When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 54



Rendra kini masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Zahra yang sudah tertidur di atas ranjangnya. Dia berjalan mendekat dan duduk di sisinya. Perlahan Rendra mengusap pipinya.


"Sayang, kamu belum makan. Jangan tidur dulu." kata Rendra. Sejak Zahra bersama Rendra, dia selalu mengatur pola makan Zahra agar sampai tidak telat makan.


Zahra menguap panjang dengan mulut yang dia tutup dengan tangannya. Dia kini menatap Rendra yang sedang membungkuk di sampingnya. "Iya, aku nungguin Mas Rendra sampai ketiduran."


"Lain kali kalau aku lama, kamu makan dulu. Jangan tungguin aku."


Zahra menganggukkan kepalanya lalu dia duduk di samping Rendra.


"Sayang, alhamdulillah pembangunan pondok akan segera dilanjutkan lagi." Rendra meraih kedua tangan Zahra dan menggenggamnya dengan erat. "Papa dan Kevin akan membantu dalam pembangunan itu. Mereka juga berencana untuk membentuk madrasah."


Seketika senyum Zahra mengembang. "Alhamdulillah, Mas."


Kemudian Rendra meraih tubuh Zahra dan memeluknya. "Setelah ini, kamu jangan sedih lagi. Semua akan baik-baik saja. Kita akan selalu bersama."


Setelah hari itu, pembangunan pondok pesantren dilanjutkan. Bahkan Kevin menambah pasukan tukang yang membangun agar cepat selesai.


Rendra dan Zahra segera mengurus semua surat-surat izin resmi ke kemenag. Mereka sudah mencari guru yang akan mengajar nanti dan juga santri aktif.


Ternyata semua diluar ekspektasi Zahra, banyak calon santri yang begitu antusias mendaftar di madrasah itu. Terutama santri di Madrasah Diniyah.


Setelah bangunan rampung 100 persen, Zahra segera menyusun kurikulum dan materi pembelajaran karena hal itu merupakan salah satu syarat pengajuan izin resmi ke kemenag.


Setelah syarat-syarat terpenuhi, tak menunggu terlalu lama, pondok pesantren itu sudah memiliki izin resmi.


Tasyakuran pun dilaksanakan sebagai peresmian pondok pesantren itu.


Zahra tersenyum sambil duduk di antara mereka yang hadir di acara peresmian itu. Dia tidak menyangka, saat dia menghubungi teman kuliahnya dulu, teman kuliahnya justru sangat antusias membantu. Bahkan Kyai Haji yang terkenal di kota itu juga akan turut ikut serta dalam mengajar santri nantinya.


Tentu saja, semua keberhasilan ini tak lepas dari Rendra. Zahra merasa kagum saat menatap suaminya yang kini terlihat sangat bercahaya memakai gamis putih dan peci putihnya. Dia sedang mengobrol bersama kyai dan ustaz lainnya.


Rendra yang dulunya berbaur dengan para berandal, kini bisa membuktikan bahwa dirinya memang telah berubah. Hati yang baik itu, kini tak lagi diselimuti kegelapan tapi cahaya terang.


...***...


Malam itu, Rendra menghempaskan dirinya di atas ranjang. "Aku capek sekali sayang."


"Sini Mas, aku pijitin." Zahra duduk di samping Rendra lalu meraih tangan Rendra dan mulai memijatnya.


"Sayang, jangan. Kamu kan juga capek." Rendra memiringkan tubuhnya dan menahan tangan Zahra. "Istri aku hebat."


"Hebat apa? Ini juga berkat kerjasama teman-teman aku. Ternyata mereka baik. Dulu aku tidak pernah hubungi teman-teman lama aku karena hidup aku hanya sekitaran pondok milik Abah aja. Aku tidak bisa berkumpul dengan mereka. Tapi sekarang, justru aku merasa bebas. Aku bisa bertukar pikiran lagi dengan teman-teman aku dulu dan sekarang aku juga bisa benar-benar menyalurkan keahlianku. Makasih Mas Rendra. Benar kata Mas Rendra dulu, aku harus keluar dari pondok Abah agar hidup aku tidak monoton dan membosankan." cerita Zahra. Sangat terlihat dari binar matanya jika dia sedang berbahagia.


Rendra menarik tubuh Zahra agar terbaring di sampingnya. Kemudian dia peluk erat tubuh itu. "Aku bahagia, jika kamu bahagia."


"Dulu kita dipertemukan oleh takdir, dan takdir yang menyatukan kita. Mas Rendra memang suami terbaik yang dipilihkan Allah untuk aku."


Rendra tersenyum. Dia cium kening Zahra lalu menatap kedua mata teduh Zahra. "Aku masih banyak kekurangan. Aku belum sempurna."


"Tapi bagi aku, Mas Rendra sempurna." Mereka saling bertatapan penuh cinta.


"Tatapannya menggoda sekali." Rendra mendekatkan dirinya dan mencium lembut bibir Zahra.


"No, no, jangan sedih lagi dengan masalah itu. Jika waktunya dikasih, pasti nanti juga dikasih. Kan mulai minggu ini anak-anak kita di pondok udah banyak. Anggap saja mereka seperti anak kita sendiri."


Zahra tersenyum kecil.


"Tapi aku gak akan menyerah untuk berusaha." kata Rendra sambil tersenyum. Satu tangannya kini mulai melepas kancing piyama Zahra.


Zahra semakin tertawa. "Ih, katanya tadi capek."


"Kalau melakukan ini, capek aku akan hilang."


Rendra kini mengungkung tubuh Zahra, mereka saling bertatapan lekat. Kedua tangan itu kini terpaut.


"I love you..."


"I love you too..."


Rendra membisikkan doa pengantar hal menyenangkan itu. Dia juga berdoa dalam hatinya, semoga benih cintanya segera tumbuh di rahim Zahra agar Zahra bisa bahagia dan tidak bersedih lagi memikirkan ini semua.


...***...


Setelah kegiatan belajar di pondok dimulai, Zahra setiap hari disibukkan dengan mengajar. Tapi hari itu, rasanya badannya sangat lelah, dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Biasanya dia tidak ingin cepat-cepat pulang. Dia akan menunggu sampai sore hari saat di jemput Rendra.


Dia kini pulang sendiri sambil berjalan kaki karena jarak rumah dan pondoknya memang tidak terlalu jauh hanya sekitar 300 meter.


"Kepala aku pusing banget."


Zahra memijat kepalanya sendiri karena merasa pusing. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah.


"Loh, Zahra kok kamu sudah pulang? Tadi telepon aku saja biar aku jemput " tanya Rendra yang baru saja menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Dia kini menghampiri Zahra.


"Kamu kenapa?" tanya Rendra saat melihat wajah pucat Zahra.


"Kepala aku pusing banget Mas." Baru juga Zahra akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba dia jatuh dan tak sadarkan diri.


Untunglah, dengan sigap Rendra menahan tubuh Zahra. "Sayang!" Rendra segera mengangkat tubuh Zahra dan membawanya masuk ke dalam mobil. Tanpa pikir panjang, dia segera membawa Zahra ke rumah sakit.


"Zahra kamu kenapa?" Rendra sangat panik. Dia sangat takut penyakit Zahra kambuh lagi. "Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Zahra."


Rendra semakin menambah laju mobilnya. Saat sampai di depan rumah sakit, Rendra menggendong Zahra dan membawanya masuk ke dalam IGD. Di depan IGD, Rendra mondar-mandir menunggu hasil pemeriksaan.


Ya Allah, jangan sampai penyakit Zahra kambuh lagi...


💕💕💕


.


.


Like dan komen ya...