When Mafia Fall In Love

When Mafia Fall In Love
BAB 49



Zahra tersenyum melihat halaman rumah Rendra yang sudah disulap bak halaman istana yang berada di kayangan. Bunga-bunga berwarna putih sudah berjajar cantik di sepanjang jalan menuju pelaminan, dipadu dengan kain putih dan lampu-lampu hias yang juga sangat cantik.


"Nanti kita berjalan dari gerbang lalu menuju pelaminan dengan diiringi musik biola. Ditambah asap-asap sepanjang jalan berkarpet merah ini. Udah terkonsep, meskipun acara di rumah, tidak kalah mewahnya dengan di gedung." Rendra kini berdiri di samping Zahra lalu menggandeng tangan Zahra.


"Mas, rasanya aku deg-deg an banget."


Rendra justru tertawa. "Kita bukan pengantin baru lagi, kenapa masih deg-deg an? Kamu cukup pasang senyum dan selalu pegang erat tangan aku." Rendra mengangkat tangan Zahra lalu menciumnya dengan mesra.


"Mas, malu, banyak orang." Buru-buru Zahra menarik tangannya karena masih ada beberapa tukang dekor yang masih bekerja di sana.


Rendra hanya tersenyum sambil mengusap puncak kepala Zahra. Dia berharap semoga saja acara besok semuanya lancar.


"Paman Rendra..." teriak Raffa yang baru saja datang dengan kedua orang tuanya.


"Hai, Raffa..." Rendra membungkukkan badannya sambil mengusap puncak kepala Raffa. "Kak Reka diajak gak?"


"Diajak. Sebentar lagi Kak Reka datang dengan Ayah dan Bundanya. Ada adik Nina juga." cerita Raffa dengan mata yang berbinar. Kemudian dia menatap takjub dekor yang sangat cantik dan mewah itu. "Cantik sekali, Rania ayo sini kita lihat bunga." panggil Raffa pada adiknya yang masih berada di gendongan Alea.


Seketika Rania turun dan berlari menghampiri Raffa.


"Rania, Raffa, boleh lihat tapi gak boleh pegang." Alea mengikuti kedua anaknya yang sedang aktif-aktifnya itu. Takut jika mereka merusak dekor yang baru saja selesai dipasang.


Beberapa saat kemudian Abah Husein dan Umi Laila juga datang. Semua keluarga inti akan menginap di rumah Rendra malam itu.


Zahra dan Rendra segera menyambut kedatangan mereka dan mencium punggung tangan mereka.


"Udah finishing?" tanya Abah Husein sambil mengedarkan pandangannya menatap dekor yang sangat mewah itu.


"Sudah 90%."


"Zahra, nanti malam tidur sama umi ya. Sampai besok pagi kamu jangan bertemu Rendra dulu."


Seketika Rendra menatap Umi Laila. "Kenapa Umi?" Semalam tidak tidur dengan Zahra pasti rasanya sangat hambar.


"Ya meskipun kalian sudah hampir dua bulan menikah tapi tetap saja, biar ada rasa kangennya sedikit meskipun hanya terpisah semalam. Ayo Zahra, kamu cepat istirahat sama umi karena pasti besok kamu akan sangat capek." Umi Laila menggandeng tangan Zahra dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Rendra hanya menatap kepergian Zahra bersama uminya, lalu dia tersenyum kecil.


Meskipun hanya semalam, pasti aku akan sangat merindukanmu.


...***...


Zahra kini menatap dirinya di cermin. Dia terlihat berbeda. Dia sangat cantik dengan gaun khas eropa yang mekar dan panjang menyapu lantai. Tentu saja berwarna putih yang senada dengan hijabnya. Di atas hijabnya ada sebuah mahkota, dia benar-benar seperti seorang ratu dalam sehari.


"Cantik sekali." Umi Laila datang dan memeluk Zahra dari samping.


Zahra hanya tersenyum. Dadanya kini berdebar tak karuan. Semoga saja semua acara berjalan dengan lancar hingga selesai.


"Ayo, Rendra sudah siap sedari tadi. Dia sangat tidak sabar melihat kamu." ajak Umi Laila sambil menggandeng lengan Zahra.


Zahra melangkahkan kakinya keluar dari kamar, ada umi dan Syifa di sisinya. Langkah mereka terhenti saat berpapasan dengan Rendra di ruang tengah.


Bagai tersihir, Rendra menatap Zahra tanpa berkedip. Dia terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Zahra. Kemudian dia berjalan perlahan lalu meraih tangan Zahra.


"Cantik." gumamnya pelan yang membuat Zahra tersipu malu.


Mereka kini berjalan beriringan dengan bergandengan mesra. Para tamu undangan sudah memenuhi halaman dan berjajar menyambut kedatangan sepasang pengantin yang terlihat sangat sempurna itu.


Dengan iringan biola yang sangat romantis dan suara pembawa acara yang semakin menyempurnakan acara itu, mereka disambut dengan meriah oleh kerabat, sahabat, karyawan, dan tamu undangan lainnya.


Mereka berjalan di atas karpet merah yang sudah dipenuhi dengan asap. Di belakang mereka ada Abah Husein dan Umi Laila, lalu ada Pak Marko dan Alea, di belakangnya ada Kevin yang sedang bersama anak-anaknya.


"Selamat ya," Dokter Hendra yang pertama kali memberi selamat pada mereka berdua. Dia bersalaman dengan Rendra dan memeluknya sesaat.


"Iya, thanks bro."


"Aku sekalian mau pamit. Aku mau kuliah diluar negeri lagi. Mau ambil spesialis lagi."


"Gelar Dokter kamu masih kurang aja! Hebat!" Rendra menjotos lengan Dokter Hendra sesaat.


"Kan kamu udah pensiun jadi mafia, udah gak main tembak lagi. Jadi kalau butuh Dokter pribadi buat Zahra, nanti aku rekomendasikan teman aku. Dia seorang muslimah juga dan sangat sabar. Biar kondisi Zahra terus terpantau setidaknya sampai dua tahun."


"Oke, oke. Baik-baik di sana. Moga cepat dapat jodoh."


"Iya, amin." Kemudian Dokter Hendra berlalu. Dia tersenyum pada Zahra. "Zahra selamat ya."


"Iya, terima kasih Dokter Hendra."


Sedangkan tak jauh dari Dokter Hendra. Ada yang diam-diam mengikutinya. Dia kini menatap nanar punggung Dokter Hendra yang kian menjauh.


"Dokter Hendra mau pergi?" Bella segera menyusul Dokter Hendra tanpa bersalaman dengan Rendra maupun Zahra terlebih dahulu.


Bella semakin melangkah cepat karena sepertinya Dokter Hendra akan segera keluar dari acara itu. "Dokter Hendra," panggil Bella.


Dokter Hendra menghentikan langkahnya. Dia memutar tubuhnya dan menatap Bella. "Bella."


"Dokter Hendra mau pergi?" tanya Bella. Dia kini berjalan mendekati Dokter Hendra.


"Iya."


"Lama?"


"Mungkin dua tahun."


Kemudian tidak ada lagi percakapan di antara mereka.


Dokter Hendra membuka tasnya lalu mengambil gantungan kunci yang menggantung di kunci mobilnya. Dia melepas gantungan itu dan memberikan gantungan kunci yang berbentuk matahari itu untuk Bella.


"Aku gak bawa apa-apa buat kamu. Ini aja buat kamu. Gantungan kunci matahari. Kamu harus bisa menjadi matahari yang bersinar dan dibutuhkan banyak orang. Belajar yang rajin, agar kamu bisa sukses di kemudian hari."


Bella hanya terperanga menatap dan mendengar Dokter Hendra. Bibirnya terasa kaku tak bisa berkata apapun. Bahkan untuk sekadar mengucap terima kasih.


Kemudian Dokter Hendra tersenyum dan membalikkan badannya. Lalu dia pergi meninggalkan Bella yang masih speechless.


"Dokter Hendra, terima kasih."


Dokter Hendra hanya melambaikan tangannya dan berjalan menuju mobilnya.


Bella masih tersenyum menatap gantungan kunci berbentuk matahari itu, lalu dia menggenggam dan mencium dalam aroma parfum Dokter Hendra yang masih tersisa di gantungan kunci itu.


Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi...


💕💕💕


.


.


Like dan komen ya...