
Malam itu Zahra dan Rendra masih sama-sama terdiam di dalam kamarnya. Zahra kini tidur sambil memunggungi Rendra, sedangkan Rendra sedang duduk bersandar di headboard sambil memainkan ponselnya.
Sunyi sepi, tanpa ada percakapan sama sekali.
Rendra akhirnya menaruh ponselnya di atas nakas lalu memiringkan dirinya dan memeluk Zahra.
Meskipun Zahra belum tertidur tapi mendapat pelukan dari Rendra yang tiba-tiba itu membuatnya terkejut.
"Sampai kapan diemin aku terus?" tanya Rendra sambil mendekatkan bibirnya di telinga Zahra.
Zahra tidak menjawabnya.
"Besok kita bicarakan masalah ini dengan Papa. Kalau memang kamu masih mau menuntut Papa, tidak apa-apa. Kasus ini tidak akan ditutup lagi." kata Rendra lagi. Dalam kasus ini, dia tidak akan membela Papanya.
Zahra masih saja terdiam.
"Apa setelah kamu tahu yang sebenarnya kamu jadi membenciku? Kamu tidak mau lagi bersamaku?"
Perlahan Zahra memutar tubuhnya. Dia kini menatap wajah Rendra. Dia menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak membenci Mas Rendra. Aku hanya bingung dengan keadaan ini. Mengapa semuanya begitu kebetulan seperti ini?"
Rendra hanya menatap Zahra, dia biarkan wanitanya mengeluarkan semua isi hatinya.
"Semua sudah takdir. Aku gak mau lagi mengungkit masalah ini. Aku juga gak akan menuntut Papa Marko. Ayah juga sudah tenang di sana, buat apalagi masalah ini terus diusut. Aku sudah ikhlas menerima ini semua."
Rendra terus menatap Zahra. Jika dia ada di posisi Zahra, dia sendiri tidak mungkin bisa menerima semua ini dengan mudah.
"Makasih." Rendra semakin mengeratkan pelukannya. "Aku sudah sangat takut kehilangan kamu."
"Ini semua bukan salah Mas Rendra. Aku hanya sedikit kesal, karena Mas Rendra tidak langsung cerita semalam."
Rendra tertawa kecil. Beban di hatinya seketika luruh. Kejujuran memang solusi terbaik untuk semua masalah. "Aku tidak ada keberanian cerita sama kamu semalam. Ternyata aku seorang yang pengecut!"
"Lain kali, jika ada suatu masalah, Mas harus langsung cerita sama aku karena kejujuran itu sangat penting dalam sebuah hubungan."
"Iya sayang." Rendra menghela napas panjang. "Terkadang kita memang butuh nasihat orang lain untuk menyelesaikan masalah kita."
Zahra merenggangkan pelukannya dan menatap suaminya. "Kok sama. Tadi aku sedikit cerita sama Bella dan jawaban dia sangat dewasa. Di umurnya yang masih belia, dia gadis yang sangat kuat."
"Bella? Bella memang penyemangat bagi semua orang yang dekat dengan dia."
"Kalau Mas Rendra sendiri cerita sama siapa? Dokter Hendra?"
Seketika Rendra tertawa dengan keras. Bagaimana mungkin dia bercerita dengan Dokter Hendra, yang ada Dokter Hendra semakin menambah penyakit hatinya. "Bukan, aku tadi bicara sebentar dengan Anaz. Anaz itu seperti bisa membaca pikiran kita."
"Anaz memang mempunyai kelebihan. Dia bisa menerawang isi hati seseorang."
"Pantas, tanpa aku cerita dia sudah bisa memberi solusi. Andai saja aku bisa membaca pikiran kamu."
Zahra tersenyum kecil. "Buat apa? Mas Rendra sudah sangat pengertian sama aku. Makasih sudah berusaha menjadi suami yang terbaik buat aku."
"Sama-sama." Rendra menundukkan wajahnya. Dia singkirkan anak rambut yang menutupi kening Zahra. "Tapi bagimana kalau Abah sampai tahu masalah ini? Aku yakin, Abah tidak seperti kamu yang bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada."
Zahra menggeleng pelan. "Biarkan rahasia ini tetap tersimpan rapi. Tidak usah diungkit lagi."
Seketika Rendra mendekatkan dirinya dan mencium lembut bibir Zahra.
Sentuhan Rendra selalu bisa membuat Zahra terbuai. Dia ingin melakukannya lebih dari ini.
"Sayang..." Perlahan tangan Rendra membuka kancing piyama Zahra. "Ayo, kita buat malam ini lebih indah."
Kedua tangan saling terpaut. Kedua pasang mata saling menatap penuh cinta. Bibir tipis itu mulai berdesis lirih kala Rendra menyentuhnya dengan penuh cinta di beberapa titik sensitifnya.
Tak terlalu terburu, tapi pasti. Hingga suara indah itu saling bersahutan. Tubuh mereka yang polos itu kian berpeluh dengan napas semakin berat.
Cengkraman erat tangan Zahra di bahu Rendra menandakan bahwa Zahra bisa menikmati setiap permainan Rendra. Dia terasa terbang melayang di udara saat tubuh bergetar beberapa kali.
"Semoga calon buah hati kita cepat hadir di dalam perut kamu." kata Rendra di dekat telinga Zahra.
"Iya, amin."
Rendra semakin membungkukkan dirinya. Dia endus dalam aroma leher Zahra yang berkeringat.
Semakin dia menambah gerakannya, dia semakin terasa terbang di angkasa. Sampai dia mencapai puncak nirwana, dan beberapa detik kemudian tubuh Rendra terasa lemas. Dia lepaskan penyatuannya lalu menghempaskan tubuhnya di sisi Zahra.
Mereka sama-sama mengatur napas yang tersenggal. Kemudian mereka saling memutar tubuh dan berpelukan dengan erat.
Rendra kini menarik selimutnya hingga menutupi tubuh polos mereka berdua. "Zahra, apapun yang terjadi di antara kita, kita harus bisa melaluinya bersama-sama."
"Iya, Mas."
"Aku ingin kita menua bersama dan membesarkan anak-anak kita."
Zahra hanya tersenyum. Dia semakin menenggelamkan wajahnya di dada polos Rendra.
"Sudah banyak rencana yang ingin aku buat, salah satunya aku ingin membuka pondok pesantren di dekat perkebunan teh."
"Pondok pesantren?" Zahra kini mendongak menatap keseriusan Rendra.
"Iya, biar kamu juga punya kegiatan di sini. Aku tahu pasti kamu ingin mengajar lagi kan. Dan aku juga akan menyediakan tempat tinggal bagi anak yang tidak mempunyai rumah atau yang berasal dari luar kota. Semoga saja berkah dan selalu ada rezeki agar keinginan aku cepat terwujud karena aku benar-benar ingin membantu mereka yang ingin menuntut ilmu. Tidak akan aku bebani biaya apapun pada mereka."
Zahra tersenyum dengan mata yang berkaca. Buka pondok pesantren gratis, bahkan pondok pesantren milik Abahnya saja masih ada pembayaran di setiap bulan.
"Tapi sebelum itu, seperti janji aku. Aku ingin mengadakan resepsi pernikahan dengan mewah yang akan menjadikan kamu ratu dalam sehari." Rendra mencium singkat kening Zahra.
"Resepsi? Tidak usah, tidak apa-apa. Aku sudah bahagia bersama Mas Rendra."
"Aku sudah janji, jadi aku harus menepatinya." Rendra kembali mendekatkan dirinya. Menyentuh bibir itu dengan lembut yang semakin lama semakin menuntut.
"Sayang, once again?" tanya Rendra dengan mata yang penuh damba. Bahkan salah satu organ tubuhnya sudah bereaksi dengan cepat dan ingin segera merasakan kehangatan lagi.
Zahra hanya tersenyum kecil mendengar permintaan Rendra. Dia tidak menyangka, hidupnya akan seindah ini bersama Rendra.
Mereka kembali mengulang percintaan hangat itu. Mendayung bersama hingga kenikmatan itu kembali terasa.
💕💕💕
.
Like dan komen ya... 😂
.
Scene nya author haluskan, di mix dalam blender disesuaikan dgn genrenya. Kalau ingin yg panas baca yg ini. Masih baru banget...
👇👇