
Malam itu, Rendra sengaja mengulur waktu agar Zahra tidak segera masuk ke dalam kamar. Rendra menyuruh anak buahnya untuk menghias kamarnya dengan bunga-bunga ala pengantin baru terlebih dahulu.
Sesekali Rendra terus tersenyum kecil. Apakah malam itu dia akan berhasil?
Zahra berulang kali melirik suaminya yang sedang duduk di sebelahnya. "Mas, kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?"
"Tidak apa-apa. Senang saja akhirnya kesehatan kamu sudah pulih." jawab Rendra sambil mencium singkat pipi Zahra.
"Hmm, Mas, minggu depan antar aku ke makam kedua orang tuaku lalu kita menginap semalam saja di rumah abi ya?"
Satu tangan Rendra kini merengkuh bahu Zahra. "Oke. Nanti biar aku kosongkan jadwal aku." Rendra melirik ke atas, dia melihat anak buahnya sudah keluar dari kamarnya.
"Zahra, dihabiskan dulu susunya lalu kita tidur, sudah jam 9."
Zahra meneguk segelas susu itu hingga habis. Sebenarnya dia sedikit bingung, tadi Rendra menyuruhnya untuk duduk menemaninya menonton televisi, sekarang acara televisi yang dia tonton belum selesai tapi sudah mengajaknya ke kamar.
"Ayo." Rendra meraih tangan Zahra setelah Zahra meletakkan gelas susu yang telah kosong itu di atas meja.
Jemari mereka saling terpaut saat mereka menaiki anak tangga.
Dada Rendra sudah berdetak tak karuan. Akankah malam itu menjadi malam yang istimewa untuknya dan Zahra?
Rendra membuka pintu kamarnya dan membiarkan hanya lampu temaram yang menyala. Semerbak harum bunga mawar tercium.
"Mas, ini..." Mata Zahra membulat saat melihat kamar Rendra sudah disulap menjadi kamar pengantin yang bertabur kelopak bunga mawar merah. Keharuman kamar itu juga menambah kesan romantis yang bisa memicu gairah.
Rendra melingkarkan kedua tangannya di perut Zahra. "Bolehkah malam ini?" tanya Rendra di dekat telinga Zahra.
Zahra menelan salivanya. Bibirnya seolah kaku untuk menjawab pertanyaan Rendra. "Hmm, aku..."
Satu tangan Rendra kini membuka hijab Zahra. Dia biarkan rambut Zahra terikat karena dia ingin mengendus dalam aroma leher Zahra yang terekspos. "Sayang, kenapa? Takut? Aku tidak akan memaksa kalau memang kamu belum..."
Zahra memutar tubuhnya dan kini menatap Rendra. "Selama ini Mas Rendra sudah sangat bersabar merawatku. Ambil hak Mas Rendra kapan pun Mas mau."
Mereka kini saling bertatapan dengan senyum yang merekah. Beberapa detik kemudian wajah mereka saling mendekat, bibir itu kembali bersentuhan menikmati manisnya madu yang telah menjadi candu.
Perlahan tangan Rendra mengusap punggung Zahra. Dia turunkan resleting yang berada di punggung Zahra lalu menariknya hingga rok panjang terusan itu jatuh teronggok di lantai.
Jantung mereka sama-sama berdegub semakin kencang. Rendra melepas pagutannya. Dia kini menatap keindahan yang dimiliki Zahra. Benar-benar cantik dan sempurna.
Zahra hanya menundukkan kepalanya karena malu.
"Cantik." Satu tangan Rendra mengangkat dagu Zahra. "Jangan malu lagi sama aku."
"Aku.." Dada Zahra semakin berdebar tak karuan. "Apa sakit?"
Pertanyaan itu membuat Rendra tersenyum kecil. "Aku akan memberi kamu kenyamanan." Rendra perlahan mendorong tubuh Zahra hingga mereka jatuh di tengah ranjang. Mereka masih saja bertatapan lekat.
Zahra hanya pasrah dalam kungkungan Rendra saat Rendra memberikan sentuhan-sentuhan lembutnya di daerah sensitifnya yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Aliran darahnya kian terpompa cepat yang membuat tubuhnya memanas, bahkan suara indah dari bibirnya seolah tak bisa Zahra tahan.
Rendra kini melepas seluruh kain yang menempel di tubuhnya saat merasa pemanasan yang diberikan pada Zahra sudah cukup. Badan yang kekar dan berotot itu membuat Zahra terpesona.
Mereka saling bertatapan dengan napas yang sudah sama-sama berat. Beberapa detik kemudian Rendra mendekatkan bibirnya di telinga Zahra. Dia lantunkan sebuah do'a yang beberapa hari ini telah berhasil dia hafalkan.
Seketika hati Zahra sedikit tenang, apalagi saat Rendra menautkan jemarinya dengan erat di kedua tangannya.
Zahra memejamkan matanya dengan air mata yang mengembun di ujung matanya. Dia gigit bibir bawahnya agar tidak berteriak saat Rendra telah berhasil menjadikannya milik Rendra seutuhnya.
Satu tangan Rendra menghapus air mata yang mengembun di ujung mata Zahra. Dia tahan dirinya sesaat agar Zahra tidak semakin merasa kesakitan. "Maaf."
Dengan perlahan tapi pasti, Rendra mulai bergerak. Dia ciumi wajah putih yang sekarang nampak memerah itu.
Mereka saling menyatu, dengan suara yang saling bersahutan merdu. Menikmati surga dunia yang akan menjadi candu di setiap harinya. Keringat membasahi kedua tubuh polos yang semakin bergerak aktif hingga mereka mencapai puncak nirwana bersama.
Satu ciuman hangat mengakhiri pergulatan panas mereka.
Rendra melepas dirinya dan menghempaskan tubuhnya di samping Zahra.
"Makasih." Rendra kini menarik tubuh polos Zahra yang berkeringat itu dan memeluknya dengan erat.
Zahra hanya menganggukkan kepalanya. Badannya terasa lelah, matanya juga terasa berat untuk terbuka.
"Met tidur sayang." Satu kecupan hangat mendarat di kening Zahra. "Terima kasih untuk malam yang indah ini."
Dengan cepat Zahra sudah tertidur pulas di pelukan Rendra. Begitu juga dengan Rendra, setelah melakukan kegiatan yang melelahkan tapi nikmat itu, dia kini bisa tidur dengan nyenyak.
...***...
Keesokan paginya, Rendra bangun terlebih dahulu sebelum adzan subuh berkumandang. Dia tersenyum menatap Zahra yang masih tertidur dengan pulas dalam pelukannya. Dia singkirkan anak rambut yang menutupi wajah lelahnya. Kemudian dia cium kening Zahra, lalu pipi dan terakhir singgah di bibirnya.
Seketika Zahra membuka matanya. "Hmm, Mas Rendra." Dia melepas pelukannya dan bergeliat. Saat dia menyingkap selimutnya, tersadar tubuhnya masih polos tak memakai apapun. Buru-buru Zahra menutup tubuhnya dengan selimut lagi.
Rendra semakin tertawa. Dia cubit hidung mancung Zahra. "Lupa dengan yang semalam?"
Zahra hanya menundukkan pandangannya dengan pipi yang merona.
"Akhirnya bisa mandi keramas sama-sama sebelum sholat subuh." goda Rendra.
Zahra mencubit pinggang Rendra karena malu.
"Masih malu-malu. Gak papa, nanti setelah ke beberapa kali pasti sudah mulai terbiasa dan nagih."
Zahra menggeser dirinya, tapi Rendra dengan cepat mengangkat tubuh Zahra.
"Aww, Mas. Turunin!!"
"Iya, nanti di bathup. Aku tahu, pasti masih sakit kalau buat jalan " Rendra turun dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia turunkan tubuh Zahra di dalam bathup lalu mengisinya dengan air hangat. "Kamu berendam air hangat beberapa saat agar pegal-pegal di tubuh kamu hilang."
Zahra hanya terdiam. Dia masih saja merasa malu, apalagi mata elang Rendra terus saja menatap tubuh polosnya.
"Ya sudah, kamu mandi dulu. Aku keluar." Rendra mencubit hidung Zahra lalu dia meraih bathrobe nya dan memakainya kemudian dia keluar dari kamar mandi untuk membereskan ranjangnya yang kacau balau.
Melihat pintu kamar mandi yang sudah ditutup Renda kembali, Zahra kini tersenyum kecil sambil memegang kedua pipinya. "Makasih, sudah membuat hidupku terasa sempurna..."
💕💕💕
.
.
Like dan komen ya..
.
Dikit aja gak full kayak biasanya.. 😂