
"Mira, selamat datang di rumah..." Rendra tersenyum sambil menggendong Amira masuk ke dalam rumahnya setelah dirawat di rumah sakit selama tiga hari.
Di belakangnya ada Zahra yang sedang berjalan bersama uminya. Lalu Affan sedang digendong Abah Husein.
"Dedek ayo main..." Affan yang sudah berumur dua tahun itu semakin pandai berbicara.
"Dedek masih tidur. Nanti ya kita main."
Rendra menurunkan Amira di dalam box nya.
"Dedek cantik." Affan turun dari gendongan Abah Husein dan berlari mendekati box adiknya. Dia usap lembut rambut tipis yang berbando itu. "Dedek cantik ya."
"Iya cantik, kayak ibu." Rendra berjongkok dan memeluk Affan dari samping.
Zahra kini duduk di tepi ranjang. Dia tersenyum menatap Rendra dan putranya yang sangat senang melihat Amira tidur.
"Affan, tidur siang dulu ya."
Kemudian Affan melepas pelukan Ayahnya lalu naik ke atas ranjang. "Bobo ama ibu."
"Iya. Ayo, bobo sama ibu."
Affan beralih ke tengah ranjang dan merebahkan dirinya yang ditemani Zahra di sampingnya.
Rendra ikut naik dan merebahkan dirinya juga di samping Affan.
Affan sekarang sudah terlihat besar dan sangat tampan. Zahra mengusap puncak kepala Affan sambil tersenyum.
"Azam sekarang pasti juga sangat tampan seperti Affan ya." kata Zahra dengan pelan.
"Iya, dia pasti tampan dan pintar seperti Affan."
Mereka kini terdiam sambil membuai Affan dalam usapan lembut. Beberapa saat kemudian Affan sudah tertidur dengan pulas karena lelah sedari pagi ikut ke rumah sakit.
Satu tangan Rendra mengusap puncak kepala Zahra. "Kamu sekarang juga tidur. Nanti malam kita bergadang lagi."
Zahra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Beruntungnya dia memiliki suami seperti Rendra. Dia seorang suami yang sangat bertanggung jawab. Tidak hanya materi tapi juga kasih sayang yang sangat berlimpah. Sejak Affan dan Azam masih bayi dulu sampai sekarang kelahiran Amira, Rendra selalu menemaninya bergadang. Bahkan terkadang Rendra membiarkannya tertidur saat sudah ada stok ASIP.
"I love you," ucap Zahra dengan binar matanya.
"I love you too..."
...***...
Lima tahun sudah berlalu, kini Affan sudah tumbuh besar dan semakin pintar. Dia juga sudah hafal beberapa juz Al-Qur'an. Suaranya sangat merdu saat melantunkan ayat suci Al-Qur'an.
Zahra dan Rendra menatap kagum putranya yang kini berdiri di atas panggung saat ada sebuah acara di pondok. Dia hebat, bahkan seringkali Rendra merasa malu pada putranya yang lebih pintar darinya.
"Masya Allah, Affan." Zahra semakin menggenggam tangan suaminya.
"Ibu," panggil Amira yang sekarang sudah berumur lima tahun.
"Mira," Zahra melepaskan tautan tangannya pada Rendra. "Ada apa?"
"Ayo, main di taman." ajak Amira.
"Iya, sebentar menunggu Kak Affan selesai."
Gadis kecil cantik yang berkerudung putih itu kini duduk anteng di sebelah Zahra. Dia juga sudah pandai membaca Al-Qur'an dan sangat penurut.
"Dek Mira, ada kupu-kupu." Affan dan Amira kini berlarian mengejar kupu-kupu.
Zahra duduk kursi taman, dia tersenyum menatap kedua anaknya yang sedang bermain dengan riang. Bayangan Azam seolah mengikuti langkah kaki mereka.
Tiba-tiba saja satu kecupan singkat mendarat di pipi Zahra.
"Ih, Mas Rendra nanti ada orang yang lihat."
"Gak ada, mereka sudah pulang. Lagian taman ini kan khusus untuk keluarga kita." Rendra merengkuh pinggang Zahra sambil menatap Amira dan Affan yang masih berkejaran. "Aku sangat bersyukur, mereka tumbuh menjadi anak yang soleh dan soleha. Ini semua berkat didikan kamu."
"Bukan hanya aku, tapi Mas Rendra juga. Mas Rendra memang memanjakan mereka tapi Mas Rendra mengatur jadwal yang ketat untuk mereka. Mereka tumbuh dalam sebuah aturan yang penuh kasih sayang."
Rendra menghela napas panjang. Sampai saat ini harapannya untuk menemukan Azam masih belum pupus. Meskipun dua tahun yang lalu ditemukan sebuah makam seorang anak di dekat tempat tinggal keluarga Arsen yang lama tapi ternyata setelah melakukan identifikasi, dia bukan Azam. Mereka benar-benar menghilangkan jejak Azam.
Rendra juga telah menghubungi rekannya yang ada di London untuk mencari tahu tentang Arsen, tapi nihil, tidak ditemukan sama sekali keluarga Arsen di sana.
"Semoga Azam tumbuh juga menjadi anak yang soleh dan pintar. Suatu saat nanti, aku ingin sekali bertemu dengannya." Zahra menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Rendra.
"Iya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semoga kelak kita dipertemukan kembali dengan Azam."
"Amin."
Mereka kembali tersenyum menatap Affan dan Amira yang sedang bermain kupu-kupu.
"Ayah, Ibu, kita dapat kupu-kupu."
"Iya, langsung dilepas lagi ya kupu-kupunya."
Kupu-kupu yang indah itu berterbangan ke sana kemari menambah keindahan taman yang merupakan saksi bisu hilangnya Azam.
Semoga suatu saat nanti di tempat itu, Azam kembali...
..._SELESAI_...
.
.
Terima kasih yang sudah mengikuti kisah Rendra dan Zahra...
.
Lanjutan cerita ini di karya yang baru ya, karena novel ini ikut event lomba kekasih ideal jadi tidak keluar dari konsep awal..
.
Doakan author menang dalam lomba kali ini agar author bisa sedikit berbagi kebahagiaan untuk reader tersayang...
.
Jangan lupa baca cerita author lainnya ya...
.
Salam sayang 💋