When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 42



Setelah malam itu, hari-hari yang dilalui Rendra dan Zahra semakin terasa indah dan penuh cinta. Hampir setiap hari mereka menikmati momen indah bersama.


"Sayang, mau menginap berapa hari di rumah Abah?" tanya Rendra sambil membantu Zahra mengemasi barang yang dia bawa.


"Dua hari aja, Mas." jawab Zahra.


Rendra memutar tubuh Zahra lalu menangkup kedua pipinya. "Meski mereka bukan orang tua kandung kamu, kamu harus tetap menyayangi mereka."


Zahra menganggukkan kepalanya. "Iya Mas, aku tahu. Bagaimana pun juga mereka yang sudah membesarkan aku. Aku akan tetap menyayangi mereka." Zahra mendekatkan dirinya dan memeluk tubuh Rendra. "Makasih, sudah memperjuangkan aku waktu itu dan hidup aku sekarang terasa sempurna.."


Rendra justru tertawa saat mengingat tindakan konyolnya dulu saat meminta restu pada Abah Husein.


"Kok tertawa?" Zahra meregangkan pelukannya dan menatap Rendra.


"Waktu itu, aku sempat ancam Abah pakai pistol. Pikiranku udah buntu, gak tahu lagi harus berbuat apa." cerita Rendra sambil tertawa. "Aku gak habis pikir, kenapa waktu itu aku bisa lakuin itu."


"Astaghfirullah, Mas. Jangan kayak gitu lagi."


"Iya, sebelum aku berubah, aku memang selalu menggertak seseorang dengan todongan pistol."


Zahra hanya mencibir, dia melepas tangannya lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas yang akan dia pakai.


"Tapi kalau sekarang, hidup aku jelas sudah berbeda." Rendra kembali meraih tubuh Zahra. "Tembakan aku khusus buat kamu."


"Ih," satu cubitan mendarat di perut Rendra. "Udah yuk berangkat nanti sampai rumah pasti udah sore."


"Oke." Dengan bergandengan tangan, mereka keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga.


Setelah sampai di luar rumah, mereka segera masuk ke dalam mobil.


"Jadi ke makam dulu? Atau nanti saja bersama Abah?" tanya Rendra. Dia kini sudah menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbangnya.


"Ke makam saja dulu. Mas masih ingat kan jalannya."


"Masih."


Sebelumnya mereka berdua memang sudah pernah ke makam orang tua Zahra, sehari setelah pulang dari rumah sakit saat mengantar Abah Husein dan sekeluarga pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan Zahra berulang kali menguap panjang.


"Kamu tidur saja kalau mengantuk. Pakai bantal leher biar nyaman, ada di belakang."


Zahra hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mengambil bantal leher seperti apa kata Rendra.


Perjalanan yang memakan waktu satu jam lebih sedikit itu, dihabiskan Zahra dengan tidur. Sepertinya dia lelah semalam baru berpetualang dengan Rendra.


Kini Rendra menghentikan mobilnya di depan sebuah pemakaman umum. Dia membangunkan Zahra secara perlahan. "Sayang, sudah sampai."


Zahra membuka matanya lalu menutup bibirnya yang menguap panjang.


"Bentar lagi sampai rumah, kamu lanjut tidur saja. Kelihatan ngantuk banget." Rendra membantu Zahra melepas sit bealt nya.


"Semalam ada nyamuk nakal jadinya gak bisa tidur."


Mereka tertawa lalu turun dari mobil. Setelah membeli bunga untuk ditaburkan di atas makam, mereka masuk ke dalam pemakaman itu. Berjalan beberapa meter sampai menemukan kedua makam orang tua Zahra. Mereka duduk berdampingan sambil menundukkan kepala dan mengirimkan do'a untuk kedua orang tua Zahra. Setelah itu mereka tabur bunga di atas pusara yang telah mengering itu.


Tangan kokoh Rendra kini merengkuh bahu Zahra dan mengusap lengannya. Zahra yang sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya.


"Ayah, Ibu, Zahra pulang ya. Minggu depan insya Allah Zahra dan Mas Rendra akan ke sini lagi."


Beberapa saat kemudian, mereka berdiri dan berjalan beriringan keluar dari pemakaman.


Setelah masuk ke dalam mobil, Rendra menghidupkan kembali mesin mobilnya dan beberapa saat kemudian mobil itu mulai melaju menuju rumah Abah Husein yang telah dekat.


Hanya 15 menit mereka sampai di depan rumah Abah Husein. Kemudian mereka turun dari mobil dan berjalan menuju teras rumah.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Umi Laila berjalan keluar dan menyambut kedatangan Zahra dan Rendra. "Zahra, Umi kira kamu gak jadi ke sini. Umi tunggu dari tadi."


"Iya umi, maaf terlalu sore. Tadi kita dari makam dulu." kata Zahra sambil mencium punggung tangan Umi Laila, yang diikuti juga oleh Rendra.


Kemudian mereka semua masuk ke dalam rumah dan duduk berjajar di ruang tamu.


Beberapa saat kemudian Abah Husein keluar dari kamarnya. Zahra dan Rendra segera bersalaman dan mencium punggung tangannya.


"Abi, Zahra mau melihat foto kedua orang tua Zahra, apa boleh?" pinta Zahra.


"Ya tentu saja boleh. Abi juga sudah janji sama kamu untuk menunjukkan foto-fotonya." Kemudian Abah Husein masuk ke dalam kamar dan beberapa saat kemudian Abah Husein sudah kembali dengan membawa beberapa album.


"Ini foto waktu Ayah kamu masih muda, dan foto pernikahan mereka juga masih lengkap di sini."


Zahra mulai membuka album yang telah usang itu. Dia melihat beberapa foto almarhum ayahnya saat masih muda. Dia sangat mirip dengan Abah Husein, terang saja wajah Zahra juga bisa mirip dengan Abah Husein. Selama ini dia tidak menduga jika dia bukan anak kandungnya.


Zahra tersenyum tipis sambil terus membalik album foto itu. Dia kini menatap foto ibunya saat menikah. "Cantik." gumamnya pelan dengan mata yang berkaca-kaca.


Di belakang sendiri juga ada beberapa foto saat ibunya tengah mengandung Zahra. Kemudian dia beralih ke album satunya. Di sana hanya ada foto masa kecil Zahra.


"Lucu banget." Rendra tertawa saat melihat Zahra yang terlihat tomboy di saat kecilnya.


"Ih, jangan dilihat, malu." Zahra menutup album itu karena sebelumnya dia juga sudah pernah melihat foto semasa kecilnya.


Tapi Rendra justru meraih album itu dan melihatnya lagi. Dia tersenyum kecil berulang kali saat melihat tingkah lucu Zahra di masa kecil Zahra. Tapi di halaman terakhir, dia melihat beberapa foto kecelakaan, sepeda motor itu sampai rusak parah di bagian belakangnya.


"Ini, foto kecelakaan Ayahnya Zahra?" tanya Rendra.


Seketika Zahra juga melihat foto-foto itu. Tanpa sadar setetes air mata jatuh di pipinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kecelakaan itu terjadi hingga bagian belakang motor itu rusak parah.


"Iya, dan sayangnya itu kasus tabrak lari. Yang salah sebuah mobil sedan berwarna hitam. Bahkan kita sudah mencari bukti, ada sebuah rekaman cctv yang merekam plat mobil itu tapi polisi tidak mau mengusut kasus kecelakaan ini sampai sekarang."


Pandangan Rendra kini berhenti pada sebuah mobil sedan berwarna hitam. Dia mengernyitkan dahinya. Dia seperti pernah melihat mobil sedan berwarna hitam dengan plat nomor itu.


Sepertinya aku pernah melihat mobil ini...


💕💕💕


.


Like dan komen ya...