When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 57



Selesai sholat subuh, Rendra sudah berkutat di dapur sampai dia berkeringat. Ternyata bagi Rendra memasak itu melelahkan daripada berolahraga. Semua ini dia lakukan demi calon buah hatinya.


"Mas, kirain olahraga. Ternyata di sini." Zahra kini duduk di dekat meja dapur sambil meminum susu ibu hamil.


"Masakin buat kamu. Katanya kamu mau makan masakan aku lagi." kata Rendra. Dia kini menata masakan yang telah matang di atas piring saji.


Seketika Zahra tersenyum dengan riang. "Masak apa Mas?"


"Gak tahu apa namanya, pokoknya sayur-sayur aku masukin jadi satu. Kali ini gak asin, udah aku tester dan ada telur dadar spesial karena gak gosong, aku campur irisan daging juga." Rendra tersenyum bangga melihat hasil masakannya hari ini. Tentu saja semua itu tak lepas dari tutorial di youtube dan sedikit bantuan dari Bi Mina.


Rendra meletakkan masakannya yang sudah jadi di atas meja. "Dagingnya pasti matang, karena tadi aku rebus dulu. Buat ibu hamil daging harus benar-benar matang dan tidak boleh makan sayur mentah juga."


Zahra terus menatap Rendra dengan mata berbinarnya. "Makasih, Mas."


"Sama-sama," Rendra mengusap puncak kepala Zahra, kemudian dia melepas apronnya dan ikut bergabung dengan Zahra. "Makan yang banyak." Rendra mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi, sayur dan lauk. Kemudian dia letakkan di depan Zahra. "Mau makan sendiri atau disuapi?"


"Makan sendiri saja. Kan tadi Mas Rendra sudah masak. Hmm, besok Mas Rendra gak usah masak lagi ya." kata Zahra. Sebagai ibu rumah tangga, seharusnya dia yang memasak bukan Rendra. Karena semenjak tinggal di rumah Rendra, dia jarang sekali memasak di dapur. Semua makanan sudah di masak oleh pembantu.


"Kenapa? Gak papa, sekalian melatih kesabaran aku."


Zahra semakin menggelengkan kepalanya. "Pokoknya jangan."


"Sayang, kalau kamu mau sesuatu jangan di tahan. Jangankan memasak, kamu mau candi saja aku rela buatkan untuk kamu." Seorang yang dulunya berhati keras sekarang sangat pandai berkata manis. Begitulah Rendra, apa dia pikir ini zamannya kerajaan.


Zahra tersenyum kecil lalu dia mulai memakan masakan Rendra. Rasanya sudah pas di lidahnya. "Enak Mas."


"Ya sudah kamu habiskan. Nanti kalau mau lagi, aku bisa masak lagi." Rendra juga mengambil sepiring nasi beserta sayur dan lauknya.


Mereka makan bersama sambil sesekali tersenyum.


...***...


Hari-hari yang dilalui Zahra semakin indah. Rendra sangat perhatian dengan Zahra. Bahkan Rendra menepikan dulu semua pekerjaannya agar bisa selalu bersama Zahra.


Jalan empat bulan kehamilan, Zahra dan Rendra mengadakan tasyakuran di pondok pesantren. Semua do'a terbaik tercurah untuk ibu dan calon buah hati mereka.


Wajah Zahra semakin terlihat berseri, karena kini banyak menyayanginya.


Rengkuhan tangan kokoh Rendra tak lepas dari pinggang Zahra. "Sebentar lagi kita pulang, lalu istirahat. Sudah malam."


Zahra menganggukkan kepalanya karena semua tamu yang menghadiri acara tasyakuran pun sudah pulang.


"Kamu capek gak?" Satu tangan Rendra kini mengusap perut Zahra yang sudah terlihat besar meski baru jalan 4 bulan. Pertumbuhan dua janin kembarnya juga sangat bagus dan sehat.


"Ya capek Mas. Tapi aku sangat bahagia. Alhamdulillah..."


Mereka kini berjalan keluar dari pondok dan menuju mobilnya. Saat Rendra membuka pintu mobilnya, dia baru menyadari jika ban mobilnya kempes. "Ban mobilnya kempes. Sebentar, aku telepon Papa atau Kevin biar jemput ke sini. Tadi mereka sudah pulang duluan."


"Jalan aja Mas. Dekat."


Rendra yang akan mengeluarkan ponselnya pun urung.


"Gak capek?" tanya Rendra sekali lagi.


Zahra menggelengkan kepalanya. "Dekat Mas. Gak ada lima menit juga udah sampai."


"Ya udah, yuk." Rendra menggandeng tangan Zahra dan mengajaknya berjalan menuju rumah sambil menikmati suasana malam.


"Langitnya cerah ya Mas. Bertabur bintang, indah banget." Zahra menghentikan langkahnya sesaat lalu menatap langit malam yang indah.


"Iya, indah banget. Apalagi di sini dataran tinggi. Langit terasa dekat dengan kita." Rendra melepas tautan tangannya dan membenarkan hijab Zahra yang tertiup angin. "Tapi anginnya lumayan dingin. Kita harus cepat-cepat sampai rumah, jangan sampai masuk angin nanti perutnya tambah besar." Rendra tertawa kecil lalu melepas jaketnya.


"Aww," Zahra jatuh ke aspal dengan tangan yang menahan tubuhnya.


"Woy, siapa kamu!!!" Rendra akan mengejar orang itu tapi langkah kakinya sangat cepat. Dia juga tidak mungkin meninggalkan Zahra yang terjatuh di jalan. "Sayang, kamu gak papa kan?" Rendra menahan tubuh Zahra lalu memakaikan jaketnya.


Zahra hanya meringis kesakitan sambil memegang perutnya. "Mas, perut aku sakit."


Jantung Rendra berdenyut nyeri mendengar hal itu. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Papanya.


"Papa, aku ada di dekat pertigaan, mobil aku bannya bocor. Papa bawa mobil ke sini, Zahra jatuh dan aku harus segera membawanya ke rumah sakit." setelah mendapat jawaban dari Papanya, kemudian Rendra mematikan ponselnya.


Jalanan saat itu sangat sepi, tidak ada anak buahnya juga yang berjaga.


"Sayang, tahan sebentar." Rendra terus merengkuh tubuh Zahra.


"Mas, aku takut."


"Semoga gak kenapa-napa." Rendra mengeraskan rahangnya dan sekali lagi, dia kecolongan. Padahal Zahra sedang bersamanya, tapi Zahra masih saja celaka.


Rendra kembali mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya. "Roy, suruh anak buah kembali berjaga dengan ketat lagi. Ada yang sengaja mencelakai Zahra. Kalau ada orang asing yang mencurigakan kamu tangkap."


"Baik Tuan."


Beberapa saat kemudian mobil Pak Marko berhenti. Dia segera turun dan membantu Rendra. "Bagaimana bisa terjadi?"


"Ada yang sengaja mendorong Zahra."


"Astaga, mereka berulah lagi di saat kita lengah. Kita harus segera ke rumah sakit!!"


Rendra terus memeluk Zahra yang duduk di jok belakang. Dia usap perut Zahra, dan terus berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada kedua calon buah hatinya.


"Mas, aku takut." Air mata sudah merembes di pipi Zahra. Dia sangat takut kehilangan kedua calon buah hatinya.


"Kamu harus kuat, jangan sedih, agar mereka berdua juga kuat di dalam perut kamu."


Zahra merasakan ada sesuatu yang merembes di antara pahanya dan menembus rok yang berwarna peach itu. "Mas darah."


"Astaghfirullah. Pa, cepat!!"


"Iya, ini sudah kecepatan maksimal. Kalian berdua tenang dulu."


Rendra semakin mengeratkan pelukannya pada Zahra. Dia tidak bisa membayangkan jika hal buruk itu terjadi.


"Mas, gimana kalau..."


"Jangan berpikiran buruk dulu." Rendra menciumi pipi Zahra, berusaha untuk menenangkannya. Meski dalam hatinya dia juga sangat takut kehilangan.


Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Zahra dan kedua calon anakku, aku gak akan melepaskan mereka semua!


Setelah sampai di rumah sakit, Rendra segera membawa Zahra menuju ruang IGD. Dia kini menunggu Zahra di depan IGD. Hatinya benar-benar tidak tenang.


Dia buang napas kasar lalu menghubungi anak buahnya lagi.


"Kalian cari siapa pelaku dibalik semua ini! Ada mata-mata di sekitar pondok, kalian sisir tempat itu! Jangan sampai lolos!"


💕💕💕


.


Like dan komen ya...