperti itu dia laki-laki yang baik dia penurut sama mamahnya bahkan sama pembantu di rumaha ini pun dia baik. 2 th yang lalu bara sudah menikah, bara sangkat bahagia dengan pernikahan mereka selang bberapa bulan istri bara mengandung, kebahagian merka bertambah tapi saat merka berniat untuk cek kehambilan anak mereka. kecelakan terjadi mobil yang merka naiki mengalami rem blong terjadi lah kecelakaan tunggal. mobil merka terjungkal ke dalam jurang dan merengut istri sekaligus anak yang ada dalam kandungnya. semenjak itu bara menjadi pemarah dan selalau menyalahkan dirinya sendiri."


aku sudah tau kenapa bara sekrang seperti itu, karna dia merasa bersalah kepada mendiang istrinya. dia merasa bahwa dia lah yang membuat istiri dan anaknya meninggal.


setelah kami selesai mengobrol kami pulang karna hari sudah mulai malam. gak enak juga di pulang malem.


"ah kemana merka jam segini belum pulang,bukan tadi saat aku mengikutin merka, merka mau pulang tapi kenapa blum datang juga."


bara sudah sangkat marah dengan airin dan kevin, bara sudah berpikir yang tidak-tidak. sura mobil terdengar dari depan ruang tamu, bara mengintif dari jendela ternyata itu mobil kevin. langsung lah bara keluar untuk menemuin merka.


"dari mana kalian hah, ouh apa kalian habis dari hotel yah ternyata setelah wanita ini tidak mendapatkan ku dia mengincar temannya dan teman ku ini (menuju kevin) yang bijak terjerat dengan tipu daya nya. "


aku hanya diam tidak menanggapi dan berlalu masuk rasanya aku sudah lelah untuk hariin ini. tidak ingin banyak bicara rasanya sudah hal bisa dia menuduh ku yang aneh-aneh.


Tapi tidak dengan kevin yang langsung tersulut emosi dan langsung menghajar bara.


"bug,,, jaga mulut lo bara dari kemarin gue sudah sabar ngadepin sipat kamu lo yah tapi untuk sekrang kamu sudah benar-benar keterlaluan bara, airin orang baik bar dia bukan wanita seperti itu asal lu tau dia di jual oleh ibu angkatnya untuk menikah dengan lo."


diam sejnak untuk menangambil napas.


"dia dari kecil di siksa bar dia sudah tidak mendapatkan kasih sayang dari dia kecil asal lu tau dia jadi tulang punggung keluarga dan saat dia menikah bukan kasih sayang dia dapatkaOn dari lu. malah lu ngasih dia siksaan. kalo dia bisa nolak buat nikah sama lu dia udah nolak bara tapi sayangnya tidak bisa."


"bara buka mata lu mau sampai kapan kamu mau kaya gini dia sudah meninggal dan tidak akan bisa balik lagi. liat airin dia yang sekrang menjadi istir lu bar dia yang akan jaga lu nantinya. sabarnya airin ada batasnya, untuk sekrang di sabat tapi blom tau kedapannya bisa jadi dia bakal pergi jauh dari lu dan lu bakal nyesel untuk yang ke dua kalinya."